banner 468x60

Arahan Presiden dari RPJM Hingga Pemerataan Pembangunan

  • Bagikan
Sidang kabinet paripurna membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. (Foto: Kantor Sekretariat Presiden).

JAKARTA, insidepontianak.com – Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Kamis, (14/11/19). Sidang kabinet paripurna ini membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Presiden memberikan 5 arahan kepada jajarannya terkait RPJMN. Pertama, Presiden ingin RPJMN tidak menjadi dokumen formalitas, tetapi menjadi panduan dan rencana dalam menyusun program kerja.

“Karena yang termuat dalam dokumen itu jelas arahnya, harus jelas targetnya, harus jelas dampaknya kepada rakyat. Targetnya harus betul-betul terukur, dikalkulasi yang baik dengan memperhitungkan berbagai aspek, termasuk konteks ketidakpastian ekonomi global sekarang ini,” kata Presiden.

Menurut Presiden, target pertumbuhan ekonomi harus dikalkulasi dengan baik disertai strategi mencapainya. Demikian juga dengan penurunan jumlah kemiskinan, Presiden minta targetnya jelas dan waktu pencapaiannya juga pasti.

Outcome-nya, dampaknya, manfaatnya bagi rakyat juga harus bisa diukur sehingga menjadi pegangan bersama yang bisa dimonitor. Bisa kita evaluasi bersama,” ujarnya.

Kedua, Presiden ingin dokumen RPJMN memuat peta jalan dan bagaimana mencapai target-target tersebut. “Peta jalan yang jelas, tahapannya seperti apa, rutenya apa saja, dan betul-betul realistis, bisa dilakukan. Jangan abstrak, jangan normatif.”

Ketiga, Presiden kembali menegaskan tidak ada visi misi menteri. Seluruh jajarannya harus mengacu pada RPJMN sebagai penuangan visi misi Presiden dan Wakil Presiden. Presiden juga ingin semuanya bisa tersambung dalam satu garis lurus dari pusat sampai ke daerah dan dimulai dari RPJMN.

“Sambung ke sasaran pokok serta agenda prioritas nasional, juga sambung lagi ke rencana-rencana strategis dari setiap kementerian. Karena itu saya minta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dapat menjadi clearing house untuk melihat konsistensi antara rencana strategi di kementerian dengan yang tertuang di RPJMN dan visi misi Presiden-Wakil Presiden,” paparnya.

Keempat, Presiden menekankan agar rancangan perencanaan yang dibuat betul-betul tersambung dengan penganggaran dan juga tersampaikan dengan baik oleh kementerian.

Presiden mengingatkan jangan sampai apa yang sudah dikerjakan RPJMN berbeda dengan apa yang dikerjakan kementerian dan juga berbeda dengan yang dianggarkan oleh Kementerian Keuangan.

“Karena itu, Kementerian Bappenas, Kementerian Keuangan, harus menjadi tangannya Presiden dalam memastikan RPJMN terwujud dalam rencana, dalam anggaran kementerian-kementerian,” kata Presiden.

Kelima, Presiden memerintahkan sinergi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus dibangun bersama sehingga ada kesamaan gerak langkah.

Realisasi Belanja Anggaran dan Infrastruktur

Terkait belanja anggaran, Presiden menyebut harus disertai dengan peningkatan realisasi anggaran yang berkualitas. Realisasi belanja negara, diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi di pusat dan di daerah.

Belanja negara harus mendatangkan manfaat nyata bagi kesejahteraan rakyat. “Karena yang dulu itu bangga kalau realisasinya 99 persen atau 100 persen. Tapi rakyat merasakan atau tidak dari belanja-belanja itu?” kata Presiden saat memberikan pengarahan.

Sebab itu yang tidak kalah penting adalah memastikan anggaran dibelanjakan untuk barang berkualitas dan dikucurkan untuk program yang juga berjalan dengan kualitas baik. Sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Presiden juga menekankan bahwa pemerintah pusat dan daerah berkepentingan untuk terus meningkatkan kontribusi penerimaan pajak. “Berkali-kali saya sampaikan, memang kita penting collect more, tapi spend better juga harus. Fokus dan harus lebih baik.”

Belanja anggaran itu salah satunya untuk pembangunan infrastruktur. Menurut Presiden, infrastruktur adalah modal utama Indonesia untuk maju dan bersaing dengan negara-negara lain.

“Kita masih berada di posisi tengah terhadap negara-negara lain dalam indeks daya saing. Kita ingin berada pada posisi di depan,” ujarnya.

Namun, menurut Presiden infrastruktur bukan semata melakukan pembangunan sarana seperti jalan tol, pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. “Infrastruktur itu, yang pertama, cipta lapangan kerja. Menciptakan lapangan kerja.”

Dalam proses pembangunan, tentu dibutuhkan keterlibatan tenaga manusia sebagai faktor utama pendukung pembangunan. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara masif dan merata di penjuru Nusantara akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Yang kedua, menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru,” Presiden melanjutkan.

Pembangunan infrastruktur, utamanya di daerah, akan membuka akses baru atau semakin mempermudah akses yang sudah ada untuk menjangkau wilayah tersebut. Kemudahan akses tersebut nantinya dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di suatu wilayah.

“Kemudian yang ketiga, ada perbaikan jaringan logistik kita,” ucap Presiden.

Sebagai negara kepulauan yang terdiri atas kurang lebih 17 ribu pulau menimbulkan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam hal konektivitas. Pembangunan infrastruktur yang berupaya menghubungkan wilayah-wilayah Indonesia tersebut menjadikan jaringan logistik di Indonesia bertahap semakin baik.

Keempat, Joko Widodo mengartikan infrastruktur sebagai sebuah pelayanan publik yang menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakannya kepada masyarakat.

“Saya berikan contoh yang paling nyata. Misalnya dari Wamena ke Nduga yang sebelumnya harus jalan kaki butuh waktu 4 hari 4 malam, dengan jalan yang sudah dibangun oleh Kementerian PUPR sekarang hanya kira-kira 5-6 jam sudah sampai.”

Membangun infrastruktur berarti membangun peradaban. Banyak budaya baru yang bisa dikenalkan atau ditegaskan dengan adanya infrastruktur baru.

Presiden menegaskan, membangun infrastruktur berarti mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selama ini pembangunan infrastruktur terpusat hanya di Pulau Jawa.

Dengan pembangunan yang dilakukan secara merata pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo, pemerintah hendak mengupayakan sila kelima dari Pancasila.

Pemerataan Pembangunan

Berani mengambil keputusan merupakan kunci utama Presiden Joko Widodo dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia. Hal itu menjadi gambaran mengenai pesatnya pembangunan infrastruktur di Indonesia selama beberapa tahun belakangan.

Dalam meningkatkan perekonomian suatu daerah, pemerintah harus aktif bergerak melakukan pembangunan di daerah tersebut. Menurut Presiden, menunggu agar perekonomian daerah tersebut perlahan menggeliat bukan pilihan yang tepat.

“Memang harus seperti itu, mendahului dulu. Karena rumusnya itu jelas, kalau infrastruktur itu baik ekonomi pasti akan tumbuh. Kalau kita menunggu ekonominya tumbuh dulu baru infrastruktur diberikan ya itu sampai kapanpun kita hanya menunggu.”

Menurut Presiden, pemerintah harus berani memutuskan pelaksanaan rencana besar dan tahapan pembangunan yang akan dilakukan di daerah-daerah seluruh Indonesia.

“Kita harus berani memutuskan. Ya ini langsung bangun airport-nya, ya ini harus bangun jalannya,” kata Presiden.

“Ini kita ‘menyerang’, tetapi dengan perencanaan yang baik, agenda besar, dan ukuran-ukuran yang sudah kita kalkulasi sehingga tembakannya itu tepat dan fokus.”

Presiden menjelaskan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan, pemerintah juga harus bersedia mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan daerah. Tak hanya mendengarkan, pemerintah juga harus tanggap dan mengerjakan apa yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat di daerah.

“Apa yang dibutuhkan oleh sudut-sudut yang ada di setiap provinsi, di setiap daerah, itu ya harus dikerjakan sehingga nantinya akan terjadi sebuah pemerataan ekonomi yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandas Presiden Joko Widodo.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: