Kebakaran Hutan Inspirasi “Miss The Rain” Juara Desain Fashion Pontianak

Para pemenang Pontianak Fashion Design Competition (Foto: Humpro Kota Pontianak)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Desainer muda, Cyndika Verona (17 tahun) menjadikan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai sumber inspirasi karya fashion.

Bertema “Miss The Rain”, siswi kelas XII SMK 5 ini meraih juara pertama Pontianak Fashion Design Competition di Halaman Parkir A Yani Mega Mall, Minggu (20/10/2019).

Bacaan Lainnya

Cindyka mengatakan, karyanya terinspirasi bencana kabut asap yang sempat menyelimuti Kota Pontianak beberapa waktu lalu. Pemerintah sudah maksimal mengatasi karhutla, namun kebakaran masih terjadi.

“Semua mahluk hidup merindukan turunnya hujan agar bencana itu segera teratasi. Dari situlah muncul ide saya dengan mengusung tema ‘Miss The Rain’ atau merindukan hujan,” kata Cyndika.

Busana karya Cyndika yang ditampilkan sepasang model, bergaya casual bersiluet. Warna yang mendominasi adalah biru, abu-abu, krim, putih tulang dan hitam.

Proses pembuatannya memakan waktu sekitar 10 hari. “Bahan variasi tenun, drill dan katun,” terang gadis yang sebelumnya pernah mengikuti lomba serupa dan meraih juara II.

Tantangan yang dihadapinya sebagai desainer muda adalah bagaimana mendesain busana yang tidak umum dan berbeda dari yang lain. “Saya bertekad menciptakan karya sekreatif mungkin sehingga menjadi karya terbaik.”

Dia berharap pemerintah memberikan perhatian kepada para desainer lokal dengan memberikan ruang berkreasi seluas-luasnya.

Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie Kamtono mengapresiasi antusiasme para peserta Pontianak Fashion Design Competition.

Kompetisi yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak ke-248 itu diikuti 23 peserta. Setelah melalui tahapan seleksi, tersisa 10 nominator.

Yanieta yang juga bertindak sebagai juri, menyebut ada 5 kriteria penilaian: kreativitas, originalitas, kerapian, daya jual, dan daya pakai. Tema desain adalah “Ready to Wear, The Large Corak Insang”. Diangkatnya tema Corak Insang untuk melestarikan tenun khas Pontianak.

Salah satu juri Pontianak Fashion Design Competition, Uke Tugimin mengatakan, lomba fashion digelar setiap tahun. Kualitas designer lokal terus meningkat setiap tahun.

“Yang lebih membanggakan, para desainer muda ini adalah siswa dari SMK. Artinya dunia pendidikan sudah selaras dengan dunia usaha yang sebenarnya,” kata Uke.

Menurut Uke, para desainer muda banyak menghasilkan ide kreativitas yang tidak kalah dari desainer profesional. Dia optimistis karya-karya desainer muda ini bisa bersaing di tingkat nasional.

“Saya lihat kelemahan mereka adalah teknik menjahit. Tapi kalau dari segi desain, inspirasinya bagus-bagus,” ujar Uke yang sudah lama malang melintang menggeluti dunia fashion.

Hadiah yang disediakan panitia penyelenggara juga cukup menarik peserta . Selain uang pembinaan juga diberikan mesin jahit.

Kompetisi desain busana ini melibatkan juri-juri dari berbagai kalangan, yakni Ketua Dekranasda Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie Kamtono, perancang busana, Uke Tugimin dan Hadi Kusnan, National Board of Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ulya Alfisa, serta Arief Fitriansyah dan Hamisah, Ketua dan Sekretaris IFC Chapter Pontianak.

Juara I Pontianak Fashion Design Competition diraih Cyndika Verona, juara II diterima Syf Yuli Purnamasari, dan juara III diduduki Salwa Salsabila Alvanisa.

Juara harapan I direbut kolaborasi dua desainer, Diah Fadia dan Tri Lolita Andini, harapan II, Faza Rusyda Ulya, dan harapan III diraih Malsa Sara Khafilah. (ril/03)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *