BNPB Bangun Hunian Tetap Tahap III Korban Sinabung

Peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap korban erupsi Gunung Sinabung (Foto: Humas BNPB).

KARO, insidepontianak.com – Kepala BNPB, Doni Monardo bersama Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi melakukan peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap Siosar tahap III di Karo, Sumatera Utara, Jumat (18/10/2019). Sejumlah 892 unit hunian tetap (huntap) ditargetkan selesai Desember tahun ini.

Doni tidak hanya melakukan peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap namun juga mendiskusikan kendala yang dihadapi pemerintah daerah.

Bacaan Lainnya

“Kami ingin melihat pembangunan huntap ini berjalan baik dan memastikan bantuan sampai kepada korban yang berhak,” kata Doni di hadapan warga Siosar.

Pembangunan hunian warga Siosar ini diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 162 miliar. Anggaran berasal dari dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi tahun anggaran 2018.

Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan rumah, infrastruktur dasar seperti jaringan air, penerangan, dan jalan. Sedangkan pembebasan lahan sebanyak 1.022 petak masih dalam proses pematangan oleh pemerintah daerah.

Hunian tetap Siosar dibangun untuk warga yang rumahnya berada di kawasan rawan bencana Gunung Sinabung. Pada tahap I, BNPB membangun 370 unit hunian. Tahap II dan III dibangun 1.655 dan 156 hunian.

Serangkaian erupsi Gunung Sinabung yang terjadi sejak tahun 2010, mengakibatkan total kerugian dan kerusakan mencapai Rp 1,80 triliun.

Doni berharap setelah hunian selesai dibangun, perekonomian masyarakat kembali pulih salah satunya dengan membuka ladang kopi. Kepala BNPB sempat mencicip kopi hasil panen warga Siosar.

Pada kesempatan yang sama, Doni menyerahkan alat penggiling kopi untuk pemberdayaan ekonomi masyakarat. Dia juga berkesempatan mendengar harapan para warga terdampak.

Salah seorang warga terdampak, Gerga mengaku sejak dulu menanam kopi di lereng Sinabung. Setelah direlokasi dari Desa Simacem, dia dan suaminya melanjutkan menanam kopi.

“Rasa kopi di sini berbeda, mungkin karena ketinggian dan jenis tanah. Ada permintaan dari Jerman namun kami belum siap karena baru menanam pada 2016,” kata Gerga yang dulu tinggal 2,5 kilometer dari puncak Sinabung.

Gerga optimistis dapat membangun kembali perekonomian keluarga lewat budidaya kopi. “Sulit ketika bercocok tanam pertama kali. Kami mencoba untuk menikmati apa yang kami peroleh,” katanya.

Gunung Sinabung dengan ketinggian 2.460 mdpl meletus sejak tahun 2010 dan hingga kini masih berstatus level III atau “siaga”. PVMBG memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di desa yang sudah direlokasi.

Daerah rawan bencana Sinabung berada dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat diimbau memakai masker untuk mengurangi dampak kesehatan akibat abu vulkanik. Warga diminta mengamankan sarana air bersih dan membersihkan atap dari abu vulkanik agar tidak ambruk.

Warga yang tinggal di bantaran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai banjir lahan hujan.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *