Innalilahi, Sultan Pontianak Syarif Abubakar Alkadrie Wafat

Sultan Pontianak Saat Dirawat di RS Soedarso (Ist)
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan Pontianak ke VIII ), meninggal dunia pada Jumat (31/3/2017), sekitar pukul 04.20 WIB di RS Soedarso Pontianak.

Dilansir dari Liputan6.com, Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bergelar Pangeran Mas Perdana Agung. Semenjak wafatnya Sultan Syarif Hamid II Alkadrie, 30 Maret 1978, Kesultanan Pontianak tak memiliki sultan. Anak kandung Sultan Hamid II, Syarif Yusuf Alkadrie sebagai putra mahkota menetap di Belanda.

Muat Lebih

Ahli waris Kesultanan Pontianak dari Dinasti Alkadrie menyepakati mengangkat salah seorang kerabat mereka bernama Syarif Abubakar Alkadrie. Jauh sebelumnya, tepatnya 29 Januari 2001, Syarifah Khadijah Alkadrie bergelar Ratu Perbu Wijaya mengukuhkan Kerabat Muda Istana Kadriah Kesultanan Pontianak. Kerabat Muda ini bertujuan menjaga segala tradisi dan nilai budaya yang positif dari leluhur mereka, termasuk menghidupkan atau melestarikannya.

Upacara penobatan berlangsung di Istana Kadriah yang terletak di Kampung Dalam, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, atau satu kilometer dari pusat Kota Pontianak. Selain keluarga dan kerabat Kesultanan Pontianak, penobatan Sultan Syarif Abubakar Alkadrie dihadiri pula oleh sejumlah utusan dari berbagai keraton di antara. Mereka mengenakan pakaian kebesaran istana masing masing.

Awal mula Kesultanan Pontianak memang tak terlepas dari sejarah Kota Pontianak. Pada tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan pada 23 Oktober 1771, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga sungai, Sungai Landak, Kapuas Kecil, dan Kapuas.

Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Dia memerintah hingga tahun 1808. Berikutnya, Syarif Kasim Alkadrie (1808-1819), Syarif Osman Alkadrie (1819-1855), Syarif Hamid Alkadrie (1855-1872), Syarif Yusuf Alkadrie (1872-1895), Syarif Muhammad Alkadrie (1895-1944), Syarif Thaha Alkadrie (1944-1945), dan Syarif Hamid II Alkadrie (1945-1950), demikian Liputan6. (IP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *