banner 468x60

Seratoes-248 Menggagas Museum Pers Daerah Kalbar

  • Bagikan
Penyelenggara acara Seratoes-248 menggagas berdirinya museum pers daerah Kalimantan Barat. (Foto: Panitia pameran Seratos-248).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Penyelenggara pameran Seratoes-248 menggagas berdirinya museum pers daerah Kalimantan Barat. Merawat sejarah yang menjadi pijakan melangkah ke masa depan.

Dua dimensi ruang dan waktu seolah bertemu di bulan Oktober 2019 kemarin. Peringatan 100 tahun terbitnya surat kabar di Borneo Barat (Kalimantan Barat) serta hari jadi Kota Pontianak ke-248.

Dimensi tersebut kemudian dilebur menjadi sebuah nama, Seratoes-248. Sebagai identitas rangkaian kegiatan bersama yang digagas 41 komunitas dan persorangan dari berbagai latar belakang untuk kembali mengangkat sejarah Kalbar.

Kami datang dari beragam latar belakang: pegiat sejarah, jurnalis, pegiat kajian budaya, literasi, aktivis masyarakat sipil, seniman, sineas, fotografer, konten kreator, mahasiswa, penulis, peneliti, guru, serta dosen.

Rangkaian kegiatan Seratoes-248 berlangsung selama 18 hari. Dimulai pada pembukaan pada 15 Oktober 2019 di kantor LKBN Antara biro Kalbar, hingga penutpuan pada 2 November 2019 di PMK co-working space.

Kegiatan sengaja digelar berpindah-pindah tempat (sempat diadakan di Daun Lebar Coffee dan WK Bos), untuk menyebar kesadaran pentingnya menjaga sejarah Kota Pontianak.

Selain pameran surat kabar langka, juga dilakukan 16 kali bedah buku dan diskusi pada sepanjang rangkaian kegiatan. Koran-koran langka yang dipamerkan antara lain surat kabar Halilintar, Soeara Borneo, Warta Borneo, Berani, Sinar Borneo, Kapoeas Bode, Oetoesan Borneo, Borneo Barat, Borneo Simboen, serta potongan halaman depan surat Borneo Barat Bergerak.

Buku-buku yang dipamerkan adalah buku yang mengulas Kalimantan Barat baik yang ditulis oleh penulis lokal maupun luar Kalbar dan diterbitkan di luar maupun di dalam daerah.

Seluruh rangkaian kegiatan dibiayai swadaya melalui fundraising penjualan kaos. Setidaknya terkumpul uang Rp 4 juta dari seluruh penggalanga dana. Untuk membiayai teknis kegiatan, tercatat uang tersisa sampai hari ini sebanyak Rp 835 ribu.

Memanfaatkan momen kebersamaan dan menyadari pentingnya kerja budaya bersama, penyelenggara acara Seratoes-248 menggagas berdirinya museum pers daerah Kalimantan Barat.

Beberapa hal yang melatari gagasan membangun museum pers daerah Kalbar adalah ketersediaan materi koran langka yang sayang jika tidak dipamerkan kepada khlayak ramai.

Museum juga menjadi wahana belajar dan mengenali sejarah surat kabar dan pers di Kalimanatan Barat serta mendorong dibangunnya museum tematik lainnya di Kota Pontianak.

Kebutuhan dan operasional museum nantinya tetap menggunakan metode penggalangan dana terbuka (crowdfunding). Materi museum mulai dikumpulkan dan diperkirakan dapat terealisasi tahun ini.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: