Yayasan Titian Ajak Kaum Milenial Cinta Konservasi Alam

Pemkab Sanggau
HKAN - Pemkab Sanggau dan Yayasan Titian Lestari menyelenggarakan kegiatan kampanye pengurangan sampah plastik dan kampanye pelestarian hewan hukang di halaman Kantor Bupati Sanggau, Jumat (23/8/2019). (Foto Kominfo Sanggau)

SANGGAU, insidepontianak.com – Yayasan Titian Lestari mengajak anak Milenial untuk peduli dan mencintai dunia konservasi. Hal itu dilakukan dengan mengajak mereka ikut dalam acara Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di Sanggau, Jumat (23/9/2019).

HKAN merupakan salah satu hari peringatan lingkungan hidup di Indonesia sejak tahun 2006. “Penyelenggaraan hari peringatan ini sebagai upaya kampanye kepada masyarakat akan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat dimana HKAN diperingati setiap tanggal 10 Agustus,” kata Adi Prasetyo dari Titian.

Bacaan Lainnya

Pada tahun ini, peringatan HKAN mengusung tema “Spirit Konservasi Alam Milenial”. Salah satu tujuan peringatan HKAN adalah, memberikan penyadartahuan dan edukasi kepada masyarakat dalam menyelamatkan ekosistem alam.

“Edukasi tersebut dapat berupa memperkenalkan kepada masyarakat mengenai keanekaragaman hayati dan peran ekologisnya di alam, sehingga muncul rasa peduli dan mau untuk melakukan perubahan dan sasaran utama sebagai agent perubahan adalah kaum muda (milenial) yang menjadi penggerak,” katanya.

Adi menegaskan, penurunan populasi satwa liar di Kalimantan Barat dikarenakan beberapa aktivitas, seperti perburuan, penebangan liar dan perambahan. Perburuan satwa liar sepertinya menjadi faktor ancaman terbesar mengingat kegiatan ini pernah berlangsung secara komersil.

Praktik perburuan satwa liar yang dilakukan secara subsisten dengan tujuan pemenuhan kebutuhan protein hewani, ini mungkin tidak berdampak signifikan terhadap populasi satwa. Akan tetapi dengan adanya nilai ekonomi tertentu pada beberapa satwa dan bagian-bagiannya, maka tekanan terhadap satwa akan semakin meningkat.

“Bahkan di beberapa tempat, hal ini kemudian mendorong terjadinya kepunahan. Ditambah lagi, praktik perburuan yang bersifat komersil, terutama untuk jenis-jenis tertentu yang dilindungi, umumnya tidak mudah dideteksi,” katanya.

Berdasarkan hasil investigasi Yayasan Titian Lestari pada tahun 2018-2019, beberapa wilayah yang diduga adanya indikasi kegiatan perburuan, kepemilikan dan perdagangan satwa liar dan bagian-bagiannya yang perlu ditindaklanjuti.

Seperti perburuan kukang (Nycticebus borneanus) di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Propinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan report Investigasi Yayasan Titian Lestari Februari 2019, menemukan adanya perburuan dan perdagangan kukang di pasar tradisional di Kota Sanggau.

Kondisi keanekaragaman hayati Indonesia tengah terancam. Maraknya perdagangan satwa ilegal, pencurian keanekaragaman hayati maupun sumber daya genetik, serta lemahnya perlindungan hukum menjadi penyebab semakin berkurangnya jumlah keanekaragaman hayati Indonesia.

Secara kuantitas terus berkurang terutama beberapa spesies kunci yang dimiliki oleh Indonesia. Sehingga dibutuhkan upaya-upaya konservasi atau pelestarian lingkungan akan tetapi tetap memperhatikan manfaat.

“Yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen-konponen lingkungan, untuk pemanfaatan di masa yang akan datang,” katanya. (IP-01)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *