Kalimantan Bebas Kabut Asap, Titik Api Baru Muncul di Papua

KARHUTLA - Seorang petugas menyemprotkan air di lahan yang sedang terbakar. Musim kering berkepanjangan memperparah kebakaran. (Foto BNPB)

JAKARTA, insidepontianak.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi kabut asap tebal masih terjadi di kawasan Sumatera. Kabut asap tidak terlihat di seluruh Kalimantan.

Kondisi umum di kabut asap cukup tebal terdekteksi di Jambi dan Sumatera Selatan. Jarak pandang akibat kabut asap di dua daerah tersebut berkurang hingga 0,4-0,8 kilometer.

Bacaan Lainnya

Pantauan titik api dari LAPAN yang dianalisis oleh BMKG pada pukul 07.00 WIB menunjukkan terdapat 16 titik api di Riau, Jambi 134 titik, Sumatera Selatan 89 titik, Kalimantan Barat 1 titik, Kalimantan tengah 21 titik, dan Kalimantan Selatan 8 titik.

Terlihat jumlah titik api cukup banyak di Papua yaitu 267 titik. Sebagian besar terdapat di Kabupaten Merauke (263 titik) yang tersebar di Distrik Animha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaan, Kurik, Malind, Merauke, Muting, Naukenjerai, Ngguti, Okaba, Sota, Tabonjo, Tanahmiring, Tubang, dan Waan.

Berdasarkan data laporan yang diterima Liaison Officer (LO) BNPB Satuan Danrem Merauke, rata-rata kebakaran lahan tersebut disebabkan faktor kesengajaan.

Kebakaran hutan dan lahan di Distrik Animha terjadi di perkebunan karet dan akasia serta vegetasi rawa. Masyarakat sengaja membakar untuk membuka lahan dan menjalar menjadi kebakaran besar. Warga Papua juga biasanya membakar lahan untuk mencari ikan gastor.

Warga sengaja membakar lahan di Distrik Ilwayab untuk merangsang tumbuhnya rumput baru setelah kebakaran. Rumput muda adalah makanan utama rusa dan kanguru yang menjadi hewan buruan masyarakat sekitar.

Kebanyakan pembakaran lahan dilakukan warga untuk membuka kembali lahan pertanian pasca panen. Sebagian lainnya karena alasan adat atau mencari tikus  dan ikan.

BNPB melakukan sosialisasi bahaya kebakaran hutan dan larangan membuka lahan dengan cara membakar. Kendati demikian masyarakat tetap melakukan pembakaran karena kebiasaan ini sudah dilakukan secara turun temurun. (ril/03)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *