Arman Tuding Lingkar Borneo Rekayasa Temuan Sawit Cemari Sungai

Agus Tomo, dari Lingkar Borneo saat melerai dua kubu yang berdebat antara pro dan kontra sawit, di Kafe Oz, Pontianak
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Petani Plasma PT KPC menuding LSM Lingkar Borneo Agus Tomo melakukan rekayasa temuan, yang menyebutkan kebun sawit PT KPC telah mencemari sungai di Nanga Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.
Sebab, sebelum adanya PT KPC berdiri, pihak perusahaan terlebih dulu melakukan kajian tentang kualitas air. Seperti melakukan pengujian di laboratorium terkait ada tidaknya pencemaran sungai.

“Buktinya, sudah sepuluh tahun saya di sini tidak ada yang namanya pencemaran air sungai,”kata Arman.
Arman juga menyayangkan sejumlah warga yang dibawa Lingkar Borneo ke Pontianak mengaku sebagai nelayan lokal yang mengalami dampak pencemaran lingkungan dari limbah sawit. Menurut Arman, mereka yang dibawa ke Pontianak tersebut bukanlah murni nelayan.

“Itu mereka yang menuding sungai tercemar bukan nelayan. Mereka itu pengusaha besar ikan arwana yang sudah kaya raya,” ungkap Arman.

Arman pun menekankan, semenjak hadirnya perusahaan di daerah mereka, ekonomi masyarakat sekitar meningkat. Sebab PT KCP membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Sebelumnya banyak masyarakatnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Dampak dari hidupnya ekonomi masyarakat lokal dari hasil perkebunan, beberapa kecamatan sekarang mulai membuka diri agar lahan yang dimiliki dapat digunakan untuk ditanami sawit.

Pada Senin (3/4/2017), LSM Lingkar Borneo mengundang awak media di Kota Pontianak. Agus Tomo, pendiri Lingkar Borneo hendak memaparkan hasil temuan di Nanga Suhaid, Kaouas Hulu, di mana PT KPC, anak perusahaan Sinarmas Grup dianggap mencemari sungai akibat limbah pupuk dari perkebunan kemudian mengalir ke sungai.

Dari temuan tersebut, banyak nelayan lokal sudah kesulitan mendapatkan ikan dalam jumlah banyak. Bahkan petani arwana ikut terkena dampak. Para petani bahkan ada yang merugi ratusan juta, gara-gara100 ekor arwana milik petani mati.

Bukan masalah pencemaran air saja yang dibahas. Tomo juga memaparkan bagaimana perusahaan dituding telah menyerobot lahan milik masyarakat yang tidak mau bergabung dalam petani plasma.

“Kita bukannya anti investasi sawit. Kita hanya ingin bagaimana hadirnya sawit tidak merusak lingkungan,”beber Tomo, saat ekspose temuannya kepada jurnalis. (IP-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *