Survei 56,9 Persen Guru Intoleran, YPMI Gelar Pelatihan Toleransi bagi Guru Agama

Perdamaian
PELATIHAN - Ketua Dewan Pembina YMSM, Jenderal Polisi (Purn) Badrodin Haiti membuka Peace Initiative yang digagas Yayasan Pendidikan Madania Indonesia di Wisma 3 Universitas Terbuka, Pondok Cabe Tangerang Selatan dan disponsori oleh Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM), Rabu-Sabtu (25-28/9/2019). (Foto Ist)

JAKARTA, insidepontianak.com – Yayasan Pendidikan Madania Indonesia menggelar pelatihan kreatif guna menumbuhkan toleransi di lembaga pendidikan. Forum Peace Initiative yang berlangsung sejak Rabu hingga Sabtu (25-28/9/2019) di Wisma 3 Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Kegiatan ini melibatkan tak kurang dari 30 orang guru agama, dari sejumlah sekolah di wilayah Tangerang Selatan, mewakili enam agama resmi Indonesia.

Dalam acara yang mendapat dukungan Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM) ini, mereka berkumpul, berbagi pengalaman, pemahaman serta ide dalam keyakinan agamanya masing-masing, yang kemudian dikemas menjadi action plan pendidikan yang mengedepankan penghormatan terhadap sesama, toleransi, kerja sama, melalui cara yang menggembirakan para siswa, sekaligus juga pendidiknya, dalam rilisnya kepada Inside Pontianak, Sabtu (28/9/2019).

Bacaan Lainnya

Ketua Dewan Pembina YMSM, Jenderal Polisi (Purn) Badrodin Haiti hadir membuka kegiatan, Jumat (27/9). Kapolri periode 2014-2015 tersebut, menekankan pentingnya upaya merangkul guru-guru agama dalam upaya menyuburkan toleransi di Indonesia.

“Guru-guru agama yang bersentuhan langsung dan intensif dengan para siswa, punya peran besar dalam menentukan masa depan toleransi dan kedamaian bangsa ini,” ujarnya kepada para peserta.

Forum berupaya merespons temuan mengkhawatirkan dari survei berskala nasional yang digelar Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM). Dari survei tersebut diketahui bahwa 56,9 % guru di Indonesia punya opini intoleran terhadap kelompok agama lain. Dalam forum ini, Prof Dr Jamhari Makruf yang mewakili PPIM mempresentasikan ulang hasil penelitian tersebut.

Senada dengan Badrodin, Pembina YMSM, H Darmono berpesan agar para peserta menjadikan forum ini sebagai titik awal mengembangkan kultur toleransi di lingkungan sekolahnya masing-masing.

Sementara itu, pendiri Yayasan Madania Prof Dr Komaruddin Hidayat mengilustrasikan tentang perbedaan seluk-beluk berbagai agama.

Ia mengatakan, “Ada agama yang kaya dengan simbolisasi, tapi agama lain kaya dengan ikon-ikon. Masing-masing punya keunikannya sendiri. Tapi secara esensial setiap agama memiliki tujuan dan perintah mulia yang tidak berbeda jauh satu sama lain.”

Intervensi sosial kepada para guru agama yang dilakukan Yayasan Pendidikan Madania Indonesia ini, sejalan dengan visi Madania. “Dimana keberagaman yang disikapi dengan keterbukaan, kesetaraan, toleransi serta kepedulian adalah energi yang sangat bernilai,” ujar Ketua YMSM, Dhony Rahajoe atas dukungan pihaknya terhadap Peace Initiative.

Forum ini juga menghadirkan aktivis toleransi beragama dari komunitas Gusdurian, Dewi Praswida yang beberapa waktu lalu menyedot perhatian masyarakat, ketika diundang oleh Paus Fransiscus di Vatikan, Roma, karena kiprahnya dalam upaya menumbuhkan toleransi beragama.

Dewi mencontohkan acara buka puasa bersama pemeluk agama lain yang rutin diselenggarakan Ibu Sinta Nuriyah Wahid saban bulan Puasa. Beberapa kelompok intoleran sering menentang dan menghalangi acara yang digagas istri Presiden RI ke-4 (alm) Abdurrahman Wahid. Tapi hal itu mesti terus diupayakan, untuk mentradisikan dialog antarumat beragama.

Hari kedua, acara dibuka oleh paparan Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan Internasional, Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin. Akademisi dan aktivis HAM ini membagikan pengalamannya berinteraksi dengan keunikan komunitas berbagai agama di seluruh dunia. Ia mengatakan pentingnya pengalaman keberagaman dan toleransi dibawa ke keluarga masing-masing, terutama dalam proses mendidik anak.

“Kita biasakan untuk diskusi secara terbuka untuk menghadapi berbagai pertanyaan yang disampaikan anak-anak kita sendiri,” katanya.

“Forum ini mungkin terlihat kecil. Tapi upaya permulaan ini sangat penting. Kita tak bisa menunggu orang lain dan mesti melakukannya sendiri,” kata Sadrah Prihatini, inisiator forum Peace Intiative.

Harapannya, acara semacam ini bisa diselenggarakan juga di tempat-tempat lain di Indonesia. Pemuncak forum Peace Initiative adalah sesi Bagaimana Seni Berperan dalam Inisiatif Perdamaian yang menampilkan musisi sekaligus penggagas gerakan Suara Damai dari Timur Untuk Indonesia, Glenn Fredly.

YMSM terbentuk guna mewadahi praktik ke-Islam-an yang terbuka, toleran, setara, dan penuh kasih di lingkup Sinar Mas, memanfaatkan potensi yang dimiliki segenap karyawan di lingkup internal guna  bersama-sama tak sekadar meningkatkan produktivitas kerja, namun juga ketakwaan pribadi.

Sementara di luar, yayasan mendorong silaturahim sekaligus sinergi bersama sosok maupun lembaga keagamaan, melalui beragam kegiatan keagamaan, sosial, dan pendidikan. (IP-01)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *