banner 468x60

Diplomasi Sawit dan Buruh Belum Sejalan

  • Bagikan
Foto IP

PONTIANAK, insidepontianak.com – Komisi Buruh Sawit (KBS) menganggap, Indonesia dan beberapa negara produsen sawit besar, kini sedang meradang. Alasannya, Uni-Eropa pada tahun 2018, mengeluarkan aturan yang melarang produk-produk minyak nabati yang berkontribusi pada deforestasi, memasuki Eropa dimulai dari tahun 2021.

“Keputusan ini diambil oleh parlemen Uni-Eropa, untuk mencapai tujuan mereka dalam pengurangan gas rumah kaca dan menghentikan pemanasan global,” kata KBS dalam rilisnya kepada insidepontianak.com.

Perkebunan kelapa sawit ditenggarai menjadi salah satu penyumbang utama deforestasi di negara-negara tropis, sehingga dianggap berkontribusi besar pada pemanasan global. Aturan Renewable Energy Directive (RED II) ini dianggap sebagai aturan diskriminatif yang menyudutkan industri sawit Indonesia.

Pemerintah Indonesia sejak tahun 2018, secara agresif melakuan diplomasi ke berbagai pihak yang berpengaruh. Bahkan pada awal 2019, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan, berencana menggugat Uni-Eropa ke WTO.

Sayangnya, dalam dokumen RED II, maupun dalam dokumen-dokumen diplomasi pemerintah Indonesia, tidak ada satu poin-pun yang menyinggung tentang tata kelola buruh kelapa sawit.

Dalam perspektif yang lebih luas, keenganan pemerintah memperbaiki kondisi buruh sawit Indonesia, dapat dilihat dari belum diratifikasinya Konvensi ILO No. 110 tahun 1958 tentang Perkebunan, dan Konvensi ILO No. 184 tahun 2001 tentang Kesehatan, Keselamatan Kerja di Perkebunan.

Strategi diplomasi Indonesia selalu menggunakan narasi Smallholders yang menurut utusan pemerintah Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan berhasil mengurangi kemiskinan secara signifikan di Indonesia.

“Namun, Pemerintah Indonesia menutup mata atas masalah-masalah perburuhan di perkebunan sawit. Buruh sawit tidak dianggap menjadi bagian strategis dari strategi diplomasi Indonesia,” tulis KBS.

Koalisi Buruh Sawit menilai pemerintah Indonesia meremehkan peran jutaan buruh sawit dalam rantai industri sawit. Padahal dalam simulasi studi yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor, peningkatan pada kesejahteraan Buruh Sawit berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Dan, secara multiplier berpengaruh pada perbaikan kualitas hidup manusia Indonesia,” katanya. (IP-01)

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: