Entrepreneur Produktif Berkat Home Credit  

  • Bagikan
PELANANAN - Nadya, satu di antara karyawan Home Credit di Pontianak sedang memperlihatkan smartphone di salah satu toko mitra di Kota Pontianak. Dengan menyediakan pelayanan yang cepat, persyaratan permohonan yang mudah dan proses persetujuan tidak sampai 10 menit. Tiga hal ini mendapat sambutan yang baik, terutama mereka dari generasi milenial. (FOTO :Agus Wahyuni)

Menuangkan ide bagaimana merencanakan sebuah usaha, tentu bisa dilakukan oleh mereka yang berjiwa usaha. Tapi bagaimana ide awal tadi bisa selaras dengan modal usaha, Home Credit solusinya. Melalui program literasi keuangan yang digalakkan di banyak daerah, membuka akses bagi nasabahnya untuk memulai usaha yang baik. Terutama mereka yang milenial.

Mega (25), ingat betul. Betapa ia mengalami pada sebuah masa, dimana ia galau berat. Bagaimana tidak. Harapan Alumni Institute Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Pontianak ini, begitu mendapat gelar sarjana (strata satu), pulang kampung kemudian bisa langsung kerja menjadi guru, ternyata cita-citanya belum kesampaian.

Kendalanya, di Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tempat tinggal Mega, belum ada lowongan kerja guru honor. Sementara harapan ada informasi pembukaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), belum kunjung datang.

“Pulang ke kampung, selama itu pula saya menganggur,” kata Mega, kepada insidepontianak.com.

Sejak itu, Mega selalu memutar otak, bagaimana bisa menghasilkan uang demi membantu ekonomi keluarga di kampung. Caranya, dengan mencoba peruntungan menjadi wirausahawan alias entrepreneur.

Dari situ, ia mulai mengumpulkan beragam referensi. Sampai akhirnya jatuh pada pilihan, bagaimana memulai usaha jasa laundry. Bagi Mega, alasan memilih bisnis ini, karena di Kota Singkawang, selain sebagai kota pariwisata, di dalamnya terdapat banyak pekerja dari luar, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Bahkan tak sedikit dari mereka yang memilih mengontrak rumah hingga tidak memiliki waktu banyak untuk mencuci pakaian harian.

“Beruntung ada Home Credit sudah masuk di ke Singkawang. Saya pun bisa mengajukan pinjaman untuk beli satu unit mesin cuci,” tutur Mega.

Home Credit dimaksudkan Mega, adalah sebuah perusahaan pembiayaan berbasis teknologi global. Dari laman Home Credit, di Indonesia, perusahaan ini beroperasi sejak 2013 dengan jumlah nasabah mencapai lebih dari ratusan ribu. Dalam perjalananya, wilayah ekspansi perusahaan ini terus meluas hingga lebih dari 141 kota di Indonesia. Satu di antaranya ada di Kalimantan Barat, tepatnya di Kota Pontianak dan Kota Singkawang.

Kembali ke Mega. Ia mengaku mengetahui ada Home Credit sudah lama. Tepatnya pada saat masih kuliah, pada 2015.

“Waktu itu teman kuliah saya sudah membuktikan, bagaimana proses pengajuan yang cepat, saat ia ingin membeli handphone di Home Credit,” tutur Mega.

Dari cerita itulah, pada 2017, Mega kemudian mencoba mengajukan pembiayaan di Home Credit. Pada sebuah toko di Kota Singkawang, ia cukup mengajukan permohonan pembiayaan dengan persyaratan dokumen yang ada di dalam dompet, seperti KTP, SIM dan Kartu BPJS. Proses persetujuan tak sampai 10 menit, satu unit mesin cuci pintu samping. Mesin cuci jenis ini merupakan model standar untuk usaha laundry.

“Di Home Kredit, Saya cukup menunjukkan persyaratan yang ada di dompet. Tidak harus punya slip gaji. Setelah itu, permohonan kita diproses. Cuma hitungan menit jam saja, pengajuan saya berhasil disetujui mereka,” kata Mega.

Walhasil. Usaha laundry Mega baru berjalan satu tahunan ia mengaku, sebulan bisa meraih omzet sekitar Rp 6 jutaan dengan mempekerjakan dua karyawan. Artinya dengan nilai pendapatan itu, Mega bisa mensejajarkan diri dengan tunjangan pejabat PNS, setidaknya setingkat eselon.

Jika Mega sukses dengan usaha laundry, Cerita Mina (24) justru beda lagi. Warga asal Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini merasa terbantu berkat jasa Home Credit.

Gadis lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini mengaku, hijrah ke Kota Pontianak, saat diminta salah satu pemilik Warung Kopi (Warkop) untuk menjadi karyawan barista alias pembuat kopi. Tepatnya di kawasan Jeruju, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak.

Nah, cerita bagaimana Mina bisa mengenal Home Credit, bermula dari referensi seorang teman yang pernah mengajukan pembiayaan untuk membeli handphone, dengan bunga nol persen, persyaratan mudah dan persetujuan bisa cepat.

“Waktu itu layar smartphone saya pecah. Pingin ganti baru belum cukup uang,” kata Mina.

Dari situ, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman ke Home Credit. Siapa mengira, handphone yang diinginkan bisa diperoleh.

Tak ingin gaji dari bekerja di barista berkurang karena harus membayar cicilan, Mina pun memanfaatkan handphone barunya sebagai media usaha untuk mendapatkan penghasilan. Caranya, ia menjalankan mulai menjalankan bisnis Online Shopping atau dikenal Olshop.

Online Shop merupakan tempat belanja dengan sistem online via internet. Ia mengetahui bisnis ini, melalui promosi di Media Sosial (Medsos), saat ini mulai menjamur, terutama bagi kalangan milenial.

Model pemasarannya pun sederhana. Ia cukup mengupload produk yang ditawarkan melalui Medsos secara masif, mulai dari Instagram, Facebook, Whatshapp dan Twitter. Dari situ, terjadi proses transaksi. Misalnya, bila ada konsumen yang merespon dan kemudian tertarik untuk membeli produk yang dipromosikan, dana keuntungan sudah bisa langsung masuk ke rekening pribadi.

“Awalnya saya mendaftar menjadi member salah satu Olshop Rp 300 ribu di internet. Dari situ, saya mendapatkan ribuan produk lengkap dengan video dan gambar produk dari agen. Tinggal upload saja di Medsos,” kata Mina.

Dari banyak produk yang dipromosikan, Mina mengaku, produk fashion wanita, seperti baju dan sepatu, dianggap paling laris diburu konsumen. Walhasil, bisnis berjualan online ini hanya sambilan ini ternyata bisa meraih omzet Rp 3 jutaan per bulan.

“Lumayan buat nabung dan sisanya untuk bayar cicilan kredit di Home Credit,” kata Mina.

 Literasi Keuangan 

Cerita Mega dan Mina satu di antara perwakilan dari milenial, bagaimana bisa menyelaraskan ide dan modal pinjaman dari perusahaan pembiayaan melahirkan usaha yang kreatif dan produktif. Tapi, di luar dari itu, tidak sedikit dari milenial itu sendiri memiliki kebiasaan boros. Misalnya memiliki keinginan mendapatkan suatu barang hanya untuk keperluan gaya hidup.

Sebagaimana diketahui, saat ini Indonesia sedang mendapatkan bonus demokrafi, di mana Data Pusat Statistik (BPS) 2017 menyebutkan rasio terbesar dari jumlah penduduk adalah milenial atau sekitar 33,75 persen dari jumlah penduduk keseluruhan. Artinya, generasi milenial dianggap sebagai generasi yang lebih akrab dengan teknologi jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Hanya saja, bila dikaitkan dalam hal manajemen keuangan, berdasarkan survei David low dan Dalia Research disebutkan, sekitar 69 persen dari generasi milenial Indonesia justru tidak memiliki strategi investasi. Bahkan survei lainnya, dari Go Banking Rates, milenial jauh lebih boros ketimbang generasi lainnya.

Survei yang diikuti oleh 1.000 orang ini menemukan generasi milenial punya kebiasaan mengeluarkan yang tidak perlu. Seperti biaya untuk makan di luar dan membeli kopi. Padahal pengeluaran yang tidak penting dapat memangkas sisa uang tabungan bahkan kebutuhan jangka panjang lainnya.

Dua permasalahan inilah, Home Credit melibatkan diri, bagaimana menyelaraskan populasi milenial yang melek teknologi agar bisa cerdas dalam mengelola keuangan mereka.

Satu di antaranya,  dengan meluncurkan program literasi keuangan. Sasarannya adalah siswa dan mahasiswa. Dari program ini setidaknya menjadikan milenial tidak terjebak pada kebutuhan gaya hidup, tetapi bagaimana menumbuhkan semangat jiwa wirausaha kepada mereka.

Chief External Affairs, PT Home Credit Indonesia, Andy Nahil Gultom, dilansir web resmi Home Credit, mengatakan, program ini untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai mengenai produk dan layanan keuangan.

“Kita harapkan dari program ini mampu mendorong generasi muda mengelola keuangannya dengan baik, hingga menumbuhkan jiwa wirausaha,” katanya.

Misalnya memberikan pemahaman bagaimana mengelola keuangan dengan benar, diantaranya adalah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Bagian ini dianggap penting. Karena dalam beberapa kasus, banyak ditemukan masyarakat Indonesia yang belum memahami dengan benar mengenai kebutuhan dan keinginan. Mereka sering kali terjebak dengan gaya hidup.

“Di sini kita hadir. Bagaimana menanamkan pemahaman kepada mereka mengenai tujuan keuangan, investasi dan tentunya wirausaha yang dapat dilakukan sejak usia muda,” kata Andy.

Teritory Manager Home Credit Pontianak, Alias mengatakan, diterimanya Home Credit di masyarakat, khususnya Kota Pontianak dan Singkawang, karena bisa menyediakan pelayanan yang baik.

Mulai dari kemudahan dalam proses pengajuan hingga kecepatan dalam membantu pembiayaan. Terutama bagi mereka yang nasabah dan maupun mitranya. Mitra yang dimaksud adalah pemilik toko yang bekerjasama dengan Home Credit.

Apalagi, kata Alias, perusahaannya kini sudah memunculkan beragam varian pembiayaan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Artinya, tidak saja menyediakan pembiayaan untuk handphone, peralatan elektronik dan furniture.

“Sekarang pembiayaan kami sudah multiguna,” kata Alias.

Satu di antaranya yakni pembiayaan asesoris mobil, renovasi rumah, hingga biaya pendidikan.

“Bahkan masyarakat sekarang yang ingin mendapatkan pembiayaan dari kami, sudah bisa dilakukan secara online melalui aplikasi dari kami,” kata Alias.

Tujuannya tak lain, bagaimana menawarkan solusi keuangan cerdas bagi masyarakat yang aman dan menyenangkan.

Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Barat, M Rizal Edwin mendukung semua line finansial seperti Home Credit yang telah memberikan pendidikan literasi kepada milenial.

“Karena pendidikan kewirausahaan inilah yang dibutuhkan oleh mereka. Ada keinginan yang baru terjun ke dunia entrepreneur untuk ekonomi Indonesia yang lebih maju,” kata Edwin.

Satu di antaranya adalah bagaimana Home Credit memberikan solusi kepada milenial, bagaimana mendapat modal usaha. Tanpa modal itu, menjadi momok bagi mereka untuk memulai usaha yang akan dijalankan. (agus wahyuni)

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: