Bupati Jarot Deklarasikan Desa Kerta Sari Ketungau sebagai Desa ODF

  • Bagikan
ODF
ODF - Bupati Sintang, Jarot Winarno disambut penari cilik di halaman kantor Desa Kerta Sari, Kecamatan Ketungau Tengah, Sabtu (3/8/19) siang. (Foto Humpro Sintang)

SINTANG, insidepontianak.com – Bupati Sintang Jarot Winarno mendeklarasikan Desa Kerta Sari sebagai Desa ODF (Open Defecation Free) atau stop buang air besar sembarangan di halaman kantor Desa Kerta Sari, Kecamatan Ketungau Tengah, Sabtu (3/8/19) siang.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Sintang Jarot Winarno menilai deklarasi ODF ini penting, karena apa yang di lakukan saat ini akan di nikmati dampaknya beberapa tahun kedepan, terutama bagi anak-anak di Desa Kerta Sari.

“Terlebih pada tahun 2045 mendatang, tepat satu abad Indonesia merdeka, dimana ada visi besar Bangsa Indonesia yang disebut Indonesia Emas. Pada saat itu Indonesia diprediksi akan menjadi 3 besar bangsa terbesar di dunia,” katanya.

Anak-anak di wilayah itu, rata-rata masih SD dan SMP. Maka pada tahun 2045 mendatang, usia mereka ada yang 30-40 tahun.

“Jadi masa depan Kerta Sari, Kabupaten Sintang, Kalbar dan Indonesia ada di tangan anak-anak yang hadir pada hari ini. Nanti ada yang jadi pejabat, pengusaha dan lainya,” katanya, dalam rilisnya, Minggu (4/8/2019).

Jarot menekankan, mereka yang dijaga. Salah satunya melalui program ODF. Supaya mereka bisa melewati masa-masa penuh tantangan ini, agar siap mewarisi masa depan Desa Kerta Sari, Sintang bahkan Indonesia.

Untuk itu, Jarot memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Puskesmas Ketungau Tengah, Nusantara Sehat, para guru dan Kades, serta perangkat Desa Kerta Sari atas kegigihannya memperjuangan ODF untuk masyarakat di desa ini.

“Jadi program ini program konvergensi, kita keroyok sama-sama ke desa. Supaya anak-anak kita ini tidak menderita yang kita sebut dengan stunting atau katai, kalau bahasa kampung kita bah,”ujar Jarot.

Jarot pun menjelaskan penyebab stunting atau katai ini. Yang paling utama penyumbang stunting itu sekitar 42 persen adalah masalah kesehatan lingkungan. Misalnya, kalau buang air besar sembarangan, terus lalat itu menggrogoti kotoran itu. Lalu, lalat tersebut terbang ke mana-mana, kemudian menempel di makanan yang dimakan anak-anak.

Akhirnya, kuman itu menempel di usus anak-anak. Ada yang tak tahan lalu kena diare. Lalu, buang air besar terus. Kalau yang tahan pun ususnya menjadi kaku. Akibatnya, makanan yang dimakan itu, bukan diserap oleh usus karena usus kaku, sehingga masa pertumbuhan terhambat.

“Jadilah stunting atau katai,” tuturnya.

Jarot pun meminta dengan telah dideklarasikannya ODF, masyarakat Desa Kerta Sari semakin sehat dan maju. Kedepannya ini harus dipertahankan terus. Tidak hanya selesai dideklarasi saja.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: