Petani Plasma PT KPC Rela ke Pontianak Bantah Investigasi Link-AR Borneo

Bisnis/Andi Rambe
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Acara ekspose media digagas LSM Lingkar Borneo, menuding PT KPC menyerobot tanah warga dan mencemari lingkungan, memantik kekecewaan petani plasma Nanga Suhaid, Kapuas Hulu. Para petani ini rela datang dari Nanga Suhaid ke Pontianak, demi menyampaikan informasi yang berimbang, bagaimana kondisi ekonomi petani pasca perusahaan masuk ke desa mereka.

“Kami dari Kapuas Hulu rela datang ke Pontianak atas inisiatif sendiri. Kami tidak ingin, masyarakat yang sudah tenang bekerja dibikin gaduh dari acara ini,” kata Arman, petani plasma Nanga Suhaid, Senin (3/4/2017).

Muat Lebih

Pernyataan Arman tersebut disampaikan secara mendadak, pada saat dirinya bersama sejumlah petani lainnya menyambangi salah satu ruang pertemuan, di mana saat itu berlangsung acara ekspose Lingkar Borneo di Kafe Oz, A Yani bersama jurnalis di Pontianak. Di ruangan itu, terjadi perdebatan antara petani plasma dan warga yang kontra sawit.

Pada saat itu, Link-AR Borneo pimpinan Agus Tomo, sedang memaparkan, bagaimana dampak dari investasi sawit PT KPC di Nanga Suhaid, Kapuas Hulu. Perkebunan anak perusahaan Sinarmas Group ini dituding menyebabkan sungai warga tercemar.
Indikasinya, sejak pembukaan hutan dengan penanaman sawit di bantaran sungai, limbah pupuk dari perkebunan terbawa air, kemudian masuk ke sungai. Asumsi ini, menyebabkan air tidak dapat dikonsumsi secara baik oleh masyarakat.

“Dulu tahun 1964 di Suhaid pernah banjir besar. Kemudian banjir lagi pada 2010 pada rentang waktu 36 tahun. Namun, pada 2016 justru Suhaid kembali banjir. Padahal waktunya dekat sekali,” kata Tomo.

Suhardi, nelayan Nanga Suhaid, hari itu dihadirkan Lingkar Borneo dalam pertemuan mengatakan, masuknya sawit, dirinya kesulitan mendapatkan ikan. Berbeda pada pada saat sawit belum masuk ke daerahnya.

“Tangkapan ikan di sungai bisa melimpah,” kata Suhardi.

Bahkan, arwana milik Amir, nelayan lokal, akibat limbah yang mencemari sungai, menyebabkan sekitar 100 ekor arwananya mati seketika. Dalam kasus lain, rekan Suhardi, Alamsyah justru menuding, PT KPC dianggap telah merampas tanah miliknya dan masuk dipaksa bergabung menjadi petani plasma.

“Lahan kami tiba-tiba saja terkena dampak land clearing oleh perusahaan,” kata Alamsyah.

Hanya saja dalam pertemuan tersebut, sejumlah tudingan yang mengarah pada PT KCP dibantah ramai-ramai oleh petani plasma. Suhaimi, Ketua Koperasi Perkebunan Sawit, Mitra Cipta Sejahtera menyebutkan, sebanyak 860 petani plasma sudah tergabung.

Menurutnya, dalam revitaliasi perkebunan di PT KPC tidak ada kejanggalan. Semua disampaikan secara transparan oleh perusahaan. Kemudian, pembangunan kebun plasma juga dibiayai dengan kredit.

“Jadi, tudingan perusahaan menyerobot lahan warga itu tidak benar,” katanya.

Suhaimi justru mengkritisi sikap Alamsyah yang menolak perusahaan. “Kami setiap Selasa selalu melakukan pertemuan sesama petani. Kami sering mengundang Bapak-bapak yang diundang Lingkar Borneo. Mereka selalu tidak datang,” kata Suhaimi.

Ia pun menyesalkan, justru permasalahan yang mereka hadapi disampaikan kepada pihak lain.(IP-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *