36 Desa Tak Pernah Dapat Jatah Pembangunan

PUKUL GONG : Ketua DPRD Sintang Jeffray Edward didampingi Bupati Sintang Jarot Winarno, memukul gong sebagai tanda dimulainya Raker desa.
banner 468x60

SINTANG, insidepontianak.com — Pembagian alokasi APBD Sintang untuk pembangunan, selama ini masih belum merata. Bahkan, ada 36 desa di daerah ini, yang selama lima tahun tidak pernah mendapatkan jatah pembangunan dari APBD. Di tahun 2018, di bawah pimpinan Bupati Sintang dan Wakil, Jarot Winarno dan Askiman, Pemkab Sintang berjanji akan memprioritaskan pembangunan di 36 desa tersebut.

“Hasil Musrenbang Kabupaten Sintang 2017, menyepakati pembangunan di 2018 masih fokus pada infrastruktur jalan,” kata Kepala Bappeda Sintang, Kartiyus.

Muat Lebih

Dia yang ditemui insidepontianak usai menghadiri rapat kerja kades mengatakan, pembangunan Kabupaten Sintang di 2018 masih difokuskan membangun dari daerah pinggiran. “Pembangunan di desa-desa masih menjadi prioritas pemerintah,” katanya.

Apalagi hingga sekarang, lanjut Kartiyus, ada 36 desa di 10 kecamatan yang sudah 5 tahun lamanya tidak pernah mendapatkan dana alokasi pembangunan dari APBD Sintang. “Sudah lama 36 desa ini tidak pernah kebagian dana APBD. Desa-desa ini yang jadi prioritas kami untuk dibangun di 2018,” katanya.

Sedangkan yang lainnya, kata Kartiyus, pembangunan akan diprioritaskan sesuai dengan RPJMD Bupati. “Kami forum SKDP bersama camat juga sudah menyepakati program-program pembangunan yang menjadi prioritas masing-masing SKPD di 2018,” bebernya.

Pemkab Sintang juga akan terus mendorong pembangunan infrastruktur yang menjadi kewajiban pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. “Pembangunan yang menjadi kewajiban pemprov akan kami usulkan ke pemprov. Begitu juga pembangunan yang menjadi kewajiban Pempus, tetap kami usulkan di Murenbang Nasional,” ujarnya.

Bupati Sintang, Jarot Winarno menegaskan Kabupaten Sintang tidak akan maju jika pembangunan tidak dilakukan dari pinggiran. Untuk itu, di 2018 nanti, akses-akses jalan di daerah pinggiran akan dibangun.

Jarot pun mengajak semua pihak menyatukan persepsi tentang berbagai masalah pembangunan di Kabupaten Sintang. Kata dia, berbagai masalah yang harus segera diselesaikan diantaranya, angkat kemiskinan Kabupaten Sintang yang masih sekitar 36 ribu jiwa.

“Ketahanan pangan kita rendah, karena produktivitas padi hanya mencapai 2, 67 ton perhektar. Rata-rata lama sekolah penduduk baru 6,7 tahun. Persentase rumah tangga pengguna air bersih baru 5,24 persen. Sedangkan rumah yang sudah diterangi listrik hanya 58,2 persen,” bebernya.

Sampai saat ini, kata Jarot, masalah paling serius di bidang infrastrukur jalan dan jembatan. Sekitar 60 persen jalan kondisinya rusak. 74 persen permukaan jalan adalah tanah dan 50 persen jembatan tidak fungsional. Sehingga sangat menggangu mobilitas orang dan barang. (IP-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *