banner 468x60

Dentuman Meriam Karbit Meriahkan Malam Lebaran di Tepian Kapuas Pontianak

  • Bagikan
Kota Pontianak
MERIAM KARBIT - Warga di sepanjang Sungai Kapuas di Pontianak, mengikuti festival meriam karbit dalam rangka menyambut malam Lebaran, Selasa (4/6/2019) malam. (Foto Insipepontianak.com)

PONTIANAK, Insidepontianak.com – Kota Pontianak identik dengan berbagai adat dan budaya Melayu. Misalnya saja menyambut malam Lebaran. Setelah 30 hari menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, masyarakat Pontianak berbondong-bondong menyaksikan sahut-sahutan meriam karbit.

Malam ini, Selasa (4/6/2019) tua-muda dari berbagai penjuru gang mulai memadati satu tempat tujuan. Ada yang membawa masing-masing pasangannya. Ada juga membawa sanak saudaranya. Wajah mereka ceria dan gembira, menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh mengontrol hawa nafsu, sejak matahari terbit hingga terbenam.

Festival Meriam Karbit yang diadakan di titik pusat festival tepian Kapuas, tepatnya di gang Haji Mailamah, Jalan Adis Sucipto, Pontianak. Festival ini, seolah bukan hanya sekedar seremoni perayaan malam Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah. Tapi juga menjadi ajang silaturahmi setiap insan yang jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing.

Mereka saling bersalaman satu sama lain, kemudian dilanjutkan dengan pelukan silaturahmi sesama muhrim mereka. Atau, hanya sekedar bercakap-cakap, bertukar cerita aktivitas mereka.

Di lain sisi, berbagai Forkopimda, mulai dari Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, Walikota Pontianak Edi Kamtono, Kepala Kepolisian Daerah Kalbar Irjen Pol Didi Haryono, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Herman Asaribab dan Forkopimda lainnya berdatangan, disambut meriah oleh masyarakat dan panitia penyelenggara.

Mereka dipersilakan duduk di tempat yang telah disediakan. Di depan mereka telah tersusun rapi lima meriam karbit raksasa, dengan berbagai variasi ukuran. Mulai berdiameter 50 sentimeter hingga mencapai satu meter, dengan panjang mencapai lima meter. Corak-corak batik dengan lilitan kain warna kuning di ujung meriam menambah khasanah kebudayaan Melayu.

“Kami mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pak Gubernur dan Walikota, karena telah mendukung kegiatan malam ini, terutama terkait anggaran,” ucap Ketua Forum Permainan Meriam Karbit Pontianak, Fajrin Udin.

Festival meriam karbit ini telah lama disiapkan oleh panitia. Apalagi memandang festival yang diangkat dari permainan rakyat ini merupakan agenda rutin yang selalu diselenggarakan acapkali menyambut Lebaran.

Kata dia, ke depannya sebisa mungkin festival akan diselenggarakan dengan semeriah mungkin. “Dan tentunya kita menginginkan adanya partisipasi masyarakat lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, setelah dirinya dan Gubernur Kalbar menyampaikan sambutan, satu persatu Forkopimda ini diberi kesempatan secara bergantian menyulut meriam karbit. Dimulai dari Wali Kota Pontianak, dilanjutkan Kapolda Kalbar, Gubernur Kalbar, Pangdam XII/Tanjungpura.

Fajrin cerita, untuk biaya pembuatan satu buah meriam setidaknya menghabiskan sebesar Rp7 juta. Itu belum termasuk dengan biaya untuk memainkan meriam ini, yang mana sekali main dua drum karbit digunakan. Satu kilogram karbit seharga Rp35 ribu. “Artinya satu kelompok menghabiskan dana hingga Rp2 juta,” ungkapnya.

Tahun 2019, sebanyak 29 kelompok ikut memeriahkan festival. Dengan jumlah meriam sebanyak 164 buah. Sementara itu, masih ada delapan kelompok yang tidak ikut serta, dengan total 48 meriam. Peserta festival tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya.

Alasan ketidak ikutsertaan kelompok ini jelas, selain karena keterbatasan biaya, syarat ikut festival juga menentukan, yang mana dalam satu kelompok minimal memiliki jumlah meriam sebanyak lima buah. Kurang dari itu, kelompok tidak bisa diikutsertakan. Mengenai bahan baku meriam mesti kayu balok, baik itu jenis Meranti atau apa pun.

Tapi sayangnya saat ini untuk mendapatkan bahan baku tersebut terbilang sulit. Fajrin berharap pemerintah daerah bisa memberikan rekomendasi untuk mendapatkan bahan baku balok.

“Jadi kami ingin menyampaikan kepada Gubenur, untuk bisa membantu rekan-rekan kami di kelompok dalam hal masalah bahan baku yang susah kita dapatkan,” tegasnya.

Permasalahan meriam karbit bukan hanya di bahan baku. Promosi ke luar dikenal khalayak ramai juga menjadi kendala. Selama ini, festival hanya digelar begitu saja. Daya promosi tidak diperkuat, padahal hal tersebut menjadi prioritas jika ingin mendapatkan respon baik orang ramai, terutama masuk dalam kalender wisata kota dan provinsi di Kementerian Pariwisata. (IP01)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: