banner 468x60

Ekspedisi Poso Temukan Bukti Pegunungan Pompangeo Terangkat dari Lautan

  • Bagikan
Gempa Poso
EKSPEDISI POSO - Tim Ekspedisi Poso II, meneliti bebatuan di sekitar wilayah Poso. Tim Ekspedisi Poso II terdiri dari para ahli di bidang geologi, arkeologi, biologi, dan antropologi, termasuk tim ahli ketahanan bencana. (Foto Tim Ekspedisi Poso)

POSO, insidepontianak.com – Tim Ekspedisi Poso menemukan bukti dan sejarah geologi, dan ancaman di Danau Poso. Bukti itu menunjukkan bahwa, Pegunungan Pompangeo terangkat dari laut dan menjadi daratan.

Hasil itu merupakan temuan baru dari Tim Ekspedisi Poso yang baru saja melaksanakan perjalanan Ekspedisi Poso tahap kedua. Ekspedisi kedua menyusuri wilayah Sesar Poso yang memanjang dari kota Poso ke beberapa desa sepanjang Sungai Poso, hingga ke sisi timur Danau Poso.

Ekspedisi kedua mulai 24 Juni hingga 1 Juli 2019. Ada beberapa temuan penting yang dihasilkan dalam perjalanan tersebut. Diantaranya, rekahan sesar di sepanjang perjalanan dari Desa Kuku dan Panjoka. Bahkan, jenis batuan yang menunjukkan terangkatnya laut dalam ke permukaan hingga menjadi daratan.

Abang Mansyursyah, tim ahli ekspedisi Poso dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia mengatakan, peristiwa ini terjadi jutaan tahun yang lalu, sekaligus menjadi bukti terangkatnya Pegunungan Pompangeo.

Ega, nama panggilan akrab tim ahli ini, bersama tim ahli geologi lainnya, juga menemukan sebuah bukti terbentuknya Pulau Sulawesi di wilayah Kelurahan Petirodongi.

“Tidak diragukan lagi, wilayah Kabupaten Poso bisa menjadi laboratorium peristiwa sejarah geologi terbentuknya Pulau Sulawesi”  ujar Reza Permadi, tim ahli ekspedisi Poso dari IAGI, juga ketua Geosaintis Muda Indonesia, dalam rilisnya, Jumat (5/7/2019).

Wilayah Sesar Poso yang kali ini menjadi wilayah perjalanan tim Ekspedisi Poso, mencatatkan beberapa peristiwa gempa bumi dalam satu tahun terakhir. Salah satunya berkekuatan  magnitudo 3 di kedalaman 21 Km, terjadi pada 5 April 2019, bersumber di Teluk Poso, 29 kilometer arah timur laur Poso. Selanjutnya, pada 22 Mei 2019, kembali terjadi gempa di lokasi yang sama dengan kekuatan lebih besar, magnitudo 3,6.

Cerita tentang terangkatnya daratan ini ditemukan juga oleh tim laulita melalui dongeng. Tim laulita menemukan cerita tentang Sinolidi di Dulumai yang memuat tentang peristiwa geologi . Wujudnya saat ini dalam bentuk batu yang dikenal dengan Watuyano.

Selain itu, terdapat cerita ayam ajaib di Desa Peura yang menceritakan terangkatnya daratan, setelah seorang laki-laki mengikuti seekor ayam yang ternyata adalah seorang putri dari khayangan.

“Cerita dan pengetahuan masyarakat tentang wilayahnya, menjadi bagian penting dalam mengarahkan wilayah-wilayah penelitian para tim ahli,” kata Lian.

Bonesompe di Kecamatan Poso Kota Utara misalnya, menjadi wilayah yang ditelusuri tim geologi, setelah mendapatkan cerita dari budayawan yang menyebutkan nama kelurahan ini dalam bahasa Poso, berarti pasir yang tersangkut atau tumpukan pasir. Rencananya, para geolog akan melihat struktur tanah di sini, dan memperkirakan berapa usia hamparan pasir di sana.

Demikian pula satu wilayah di Kelurahan Kawua yang disebut warga sebagai Tanah Kaumbu-umbu atau tanah yang bergoyang-goyang. Wilayah lainnya adalah Tana Runtuh, sebuah lokasi di Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota.

Di ruas Jalan Pulau Irian Jaya, ada sebuah titik, di mana setiap tahun terjadi penurunan tanah yang menyebabkan jalan di sini turun cukup dalam. Selain kedua wilayah ini tim ekspedisi juga akan mempelajari beberapa tempat lain. Seperti Kelurahan Lombugia, Tegal Rejo dan Madale, Watuawu, Ratoumbu, Pandiri, Tagolu, Panjoka Uelincu, Saojo, Tendea, Petirodongi, Tentena, Pamona, Sangele, Sawidago, Peura dan Dulumai.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: