Hanya 4 dari 34 Perkebunan di Sanggau Sumbang Masker Petugas Karhutla

Yohanes Ontot, Wakil Bupati Sanggau. (Foto Inside Pontianak)

SANGGAU, insidepontianak.com – Kepedulian 34 perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri di Kabupaten Sanggau, terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) patut dipertanyakan. Pasalnya, baru empat perusahaan yang sudah menunaikan janjinya, memberikan bantuan masker untuk petugas pemadam Karhutla.

Empat perusahaan tersebut, yaitu PT Bumi Tata Lestari (BTL), PT Agrina Sawit Persada (ASP), PT SISU 2 dan PT Agri Sentral Lestari. “Dari 34 perusahaan itu, baru 4 yang sudah memenuhi janjinya,” kata Ketua Satgas Penanganan Karhutla Kabupaten Sanggau, Yohanes Ontot kepada wartawan usai memimpin apel pagi di Posko Penanganan Darurat Bencana, Selasa (20/8/2019).

Bacaan Lainnya

Sesuai kesepakatan pada rakor penanggulangan Karhutla yang digelar pada 15 Agustus lalu, batas akhir penyerahan masker oleh perusahaan paling lambat pada 20 Agustus 2019.

“Nanti kita lihat hari ini, kita tagih terus, saya minta BPBD tagih terus,” tegas Ontot yang juga Wakil Bupati Sanggau ini.

Disinggung langkah yang akan diambil Satgas Karhutla terkait perusahaan yang tidak menepati janjinya? Ontot enggan berkomentar terlalu jauh. “Ya nanti kita lihatlah. Tapi saya yakin karena mereka sudah sepakat kemarin itu. Ya mudah-mudahan jangan janji tinggal janji,” ujarnya.

Masker yang sudah diberikan perusahaan, akan digunakan petugas pemadam Karhutla di lapangan. “Karena memang risiko petugas di lapangan yang berjibaku dengan api dan asap itu sangat luar biasa,” katanya.

Terkait Karhutla, Ontot menyebut, tidak hanya terjadi pada musim kemarau, tapi juga berpotensi terjadi di musim hujan, meskipun tidak masif. Namun begitu, strategi penanganan Karhutla baik musim kemarau atau musim hujan harus dijalankan.

“Harus ada persiapan, baik dari sisi manusianya, pelaratannya maupun pembiayaannya dan strategi yang harus kita buat. Termasuk mapping untuk kita bisa meningkatkan mitigasi terhadap bencana,” bebernya.

Ontot menambahkan, penanganan Karhutla, harus disesusuaikan dengan kondisi di lapangan. “Kita tidak boleh lagi nunggu kebakaran terjadi, tapi sudah kita awasi di situ,” katanya.

Misalnya daerah-daerah yang rawan terbakar akan diawasi, kedepan nanti seperti itu. Jadi tak ada lagi cerita menunggu kebakaran baru kerja. “Ngejar ke lokasi jak dah habis waktu,” pungkasnya. (IP-01)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *