banner 468x60

Rudy Gunawan Sebut Arswendo Atmowiloto Sosok yang Memuliakan Orang

  • Bagikan
BULUNGAN - FX Rudy Gunawan (kaos hitam) bersama Arswendo Atmowiloto (berselendang), Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid (paling kiri), Roy Marten dan Moeldoko dalam suatu acara di Warung Apresiasi, Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. (Foto Wapres Bulungan)

JAKARTA, insidepontianak.com – Jurnalis senior dan sastrawan Indonesia, Arswendo Atmowiloto meninggal dunia, Jumat (19/7/2019). Dia meninggal karena kanker prostat. Itu jenis kanker yang menyerang organ laki-laki. Kematian Arswendo membuat banyak orang kaget.

Apalagi bagi relasi atau orang-orang yang pernah dekat dan menimba ilmu dengannya. Sosok Mas Wendo, demikian biasa mereka memanggil nama sang sastrawan ini, adalah sosok unik yang begitu melekat dalam diri mereka.

Ya, Arswendo Atmowiloto tak hanya jago menulis lewat karya-karyanya. Dia juga pintar memanusiakan orang-orang yang dekat dengannya. Setidaknya, hal itulah yang dialami FX Rudy Gunawan, jurnalis sekaligus sastrawan yang pernah dekat, belajar dan memiliki segudang karya novel tersebut.

Rudy, saat ini bekerja di Staf Kantor Presiden (KSP). Ketika mendengar dan melintas di Tol Cipali, 19 Juli 2019, pukul 20.33 WIB, Rudy menuliskan testimoninya:

“Setelah hoax tentang meninggalnya Arswendo Atmowiloto pada sekitar minggu pertama Juli 2019, kematian itu kemudian menjadi fakta pada Jumat (19/7/2019) sore sekitar pukul 17.50 WIB.

Saat berita duka itu mulai tersebar, banyak yang meragukan dan bertanya: hoax atau bukan ini? Itu mungkin sebuah keunikan yang menyertai kepergian mas Wendo, meskipun menyedihkan karena berita kematian pun kini bisa menjadi hoax.

Mas Wendo memang sastrawan dan jurnalis yang unik. Ini fakta sepanjang hidup yang terlihat pada karya-karyanya. Sepanjang hidupnya, ia juga sangat produktif dan termasuk salah satu sastrawan yang pernah merasakan, pahit-getirnya kehidupan di penjara era Orde Baru, saat tabloid Monitor yang dipimpinnya menggelar sebuah survei, yang hasil survei itu kemudian membawanya ke penjara.

Ia harus bertanggungjawab menanggung hukuman, untuk sesuatu yang merupakan pendapat publik.

Saya mengenal mas Wendo mulai dari sebagai pengagum, sampai menjadi murid, sekaligus kawan yang saling mendukung dalam berkarya. Ketika mas Wendo mendengar kabar, saya mendirikan majalah Diffa pada 2005, sebuah media tentang para penyandang disabilitas, ia segera menawarkan diri untuk membantu. Tentu ini sangat membanggakan dan membahagiakan saya, dan teman-teman majalah Diffa.

“Ayo kalian kutampilkan di tivi,” serunya.

Mas Wendo kemudian menampilkan kami, redaksi majalah Diffa di sebuah acara talkshow TVRI, bersama Slamet Rahardjo. Perhatian, bantuan dan dukungan sastrawan dan jurnalis besar itu, memicu semangat kawan-kawan Diffa, dan juga para penyandang disabilitas yang mengetahuinya. Mereka merasa terhormat. Bahkan tersanjung.

Sebelum majalah Diffa, mas Wendo juga mendukung saya dalam program advokasi bagi para petani tembakau yang saat itu resah, karena khawatir Undang-Undang Kesehatan akan menyulitkan industri rokok kretek, dan kemudian berimbas pada nasib mereka.

Kami mengusung tema Indonesia Berdikari dalam berbagai program advokasi tersebut, mulai dari kegiatan community building, rangkaian diskusi, penerbitan buku sampai pementasan monolog Roro Jonggrang yang menampilkan aktor Whani Darmawan. Selain mas Wendo juga ada Mohamad Sobary dalam program tersebut.

Setelah majalah Diffa akhirnya berhenti terbit pada tahun 2010, saya dan mas Wendo kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Kami tetap bertukar kabar, meski tidak terlampau sering dan sesekali ngopi, untuk ngobrol santai atau bertemu tidak sengaja dalam sebuah acara.

Selain itu, setiap kali mas Wendo muncul di acara televisi saat saya sedang tidak di rumah, biasanya, Utami, istri saya, langsung memberi tahu dan saya segera menyempatkan diri untuk menontonnya. Dalam acara-acara talkshow itu, mas Wendo selalu tampil apa adanya, dan pendapat-pendapatnya dilontarkan dengan lugas dan jernih.

Hidup memang penuh ketakterdugaan. Pada sekitar pertengahan tahun 2017, saya bertemu mas Wendo dalam sebuah acara yang digelar para seniman Bulungan di Warung Apresiasi (Blok M, Jakarta Selatan, red).

Hadir dalam acara itu selain mas Wendo, ada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Roy Marten dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dalam kesempatan itu, saya ngobrol panjang dengan mas Wendo, melepas kangen. Dan ternyata majalah Diffa masih ditanyakannya.

“Opo ora iso terbit meneh?” tanyanya. Saya hanya tertawa haru.

Dan, sungguh di luar dugaan, saat mas Wendo tampil berbicara di acara itu, ia tiba-tiba menceritakan tentang saya dan majalah Diffa.

“Namanya Rudy Gunawan. Rudy, mana Rudy? Ayo berdiri…”

Saya yang sedang ngobrol agak di belakang panggung langsung kaget, mendengar nama saya dipanggil dengan keras oleh banyak teman-teman. Spontan, canggung dan salah tingkah, saya kemudian maju dan berdiri di dekat panggung.

Saya mengangguk pada para narasumber. Moeldoko yang didampingi Deputi Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Eko Sulistyo langsung menatap saya. Eko saya lihat dan dengar langsung memberi tahu Moeldoko.

“Rudy tenaga ahli di KSP juga, Pak. Kedeputian saya,” bisik Eko.

Saat itu, Moeldoko tersenyum dan membalas anggukan hormat saya.

Mas Wendo berkata lagi dari atas panggung: “Ya, itu dia orang gilanya yang mau susah payah ngurus disabiltas….”

Saya sungguh tak mengira. Tersanjung dan merasa sangat terhormat, mendapat julukan “Orang Gila” dari mas Wendo. Saya benar-benar mau menangis rasanya. Peristiwa itu menjadi tonggak yang menancap sampai jauh ke jiwa saya. Peristiwa itu menggambarkan kebesaran, sekaligus kesederhanaan jiwa mas Wendo, sebagai seorang sastrawan besar yang kini telah pergi meninggalkan kita semua. Selamat jalan, mas Wendo. Beristirahatlah dengan damai bersama jiwa-jiwa besar lain di sisi Tuhan YME.

Selamat jalan Mas Wendo.”

Berikut ini adalah karya dan penghargaan yang pernah diterima Arswendo Atmowiloto semasa hidupnya:

1. Sleko (1971)
2. Ito (1973)
3. Lawan Jadi Kawan (1973)
4. Bayiku yang Pertama: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (1974)
5. Sang Pangeran (1975)
6. Sang Pemahat (1976)
7. Bayang-Bayang Baur (1976)
8. 2 x Cinta (1976)
9. The Circus (1977)
10. Semesta Merapi Merbabu (1977)
11. Surat dengan Sampul Putih (1979)
12. Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)
13. Dua Ibu (1981)
14. Saat-Saat (1981)
15. Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981)
16. Serangan Fajar: diangkat dari film yang memenangkan 6 piala Citra pada Festival Film Indonesia (1982)
17. Airlangga (1985)
18. Anak Ratapan Insan (1985)
19. Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel “Kawinnya Juminten” (1985)
20. Pengkhianatan G30S/PKI (1986)
21. Dukun Tanpa Kemenyan (1986)
22. Akar Asap Neraka (1986)
23. Garem Koki (1986)
24. Canting: sebuah roman keluarga (1986)
25. Indonesia from the Air (1986)
26. Telaah tentang Televisi (1986)
27. Lukisan Setangkai Mawar: 17 cerita pendek pengarang Aksara (1986)
28. Tembang Tanah Air (1989)
29. Menghitung Hari (1993)
30. Oskep (1994)
31. Abal-abal (1994)
32. Berserah itu Indah: kesaksian pribadi (1994)
33. Auk (1994)
34. Projo & Brojo (1994)
35. Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)
36. Khotbah di Penjara (1994)
37. Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)
38. Suksma Sejati (1994)
39. Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)
40. Kisah Para Ratib (1996)
41. Darah Nelayan (2001)
42. Dewa Mabuk (2001)
43. Kadir (2001)
44. Keluarga Bahagia (2001)
45. Keluarga Cemara 1
46. Keluarga Cemara 2 (2001)
47. Keluarga Cemara 3 (2001)
48. Pesta Jangkrik (2001)
49. Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)
50. Dusun Tantangan (2002)
51. Mencari Ayah Ibu (2002)
52. Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)
53. Senopati Pamungkas (1986/2003)
54. Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)

Penghargaan yang diperoleh:
1· Hadiah Zakse untuk esainya Buyung-Hok dalam Kreativitas Kompromi”(1972),
2· Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk drama Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama memperoleh (1972 dan 1973),
3· Hadiah Harapan dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk drama Sang Pangeran (1975),
4· Hadiah Harapan 1 Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-anak DKJ untuk drama Sang Pemahat” memperoleh (1976),
5· ” Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P&K“untuk karya Dua Ibu (1981),
6· “Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P&K untuk karya Keluarga Bahagia (1985),
7· “Hadiah Yayasan Buku”
8· Utama Departemen P&K Mendoblang (1987),
9· Hadiah Sastra ASEAN (1987)

(IP-01)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: