banner 468x60

Kementerian PUPR Buka Akses Jalan Wisata dan Ekonomi di Morotai

  • Bagikan
Pembangunan jembatan di Pulau Morotai (Dok. Kementerian PUPR).

JAKARTA, insidepontianak.com – Kementerian PUPR melanjutkan pembangunan jalan dan jembatan di Pulau Morotai, Maluku Utara. Membuka konektivitas wisata dan ekonomi di wilayah terluar Indonesia.

Kementerian PUPR pada tahun 2019 menyiapkan anggaran Rp 273,86 miliar untuk pembangunan jalan dan jembatan di ruas Jalan Lingkar Morotai sepanjang 201,89 kilometer.

Peningkatan konektivitas jalan di Morotai, kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk memberi kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan menuju destinasi wisata di Pulau Morotai.

“Akses jalan yang semakin baik akan menunjang perekonomian masyarakat di kawasan wisata,” kata Menteri Basuki beberapa waktu lalu.

Pembangunan ruas Jalan Lingkar Morotai terbagi dalam beberapa pekerjaan diantaranya, pembangunan jalan baru ruas Sofi-Wayabula sepanjang 6 km yang menelan biaya Rp 32 miliar.

Peningkatan jaringan jalan di 7 titik ruas batas kota Daruba – Daeo/Sangowo – Bere Bere – Sofi – Wayabula, sepanjang 195,29 km dengan biaya Rp 10,43 miliar.

Pembangunan dan penggantian 6 titik jembatan dari ruas Bere Bere – Sofi sepanjang 152 meter dan 7 meter dengan biaya Rp 231,43 miliar. Jembatan Sofi – Wayabula 1 sepanjang 125,80 meter, Sofi – Wayabula 2 sepanjang 100 meter, Sofi-Wayabula 3 sepanjang 87 meter, dan Sofi-Wayabula 4 sepanjang 125 meter.

Total panjang ruas Jalan Lingkar Morotai yang akan dibangun mencapai 201,89 kilometer. Hingga 14 Oktober 2019, progres fisik pembangunanya telah mencapai 46,95 persen atau sepanjang 94,79 Km.

Kementerian PUPR sejak tahun 2015-2018 telah mengganggarkan total Rp 787,8 miliar untuk mendukungan peningkatan konektivitas Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Pulau Morotai.

Hingga pertengahan tahun 2019, dari 10 ruas jalan nasional di Pulau Morotai sepanjang 184,34 km kondisinya sudah mencapai 95,7 persen. Sedangkan untuk jalan non-nasional sepanjang 79,4 penyelesaiannya mencapai 45,7 persen.

Ketersediaan infrastruktur jalan diharapkan dapat meningkatkan konektivitas, aksesibilitas, dan mobilitas sehingga mempercepat waktu tempuh dan mengurangi biaya transportasi.

Dengan demikian, mendukung kepariwisataan dan ekonomi di Pulau Morotai yang ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Priwisata Nasional (KSPN).

Pulau Morotai juga dikenal sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terhubung dengan Bandara Pitu, Pelabuhan Daruba, dan Pelabuhan Wayabula. Tersambungnya jalan dari wilayah tersebut mendukung terwujudnya Morotai sebagai pintu gerbang perdagangan ke wilayah perbatasan.

Hal itu memberi peluang besar Pulau Morotai sebagai sentra kegiatan perdagangan kawasan pasifik dan pusat ekonomi di Indonesia bagian Timur. (ril/03)

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: