banner 468x60

Menteri Agama: Moderasi Beragam Bukan Moderasi Agama

  • Bagikan
Peluncuran buku "Moderasi Beragama" di Kantor Kementerian Agama, Jakarta (Dok. Humas Kemenag)

JAKARTA, insidepontianak.com – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin hari ini merilis buku “Moderasi Beragama” di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama.

Menurut Lukman Hakim, buku “Moderasi Beragama” mengandung tiga hal: Pertama menjawab apa itu moderasi beragama. Kedua menjelaskan pengalaman empirik bangsa Indonesia dalam melaksanakan prinsip moderasi beragama.

“Cara kita beragama yang moderat sesungguhnya bukan hal yang baru di tengah masyarakat kita yang dikenal agamis,” kata Menag, Selasa (08/10).

Ketiga, menjelaskan bagaimana strategi penguatan sekaligus implementasi Moderasi Beragama. “Moderasi bergama itu bukanlah moderasi agama. Moderat dalam hal ini adalah lawan dari ekstrem. Moderat mengandung prinsip keseimbangan dan keadilan dengan tujuan agar tidak terjerumus pada ekstremitas,” Lukman Hakim.

Menurut Lukman Hakim, moderasi beragama tidak cukup dilakukan oleh Kementerian Agama, namun harus menjadi gerakan semua pihak. Penguatan moderasi beragama dilakukan dengan tiga strategi utama.

Pertama, sosialisasi gagasan, pengetahuan, dan pemahaman tentang moderasi beragama kepada seluruh lapisan masyarakat. Kedua, pelembagaan moderasi beragama ke dalam program dan kebijakan yang mengikat. “Dan ketiga, integrasi rumusan moderasi beragama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.”

Menurut Menteri, ada tiga hal yang menjadi tolok ukur moderasi beragama. Pertama, kembali pada inti pokok ajaran agama, yaitu nilai kemanusiaan. Setiap agama, inti pokok ajarannya mengajak untuk menghargai dan melindungi harkat dan martabat kemanusiaan.

“Bila ada ajaran agama yang bertolak belakang dengan inti ajaran pokok agama, ini sudah berlebihan dan ekstrem,” kata Menag.

Kedua, kesepakatan bersama. Manusia tetaplah memiliki keterbatasan. Itulah mengapa Tuhan menghadirkan keragaman, agar antara satu dengan yang lain saling menyempurnakan. Keragaman adalah kehendak Tuhan. Manusia yang beragam membutuhkan kesepakatan. Dalam ajaran Islam yang dikenal dengan ikatan yang begitu kokoh.

Ketiga, ketertiban umum. Inti pokok ajaran agama, bagaimana manusia yang beragam latar belakang, bisa hidup bersama secara tertib. “Tujuan agama dihadirkan agar tercipta ketertiban umum di tengah kehidupan bersama yang beragam.”

Usai dirilis, buku “Moderasi Beragama” langsung dibedah dengan tiga pembicara, yakni Komaruddin Hidayat, Adian Husaini, dan Elga Sarapung. Selaku moderator Ulil Abshar Abdalla. (ril/03)

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: