Loka POM Sanggau Sita 1.184 Kosmetik Ilegal

Kabupaten Sanggau
KOSMETIK - Kepala Loka POM di Kabupaten Sanggau, Agus Riyanto memberikan pers rilis di kantornya tentang kosmetik ilegal yang beredar di Kabupaten Sanggau, Rabu (21/8/2019). (Foto Inside Pontianak)

SANGGAU, insidepontianak.com Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Kabupaten Sanggau berhasil mengamankan 1.184 kemasan kosmetik ilegal senilai Rp28 juta lebih. Produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya tersebut diamankan dari 12 sarana di dua kabupaten yaitu Sanggau dan Sekadau.

Kepala Loka POM di Kabupaten Sanggau, Agus Riyanto mengatakan, kosmetik ilegal tersebut diamankan dalam aksi penertiban pasar yang dilakukan pada tanggal 12 dan 19 Agustus 2019.

Bacaan Lainnya

“Di Kabupaten Sekadau kita laksanakan penertiban pada tanggal 12 Agustus di 8 sarana. Dan di Kabupaten Sanggau pada tanggal 19 Agustus di 9 sarana. Dari 17 sarana yang kita periksa sebagian besar toko, ada juga salon dan klinik kecantikan,” ujarnya saat pers rilis di kantornya, Rabu (21/8/2019).

Dalam penertiban itu, Loka POM Sanggau melibatkan lintas sektoral seperti Dinas Kesehatan, Satpol PP dan Disperindagkop di dua kabupaten tersebut. Dari 17 sarana yang kita periksa, ditemukan 12 sarana yang tidak memenuhi ketentuan karena menjual kosmetik ilegal atau mengandung bahan berbahaya.

Ia merinci, produk kosmetik ilegal yang diamankan itu sebanyak 1.184 kemasan dari 124 jenis dengan nilai keekonomian sebesar Rp28.313.000. Terdiri dari lipstik, eye liner, parfum, pensil alis, pewarna kuku, serum wajah, cairan pembersih wajah, krim wajah, mascara, bedak wajah, vitamin rambut, eyeshadow serta masker wajah.

Ketika ditanya penindakan terhadap pemilik sarana, Agus mengatakan, hanya dilakukan pembinaan. Tindakan itu atau aksi penertiban sifatnya pembinaan. Barang-barang tersebut kita minta untuk dimusnahkan secara sukarela.

“Sebagian besar ada yang sudah bersedia memusnahakan di tempat, ini yang kita bawa sebagian karena waktu aksi yang ada hanya karyawan, jadi tidak berani untuk memusnahkan. Nanti pemiliknya kita panggil, tetap kita minta untuk dimusnahkan. Kalau tidak mau, kita ambil langkah hukum,” katanya.

Ia juga mengakui ada sarana yang masih menjual produk kosmetik ilegal meski sudah pernah menjadi sasaran penertiban sebelumnya. “Ada, tapi kuantitasnya menurun. Kemarin kita temukan sampai Rp 7 jutaan, sekarang tinggal ratusan ribu. Tetap kita peringatkan,” tutur Agus.

Kepada para pelaku usaha, ia mengingatkan agar mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam memperjualbelikan produk kosmetik.

“Kosmetik ini masuk dalam jenis sediaan farmasi. Dalam pasal 197 UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dana tau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar dipidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar,” ucap Agus.

Ia kemudian meminta agar masyarakat lebih bijak dan cerdas dalam memilih kosmetik, dengan melakukan cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek kedaluwarsa. Ini penting dilakukan agar terhindar dari bahaya kosmetik ilegal.

“Untuk bahan berbahaya yang sering disalahgunakan, dicampurkan pada kosmetik itu contohnya merkuri atau Hg, itu adalah untuk pemutih. Dipakai sehari, dua hari langsung kelihatan hasilnya, wajahnya putih bersih, nah itu yang harus berhati-hati. Karena efek yang cepat seperti itu memang ditunjukkan oleh bahan merkuri. Tapi jangka panjangnya nanti bisa menyebabkan risiko kesehatan berupa kanker kulit, plak-plak dan sebagainya,” tutup Agus. (IP-01)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *