BNN Tangkap Gembong Narkoba Perbatasan

Foto Metro
banner 468x60

SANGGAU, insidepontianak.com – Warga Gang Damai, Kecamatan Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dibuat geger. Apa sebab? Rupanya tim serbu Badan Nasional Narkotika (BNN) Pusat, menggerebek sebuah rumah di kawasan tersebut, Selasa (6/6/2017), sekitar pukul 17.50 WIB.

Tepatnya, beberapa menit saat umat muslim sedang berbuka puasa. Di rumah tersebut, puluhan petugas BNN langsung meringkus inisial YD.

Muat Lebih

“Waktu kami buka puasa, banyak warga berhamburan ke luar rumah. Di sana sudah ramai petugas, dan terlihat membawa YD ke dalam mobil,” kata Ilham, warga sekitar.

Usut-punya usut, YD diketahui gembong narkoba dan terindikasi memiliki  jaringan internasional. Menurut warga sekitar, YD sering keluar-masuk Malaysia. Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari BNN maupun Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar.

Berdasarkan informasi diterima insidepontianak.com, YD yang ditangkap petugas BNN, diduga pemilik 22 kilogram sabu yang diperoleh dari bandar di Malaysia.

Barang haram sebanyak itu masuk melalui PLBN Entikong. Sabu 22 kiloram tersebut, dipecah menjadi dua bagian.

“Informasinya memang begitu. YD itu membawa 11 kilogram sabu. Dan 11 kilogram lagi dibawa rekan yang lain,” tutur warga Entikong.

Rekan lain yang dimaksud adalah, Lim Lie Po alias Apoy (50), yang pada 30 Maret 2017 ditembak mati oleh petugas BNN. Apoy diketahui warga Jalan H Abbas I, Gang Kelantan 2, Kelurahan Melayu Darat.

Ia ditembak di depan terminal opelet Sungai Raya, sekitar pukul 23.00 WIB. Apoy diduga YD. Selain Apoy, BNN juga menangkap Wahyudi alias Tedung (29) dan Gusdiman alias Godeng alias Kakek (31). Mereka ditangkap karena kedapatan membawa sabu 11 kilogram.

Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Irjen Arman Depari, kala itu menyebutkan, modus yang dilakukan tersangka, yakni Tedung dan Gusdiman, yakni menyembunyikan sabu di dalam dinding pintu mobil. Di perbatasan, tersangka kemudian berganti mobil dan sabu dipindah ke koper.

“Sabu di simpan di dalam dinding-dinding mobil. Setelah dari perbatasan, ganti kendaraan, lalu barang bukti mereka pindah ke koper,” kata Arman.

Berdasarkan pengakuan, tersangka Gusdiman sudah delapan kali menyeludupkan sabu selama 2017. Sedangkan Wahyudi tiga kali.

“Semuanya dikendalikan oleh Apoy yang merupakan residivis dalam kasus serupa. Setiap kali menyeludupkan, masing-masing menerima Rp5 juta,” kata Arman.

Pada saat insidepontianak.com mencoba mengkonfirmasi perkembangan proses penangkapan YD, pihak BNNP Kalbar belum bisa dikonfirmasi, baik melalui telepon maupun pesan singkat. (IP-02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *