Dinkes Riau Perintahkan Apotek Tarik Ranitidin

Dinkes Riau instruksikan menarik obat Ranitidin (antaranews.com)

PEKANBARU, insidepontianak.com – Dinas Kesehatan Provinsi Riau meminta kesadaran para pengelola apotek untuk menarik obat asam lambung merek Ranitidin dari peredaran.

“Imbauan ini menindaklanjuti instruksi Menteri Kesehatan. Kami meminta apotek untuk menarik obatnya dan dikembalikan ke pihak penyuplai,” kata Kepala Dinkes Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, Minggu (13/10/2019).

Bacaan Lainnya

Imbauan juga ditujukan kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi obat lambung Ranitidin. “Masyarakat kami imbau berhati-hati untuk tidak mengonsumsi obat lambung jenis ini,” kata Mimi Yuliani, seperti dikutip antaranews.com.

Menurut Mimi, instruksi menarik obat merupakan kewenangan BPOM. Apotek sudah mengumpulkan obat merek Ranitidin berdasarkan berita acara BPOM. “Kami berharap pihak-pihak penyedia obat harus mematuhi apa yang dikeluarkan oleh BPOM.”

Obat lambung Ranitidin dilarang beredar setelah BPOM RI mengeluarkan surat perintah penarikan karena diduga mengandung N-Nitrosodimethylamine (NDMA). NDMA adalah salah satu senyawa yang berpotensi memicu kanker.

Penarikan Ranitidin sudah dilakukan secara global di seluruh dunia. Penelitian Badan Pangan dan Obat-obatan Amerika Serikat atau US Food and Drug Administration (FDA) menemukan obat ranitidin tercemar NDMA di atas ambang batas dan dapat memicu kanker.

Penelitian lainnya yang dilakukan Lembaga Pengawan Obat Eropa, European Medicine Agency (EMA) juga menyimpulkan hal yang sama. EMA juga mengeluarkan larangan mengonsumsi Ranitidin di seluruh wilayah Eropa.

Mengutip dari situs resmi BPOM, studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake). Jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu lama, dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *