Perdagangan Burung dan Satwa Dilindungi di Kalimantan Barat

Satwa Dilindungi
RANGKONG - Seekor burung rangkong atau enggang, salah satu satwa dilindungi, dipelihara warga di Simpang Mara, Tumbang Titi, Ketapang. Warga tidak tahu bahwa burung itu merupakan satu jenis satwa yang dilindungi. (Foto Insidepontianak.com)
banner 468x60

KALIMANTAN, insidepontianak.com – Perdagangan burung dan satwa dilindungi, masih marak di berbagai wilayah di Kalimantan Barat. Meskipun di beberapa tempat yang menjadi pintu masuk, aparat keamanan sudah meningkatkan pengawasan, pengiriman satwa masih bisa dilakukan dengan berbagai modus dan cara.

Dulu, orang masih menggunakan bandara sebagai tempat memasukkan burung dilindungi. Saat ini, pengawasan lalu lintas hewan dilindungi, khususnya burung semakin ketat. Sehingga keluar masuk hewan melalui bandara ini cenderung minim. Bahkan hewan dilindungi nyaris tidak ada.

Muat Lebih

Petugas Karantina dan Pertanian Kelas I Pontianak, di Bandara Supadio Pontianak, Eko menuturkan, jika orang ingin bawa burung dan satwa dilindungi, khususnya burung, maka harus melengkapi dokumen yang dikeluarkan BKSD. Setelah dapat dokumen dari BKSD, mengurus dokumen ke karantina, terutama pemeriksaan kesehatan burung yang dikirim.

Saat ini, pihak Karantina bekerja sama dengan Angkasa Pura II, melakukan pengecekan melalui X-Ray terhadap semua barang yang dibawa. Apa pun binatang yang dibawa atau diselundupkan, dapat segera diketahui.

Pengiriman hewan ketika tiba di Bandara Supadio, harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal. SKKH diperlukan jika pengiriman burung lebih dari dua ekor. Selanjutnya, dilakukan uji PCR (Polymerase Chain Reaction).

Pembuatan surat atau dokumen di BKSDA dan Karantina, cukup murah ongkosnya. Satu burung sekitar Rp75 ribu. Sedangkan di karantina hanya Rp6 ribu. Yang mahal ongkos pengiriman, terlebih saat ini harga cargo naik hingga 300 persen.

“Ongkos pengiriman, sekarang itu per dua ekor Rp550 ribu. Kalau dulu paling cuma Rp250 ribu saja,” katanya, akhir Maret lalu.

Warga Kalbar sering pula mengirim burung dilindungi ke luar Kalbar. Seperti burung cucak hijau (Chloropsis sonnerati) dan burung beo (Gracula religiosa). Namun, sering gagal mengirim karena tidak dilengkapi dokumen. Akhirnya, burung tersebut dijual kepada orang di sekitar bandara.

Menurutnya, burung tersebut sering dibawa orang bukan asal Kalbar. Kebetulan mereka dapat tugas di Kalbar, seperti di Entikong, Putussibau dan daerah lainnya.

Tokoh kicau mania Kalbar, Suparmin menuturkan, ketatnya pengawasan pengiriman burung melalui transportasi udara, membuat ‘pemain’ membuat jalur alternatif lain. Yakni, jalur pengiriman burung melalui tranportasi laut. Pengiriman seringkal melalui kapal barang dan penumpang.

“Pengiriman dengan pesawat sangat sulit sekali, karena sudah diawasi dengan ketat. Meskipun burung dilindungi itu hasil breeding (penangkaran). Namun, karena breeding-nya tidak memiliki izin, tetap tidak bisa,” ujar Suparmin.

Pengiriman melalui jalur laut, ada strategi khusus. Ada andil dari Anak Buah Kapal (ABK), sehingga burung bisa ke tangan pembeli. Harga burung relatif murah, berkisar Rp600 ribu sampai Rp1 juta. Biaya pengiriman juga murah. Cuma kesepakatan pengirim dengan ABK saja.

Berbagai jenis burung dilindungi yang dikirim melalui tranportasi laut, seperti burung kasturi, nuri, kakak tua, beo dan lainnya. Agar tak melalui pemeriksaan petugas karantina, burung diambil oleh penerima, sebelum kapal merapat ke pelabuhan. Biasanya penerima mengambil burung pesanan di Muara Jungkat atau di sekitaran perairan Jeruju, Pontianak.

“Biasanya mereka mengambil burung pesanan melalui Gang Teratai, Jeruju. Sebelum merapat, ABK menghubungi penerima dulu, supaya burung tidak sempat diperiksa oleh petugas,” katanya.

Gang Teratai 2 kurang dari tiga meter. Gang Teratai 2 persis berada di samping Hotel Jeruju Baru. Mulut gang berbatasan dengan pagar hotel dan bangunan toko. Gang ini hanya bisa dilalui sepeda motor. Ada deretan toko berjejer.

Di dua gang inilah, pembeli burung merapat kapal barang yang baru tiba di Pontianak, untuk mengambil burung yang dibawa dari Jawa.

Burung yang dikirim biasanya dari Solo dan Surabaya. Burung itu bukan hasil breeding, melainkan hasil tangkapan di beberapa daerah. Burung dilindungi lebih sulit ditangkarkan.

Dari Gang Teratai, burung biasanya dikirim langsung ke pembeli atau sekedar transit sebelum dibawa ke negara tetangga atau wilayah lain di Kalbar. Pengiriman burung biasanya menggunakan mobil pribadi atau bis antarkota.

Penggemar burung dari Banjarmasin, Kalsel, Noval membenarkan omongan Suparmin. Ada berbagai modus dilakukan, membawa burung dari satu pulau ke pulau lain. Orang yang bawa burung biasanya memilih menggunakan kapal penumpang atau barang.

Bila menggunakan kapal penumpang, biasanya burung dimasukkan ke botol air mineral ukuran sedang. Botol itu dilubang-lubangi supaya burung masih bisa bernafas. Setelah itu, burung dimasukkan ke tas pakaian atau barang.

“Sebelum masuk ke ruang pemeriksaan pelabuhan, burung dikasih minum Antimo (obat anti mabuk, red), agar mereka tertidur dan tidak bunyi saat dibawa masuk kapal,” katanya.

Setiba dari perjalanan laut, burung dibawa melalui angkutan darat, mobil umum atau pribadi. Sore itu, suasana terminal oplet dan bis Jalan Adisucipto, Sungai Raya, terlihat ramai. Lima bus besar dan satu bis ukuran kecil berjejer di parkiran terminal. Bis siap bergerak menuju Sintang.

Dari perbincangan dengan seorang kernet, bis antarkota tersebut juga bisa digunakan untuk pengiriman barang. Harga menitip barang berkisar Rp20-30 ribu. Harga itu untuk pengiriman tujuan Pontianak-Tayan-Batang Tarang atau Balai Karangan.

“Tergantung jarak saja Bang. Kalau jarak yang dekat-dekat kayak Pontianak-Tayan atau ke Batang Tarang, Balai Karangan, kurang lebih segitu harganya,” ujarnya.

Harga disesuaikan dengan besar barang. Jika dibungkus dengan ukuran lebih besar dari kardus mie instan, maka harga bisa dipastikan lebih dari itu.

“Udah biasa orang ngirim. Tapi risiko kayak mati gitu kami tak tanggung. Biasa orang ngirimkan pakai kotak, dibolong-bolongkan kotaknya untuk celah udara,” ungkapnya.

Bea Cukai Entikong enggan berkomentar banyak, terkait penyelundupan atau perdagangan hewan dilindungi, terutama burung melalui perbatasan Malaysia-Indonesia di Entikong, Kabupaten Sanggau.

Pasalnya, pihak Bea Cukai hanya diperbantukan oleh Karantina Hewan dan Pertanian  atau  Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) untuk penindakan, jika ditemukan lalu lintas atau keluar masuknya hewan melalui PLBN Entikong.

“Kita hanya menjalankan aturan yang ada pada Karantina dan BKSD,” Robert, Kasubsi Penegakan, Bea Cukai di Entikong.

Jika menemukan hewan tidak memiliki dokumen lengkap, baik yang keluar dari Indonesia atau masuk, Bea Cukai hanya melakukan penahanan, kemudian diserahkan ke Karantina. Jika menemukan hewan dilindungi, maka diserahkan ke BKSDA.

Robert mengatakan, pihaknya seringkali mendapatkan atau menemukan hewan dilindungi yang dibawa keluar atau masuk ke Indonesia. Seperti pada Maret 2019, Bea Cukai berhasil mengamankan ikan arwana asal Papua, dan burung murai batu yang dibawa dari Malaysia.

“Setelah kami temukan, kami tahan dan kami serahkan ke Karantina, karena kewenangan memang tidak ada pada kami,” kata dia.

Sementara itu, drh Syamwidartomo, Medik Veteriner Badan Karantina Pertanian menyatakan, Di PLBN Entikong dilakukan pengawasan secara bersama-sama antar instansi yang berwenang, dalam pengawasan keluar masuknya hewan.

Ia mengakui, terbatasnya SDM dan banyaknya jalur tikus, tidak jarang pula yang membawa hewan ini luput dari pantauan dan pengawasan. Mereka bawa barang ilegal, termasuk hewan, sudah sangat hapal dengan kondisi jalur tikus.

Maka dari itu, untuk mengintensifkan pengawasan pada jalur-jalur tikus, pihaknya bekerja sama dengan TNI, khususnya Pamtas dan Polri.

Pemerintah dan instansin terkait, selain melakukan memeriksa lalu lintas barang, mestinya juga melakukan sosialisasi terhadap warga, mengenai burung dilindungi. Ketidaktahuan warga, terkadang menjadi praktik perdagangan burung dilindungi.

Seperti dialami Titi, pemilik toko di Simpang Mara 1, Tumbang Titi di Kabupaten Ketapang. Titi mendapatkan seekor anak burung rangkong, jenis dilindungi dari sebuah pokok pohon besar di hutan. Burung itu dia pelihara hingga sekarang. Bahkan ada yang ingin membelinya seharga Rp 400 ribu. Tapi dia tidak mau jual karena anak bungsunya, suka dengan burung itu.

Saat ditanya, apakah dia tahu bahwa burung itu, merupakan satwa yang dilindungi dan tidak boleh dipelihara. Dia menggeleng sambil menjawab, “Tidak tahu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *