Ketua KPK Pantau Dakwaan JPU Ringankan Zulfadhli

banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ketua KPK RI Agus Rahardjo akan memonitor proses Peradilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) kasus Bantuan Sosial (Bansos) Pemrpov Kalbar dengan terdakwa Zulfadhli. Terdakwa dari anggota DPR dan juga mantan Ketua DPRD Kalbar, saat ini sedang memasuki agenda vonis dari pengadilan Tipikor Pontianak.

“Saya belum tahu kasus itu. Tapi nanti coba kita monitor,” kata Agus Rahardjo, usai memberikan materi seminar bertajuk Kritik dan Solusi Terhadap Pelayanan Pendidikan, Kesehatan, Kebijakan Stabilitas dan Kebutuhan Pokok, dan Proses Penegakan Hukum oleh Pemerintah Daerah di Hotel Mercure Ahmad Yani I Pontianak, Selasa (4/4/2017).

Muat Lebih

Dalam kesempatan itu, Agus mengajak masyarakat Kalbar, harus ikut bersama memberantas korupsi di daerah. Alasannya, penindakan hukum bisa dilakukan melalui laporan masyarakat dengan dilengkapi bukti yang kuat.

“Karena kita belum punya cabang di daerah, maka penindakan hukum Tipikor dilakukan berdasarkan informasi masyarakat daerah. Misalkan, Anda melapor ke KPK dengan bukti yang lengkap, maka akan kita proses,” jelasnya.

Artinya, di sini peran serta masyarakat dalam menyampaikan laporan ke KPK, dengan dilengkapi bukti yang kuat sangat diperlukan, dalam melakukan pemberantasan korupsi di tingkat daerah.

Sebelumnya, pada Maret 2017, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Kalbar menuntut terdakwa Zulfadhli dengan hukuman satu tahun enam bulan (1,6 tahun) penjara terkait kasus yang menimpanya.

Tuntutan JPU tersebut dianggap terlalu ringan dan dianggap menciderai semangat pemberantasan korupsi. Karena dugaan korupsi oleh terdakwa ini dianggap cukup besar. Yakni mencapai Rp 20 miliar dengan modus meminjam uang untuk kepentingan pribadi. Nilai korupsi tersebut terbagi dua kasus, yakni korupsi dana Bansos KONI Kalbar Rp15,242 miliar, dan Bansos Fakultas Kedokteran Rp5 miliar.

Apalagi dalam persidangan dipimpin Hakim Ketua, Kusno kala itu terungkap, Nahrowi yang merupakan supir terdakwa Zulfadhli, mengaku pernah mengambil uang ke Setda Kalbar Rp500 juta pada 3 Maret 2006. Nahrowi juga pernah mengambil cek senilai Rp1 miliar. Uang tersebut diambil atas suruhan Zulfadhli.
“Saya cairkan di Bank Kalbar kemudian diserahkan kepada Pak Zulfadhli,” kata Nahrowi dalam persidangan kala itu. (IP-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *