Hibah Rumah Besa’ Kampung Bangka, Momen Penting Menjaga Sejarah Pontianak

Foto rumah dari bagian depan diambil tahun 1970an. (Foto: Koleksi pribadi (alm) M Hatta bin H Saleh bin HM Arief).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Hibah rumah besa’ di tepian sungai Kapuas di Kampung Bangka Pontianak, seolah menjadi satu tetes embun dalam upaya mengumpulkan, menarasikan, dan menyelamatkan bangunan bersejarah di Kota Pontianak.

“Pertama-tama, baiknya kita semua mendoakan agar hibah dapat menjadi shadaqah jariah yang tak putus bagi almarhum HM Arief bin H Ismail serta Hj Salmah bin H Abdul Kariim. Serta membawa kebaikan dan keberkahan bagi ahli waris serta zuriat keluarga besarnya,” kata Ahmad Sofian dZ, penulis buku “Pontianak Heritage”.

Muat Lebih

Apresiasi juga diberikan kepada Pemerintah Kota Pontianak yang menyanggupi merestorasi rumah bersejarah itu.

“Tentunya juga sangat perlu untuk dijaga keberlanjutannya. Jangan hanya restorasi dilakukan secara fisik dengan kayu belian. Sangat perlu diperhatikan sejarah, bentuk, kearifan local, serta teknologi tradisional yang terdapat dalam bangunan tersebut,” ujar Ahmad Sofian.

Restorasi harus menjaga bentuk asli rumah. Penggunaan pasak sebagai teknologi tradisional menyambung kayu dan posisi ruangan harus dipertahankan.

“Mungkin butuh proses dan biaya yang tidak sedikit. Namun hal itu tentu menjadi penting untuk menjaga keaslian serta otentifikasi bangunan.”

Sejarah Rumah Besa’

Rumah Besa’ di tepian Sungai Kapuas Kecil, Kampung Bangka dahulu kediaman HM Arief bin H Ismail dan Hj Salmah bin H Abdul Kariim. Jika masuk melalui Jalan Imam Bonjol di Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, rumah ini terletak di ujung Gang Hj Salmah.

Semua bagian rumah terbuat dari kayu belian. Dari tiang hingga atap. Melewati sepuluh anak tangga menuju pelataran, jika kita membuka pintu akan terhampar ruang tamu yang menyatu dengan ruang utama.

Di dalam rumah juga terdapat ruang besar. Kamar-kamar berjajar memanjang di sisi kanan-kiri ruangan. Sedikit pada bagian luar rumah dibangun dapur.

Sekitar tahun 1926, pemilik rumah menyediakan ruangan tempat anak-anak dan orang dewasa warga Kampung Bangka mengaji. Si empunya rumah, HM Arief yang mengajar dibantu ustadz Abdul Manaf Siasa.

Pertemuan HM Arief dengan H Djahri bin H Abdul Kariim di sebuah toko buku dekat Pasar Tengah, kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya “Sekolah Islamiyah” tahun 1931 yang kemudian berubah nama menjadi “Perguruan Islamiyah” dari tahun 1951 hingga sekarang.

HM Arief dan Hj Salmah

Semasa hidupnya HM Arief adalah pengusaha sukses yang dermawan. Salah seorang generasi masa keemasan saudagar Melayu. Di sekitar Kampung Bangka, HM Arief sukses mengelola usaha pengasapan karet.

Kiprah HM Arief tidak lepas dari pperan istri keduanya, Hj Salmah. Beliau putri H Abdul Kariim bin H Djamaluddin, yang namanya dinisbahkan menjadi nama Masjid Al Kariim di Jalan Tanjung Raya 2, Pontianak Timur.

Semasa hidup, Hj Salmah pelopor, pendiri, serta pemimpin pengajian kaum ibu di Kampung Bangka. Dia juga yang kali pertama mencetuskan pendidikan untuk anak-anak perempuan di Kalimantan Barat.

Hj Salamah wafat saat menunaikan ibadah haji tahun 1938. Namanya dibadikan menjadi nama gang menuju rumah besa’.

Inventarisasi Potensi Sejarah Masyarakat Tepian Sungai Kapuas

Keberadaan rumah besa’ salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah Kota Pontianak. Kearifan masyarakat serta penamaan kampung-kampung tua di tepian Sungai Kapuas menjadi potensi kajian sejarah luar biasa.

Dari Kampung Siantan, Beting, Arab, Dalam Bugis, Tambelan, Sampit, Banjar, Serasan, Saigon, Parit Mayor, Belitong, Bangka, Bansir, Kuantan, Kamboja, dan Melayu menyimpan cerita masing-masing.

Belum lagi tempat atau bangunan simbolik yang bersejarah seperti Pasar Tengah, Pelabuhan Shenghie, Gereja Gembala Baik, Kelenteng Tiga, dan Geretak Tepian Sungai Kapuas, layak dilestarikan.

Tugu Khatulistiwa, Patok Nol Kilometer Pontianak , Mesjid Jami, Surau Bait Annur, Tugu 40 Tahun Sultan Muhammad Bertahta, Keraton Kadriah Kesultanan Pontianak, Makam Panglima A Rani, Pabrik Karet BRW, Makam Yusuf Saigon, Makam Mayor Pontianak, Rumah H Arief (Hj Salmah), Perguruan Islamiyah, Mesjid Baitul Makmur,  dan Surau As-Shulhu  harus dijaga agar generasi mendatang dapat mengenal sejarah panjang terbentuknya wajah Kota Pontianak seperti sekarang.

Semoga hibah rumah besa’ bernilai cagar budaya di Kampung Bangka menjadi moment penting menjaga peninggalan bersejarah di Pontianak. “Mereka yang tidak menghargai masa lalu, juga tidak berharga untuk masa depan.”

Ahmad Sofian dZ, penulis buku “Pontianak Heritage”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *