Mencari Relevansi Tradisi di Era Modern

Seminar internasional bertema “Budaya dalam Rangka Pelestarian Tradisi Nusantara” di Untan (Foto: insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Universitas Tanjungpura mengadakan seminar pelestarian tradisi nusantara. Menjaga nilai yang masih relevan dikembangkan di era modern.

Seminar internasional bertema “Budaya dalam Rangka Pelestarian Tradisi Nusantara” itu menghadirkan pembicara Prof Yasmin, Prof Zaenal Abidin Burhan, Prof Otman Yatim, Prof Mutia Farida Hatta Swasono, serta Wakil Rektor I Untan Prof Aswandi, Prof Ibrahim Alkadria.

Bacaan Lainnya

Prof Mutia Hatta Swasono mengatakan saat ini terjadi gap antar generasi. Regenerasi tradisi dan budaya tidak terjadi pada generasi muda dari generasi tua.

Padahal kata antropolog yang juga putri Proklamator Bung Hatta itu, sebagai bangsa kita harus memahami keunggulan dan kelemahan budaya sendiri.

Sehingga ketika muncul masalah kita dapat mengatasinya menggunakan pendekatan budaya sendiri.

Indonesia yang memiliki bangsa nasional tidak kehilangan identitas masing masing unsur budaya lokal yang multi kultural.

“Kita punya prinsip-prinsip kebersaaan dan harus dilestarikan. Pergaulan internasional juga harus dikembangkan. Kita harus hidup bersama bangsa lain tapi juga punya prinsip sendiri. Dan itu harus bisa dilestarikan,” kata Mutia Hatta, Minggu (20/10/2019).

Melestarikan budaya adalah mempetahankan nilai budaya yang masih relevan hingga saat ini. Mengembangkan kebudayaan masa lalu menjadi lebih baik.

Misal tenun yang bisa dikembangakan dari segi kualitas. Tidak sekedar untuk dipakai, tapi juga bisa dibuat dengan sistem baru dan bisa bersaing di era internasional.

“Ada batik yang dibuat dengan sistem digital. Tapi kemajuan itu jangan sampai menghilangkan seniman dan perajin batik. Kita kembagkan tanpa kehilangan identitas dan karakter lokal.”

Menurut Prof Zaenal Abidin, saat ini sudah ada upaya menggali dan menguatkan budaya. Hal itu perlu dilakukan karena ada upaya menghancurkan segala budaya melalui liberalisasi.

Prof Usman Yasin mencontohkan upaya pelestaria sejarah penyebaran Islam di Aceh. Islam berkembag di Aceh diyakini sejak tahun 1297 melalui ditemukannya batu nisan bertanggal tersebut.

Nisan-nisan tersebut tidak hanya penting bagi sejarah Aceh namun juga peradaban Islam. Saat ini banyak batu nisan itu rusak dan tidak dianggap penting. Tsunami menyebabkan banyak nisan-nisan bersejarah itu berserak di lautan.

Upaya menggali kebudayaan lokal bukan berarti tanpa hasil. Bupati Kayong Utara, Citra Duani sejak lama mendambakan penggalian sejarah asal usul Kerajaan Sukadana.

Dari garis ibu yang berasal dari Siak Indragiri dan garis bapak keturunan Raja Matan. Bupati menginginkan ada kajian sejarah tentang makam Ratu Surya Kusuma di Sukadana.

Upaya Anshari Dimyati yang bertahun-tahun meluruskan sejarah tentang Sultan Hamid Al Kadri sebagai perancang Lambang Negara akhirnya dihargai sebagai lambang cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan RI.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *