Tiap Desa di Sintang Punya Potensi yang Harus Dikembangkan

Bupati Sintang Jarot Winarno (Ist)
banner 468x60

SINTANG, insidepontianak.com — Setiap desa di Kabupaten Sintang memiliki potensi ekonomi untuk berkembang dan maju. Potensi-potensi di desa itulah yang harus dikembangkan oleh Kades untuk kemakmuran masyarakatnya.

Dari 400 ribu penduduk Kabupaten Sintan, 70 persennya berada di desa. Jika pembangunan di desa optimal, maka 70 persen masyarakat Kabupaten Sintang sudah merasakan pembangunan. “Setiap desa di Kabupaten Sintang memiliki potensi untuk berkembang dan maju,” tegas Bupati Sintang, Jarot Winarno, saat membuka Raker Kades beberapa waktu lalu.

Muat Lebih

Kata dia, saat ini, masyarakat desa masih bergantung pada komoditas karet dan sawit. Jika harga karet dan sawit jatuh, maka masyarakat di desa semakin susah. Ketergantungan ekonomi pada satu komoditas, sangatlah tidak baik. Pemerintah desa diminta untuk bisa mengembangkan potensi di desanya. “Saya baru saja menerima perwakilan enam desa dari Kayan Hilir. Enam desa ini berencana membangun asosiasi BUMDes dengan produk unggulannya cabe, lada dan kayu gaharu,” ungkapnya.

Kata Jarot, jika informasinya benar, bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan memberikan izin pengelolaan kayu untuk kebutuhan lokal, ini tentu bisa menguntungkan desa, dengan mendirikan BUMDes.

Begitu juga dengan enam desa di Kecamatan Sepauk. Desa-desa tersebut sudah dibimbing oleh lembaga dari Jakarta untuk membuat asosiasi BUMDes, dengan produk unggulannya sawit. “Saya maunya kalau bisa buat kilang mini CPO. Lebih bagus lagi, buat pabrik mini minyak goreng,” harapnya.

Potensi-potensi di desa sekitar kaki Bukit Saran juga besar. Jarot mengatakan desa-desa di sekitar Bukit Saran seperti Riam Batu, bisa membuat BUMDes dengan produk unggulannya air dalam kemasan. Air dari Bukit Saran bisa dikelola menjadi air kemasan. “Nanti kita berinama Air Bukit Saran. Kalau selama ini kita mengunakan air kemasan AP dari Pinoh, secara ekonomi Sintang sudah dijajah Melawi,” ujarnya.

Kata Jarot, jika Air Bukit Saran sudah jadi, pihaknya berjanji akan membuat peraturan bupati agar setiap kegiatan pemerintah menggunakan air kemasan Bukit Saran. “Pasti cepat majunya. Masak kita dijajah Melawi. Inilah potensi yang ada di desa,” bebernya.

Jarot mengingatkan, jika setiap desa memiliki BUMDes, maka keuntungan dari BUMDes bisa digunakan oleh desa untuk membangun masyarakat di desa itu. (IP-03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *