banner 468x60

Paolus Hadi: Tujuh Pagelaran Budaya Masuk Agenda Tahunan Pemkab Sanggau

  • Bagikan
Gawai Dayak
GAWAI - Makan Berami sudah menjadi tradisi di Sanggau dan paling berkesan saat Gawai Nosu Minu Podi. (Dok. PH)

SANGGAU, insidepontianak.com – Bupati Sanggau Paolus Hadi (PH) menyampaikan, ada tujuh pagelaran kebudayaan yang masuk dalam agenda Pemkab Sanggau setiap tahunnya.

PH menyebutkan, tujuh pagelaran budaya itu, pertama, gawai Dayak tingkat Kabupaten Sanggau di Rumah Betang Raya Dori’ Mpulor. Kedua, suku Melayu ada Festival Budaya Paradje’ Pasaka Negeri di Keraton Surya Negara Sanggau. Ketiga, Lempar Ketupat dan Mandi Bedel di Keraton Paku Negara Tayan. Keempat, suku Jawa ada Malam Satu Suro. Kelima, Tionghoa ada Cap Go Meh. Keenam, Meungkuet Kadedeuh Baraya Sunda untuk Paguyuban Pasundan. Tujuh, suku Padang dengan adanya Malam Badendang.

“Kegiatan adat dan budaya tersebut, sebagai upaya mewujudkan salah satu misi Pemkab Sanggau yang tertuang dalam seven brand images. Yaitu, masyarakat berbudaya dan beriman,” katanya, saat menutup Gawai Dayak Sub Suku Paus di Desa Kenaman, Kecamatan Sekayam, Selasa (11/6/2019) malam.

Pada kesempatan itu, ia juga mengucapkan selamat atas berdirinya rumah adat Dayak Sub Suku Paus di Desa Kenaman.

“Rumah Adat Dayak Sub Suku Paus ini sebagai simbol bahwa, kalian sudah memilikinya sebagai masyarakat adat Dayak. Kita harus tetap menjaga dan merawatnya, serta pergunakanlah rumah adat ini dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Janciang mengatakan, pada malam penutupan gawai Dayak Sub Suku Paus bukan hanya dihadiri suku Dayak, tetapi berbagai suku khususnya yang ada di Desa Kenaman, antara lain Melayu, Batak, Jawa dan Tionghoa.

“Mereka berpartisipasi, menyaksikan dan menyukseskan malam penutupan gawai ini,” katanya.

Hal tersebut membuktikan, khususnya di Desa Kenaman yang banyak di tempati berbagai suku, tetap selalu hidup berdampingan dengan rukun, solid, saling menghargai, menjaga keamanan dan tentram,” terangnya.

Lebih lanjut, Sekcam Sekayam Yulius Eka Suhendra mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya mewujudkan masyarakat yang bangga atas adat istiadatnya, dan terjalinnya kerukunan antar umat beragama.

Ia mengajak selaku masyarakat adat untuk terus melestarikan nilai-nilai adat dan budaya yang dimiliki. “Agar kedepan bisa terus dikenal masyarakat luas dan dilestarikan para generesi muda, sehingga pengaruh-pengaruh negatif bisa terhindar,” tutupnya. (IP-01)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: