Anggota BPK Atur Proyek Air Bersih di Kalbar Berujung Tersangka

Rizal Djalil (FOTO :Mdia Indonesia)

JAKARTA, insidepontianak.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil (RIZ) sebagai tersangka kasus suap terkait proyek Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Rizal diduga menerima uang SG$ 100 ribu untuk memuluskan langkah PT Minarta Dutahutama mendapatkan proyek SPAM.  Satu di antara paket proyek SPAM tersebut ternyata ada di Kalbar.

Bacaan Lainnya

Selain Rizal, KPK juga menetapkan status tersangka pada Leonardo Jusminarta Prasetyo (LJP) yang merupakan komisaris utama PT Minarta Dutahutama. Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan, nama kedua tersangka baru tersebut muncul setelah KPK mengembangkan penyidikan dari hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap sejumlah pejabat Kementerian PUPR pada Desember lalu. Dari fakta persidangan, KPK juga menemukan bukti lain yang menunjukkan aliran dana ke Rizal.

Rizal diduga pernah memanggil direktur SPAM Kementerian PUPR ke kantornya untuk mempertemukan dengan perwakilan dari Minarta Dutahutama yang ingin mengikuti proyek SPAM.

Proyek yang diminati adalah Jaringan Distribusi Umum (JDU) Hongaria dengan nilai anggaran Rp 79,27 miliar. Leonardo yang berkenalan dengan Rizal di Bali berkomitmen memberi uang Rp 1,3 miliar kepada mantan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut. Akhirnya, proyek tersebut diperoleh Minarta Dutahutama.

Sebelumnya KPK sudah mengendus adanya praktik suap dalam proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kementerian PUPR. Semua bermula dari adanya surat tugas BPK untuk memeriksa Direktorat SPAM Kementerian PUPR. Surat itu ditandatangani Rizal sebagai anggota BPK IV saat itu.

BPK mengaudit proyek SPAM tahun 2014, 2015, dan 2016 di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi. Dari pemeriksaan, BPK menemukan hilangnya anggaran dari Rp 18 miliar menjadi Rp 4,2 miliar. Namun, sebelum itu, rupanya Direktur SPAM sudah mendapat pesan permintaan uang sebesar Rp 2,3 miliar.(det/dat/02)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *