Putusan MK Menegaskan Penetapan Capres Terpilih

Foto ANTARA

JAKARTA, insidepontianak.com – Pemilihan umum presiden dan wakil presiden (Pilpres) telah selesai dilaksanakan. Masyarakat kini menunggu Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil rekapitulasi dan menetapkan pasangan calon terpilih.

Namun kemudian muncul perdebatan di tengah masyarakat mengenai aturan penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih, setelah Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, dalam cuitannya menyatakan bahwa pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno merupakan pemenang dalam kontestasi politik ini, bila merujuk sistem pemilihan di Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Menanggapi perdebatan mengenai aturan tersebut, Direktur Pusat Pengkajian Pancasila dan Konstitusi (Puskapsi) Fakultas Hukum Universitas Jember Bayu Dwi Anggono, menilai bahwa aturan penetapan capres dan cawapres terpilih sudah sangat jelas.

Bayu menjelaskan aturan mengenai penetapan capres dan cawapres terpilih sudah diatur dalam Undang Undang Dasar 1945, UU Pemilu, hingga Peraturan KPU 5/2019.

“Sebenarnya aturan mengenai aturan capres cawapres itu sudah terang benderang, sehingga publik tidak perlu ragu,” ujar Bayu, Jumat (26/4/2019), seperti dilansir Antara.

Cuitan Fahri Hamzah tampaknya mengacu pada ketentuan Pasal 6A ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa syarat penetapan pasangan capres dan cawapres terpilih adalah, suara mayoritas ditambah persebaran pemilih paling sedikit 20 persen di lebih dari setengah provinsi di Indonesia

Kendati demikian pada Juli 2014 Mahkamah Konstitusi melalui putusannya telah memberi tafsir bahwa Pasal 6A ayat (3) UUD 1945, tidak berlaku bila hanya ada dua pasangan calon dalam kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden.

Aturan dalam Pasal 6A ayat (3) tersebut memang diberlakukan pada pemilu presiden 2004 dan pemilu presiden 2009, namun tidak dapat diberlakukan pada pemilu presiden 2014 karena pada waktu itu hanya ada dua pasangan calon yaitu Prabowo Subianto – Hatta Radjasa dan Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Sementara itu, situasi dan kondisi pada pemilu presiden 2019 sama persis dengan situasi dan kondisi pada pemilu presiden 2014, sehingga Pasal 6A ayat (3) UUD 1945 kembali tidak dapat diberlakukan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *