Kratom Berbahaya atau Berkhasiat Medis?

  • Bagikan
Kratom yang mengandung alkaloid seperti kafein pada kopi, diyakini mampu mengurangi efek kecanduan opioid, penghilang rasa sakit, dan mengatasi kecemasan. (Foto: drugclassrom.com).

JAKARTA, insidepontianak.com – Daun Kratom (Mitragyna speciosa) adalah tanaman yang berasal dari keluarga kopi (Rubiaceae) dan sejak lama dimanfaatkan sebagai jamu dan ramuan medis tradisional.

Kratom yang mengandung alkaloid seperti kafein pada kopi, diyakini mampu mengurangi efek kecanduan opioid, penghilang rasa sakit, dan mengatasi kecemasan. Mampu menstimulasi reseptor otak layaknya morfin, meski dengan efek samping yang jauh lebih ringan.

Tanaman tropis ini dapat tumbuh setinggi 4-16 meter dan masyarakat biasa memanfaatkan daunnya yang memiliki lebar melebihi telapak tangan orang dewasa. Kratom tumbuh di negara-negara tropis seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, termasuk Indonesia.

Masyarakat di negara-negara tropis tersebut biasa mengonsumsi daun kratom sebagai herbal stimulan yang diyakini berkhasiat meningkatkan produktivitas kerja serta mengurangi rasa lelah. Daun kratom biasa dikonsumsi dengan cara dikunyah seperti daun sirih atau diseduh seperti teh.

Kratom belakangan juga dikenal luas di Amerika Serikat dan beberapa negara Eopa karena dianggap berkhasiat sebagai alternatif medis relaksasi.

Penelitian Profesor Edward W Boyer, ahli pengobatan darurat di University of Massachusetts Medical School, menyebut kratom bisa berperan sebagai stimulan serta membantu meningkatkan fokus jika dikonsumsi dalam dosis rendah.

Sementara untuk penggunaan dengan dosis tinggi, kratom bisa menjadi obat penenang yang menghasilkan efek antinyeri layaknya candu. Masih menurut Boyer, sensasi relaksasi itu terjadi karena kandungan aktif dalam kratom, mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, mengikat pada opioid receptors dalam tubuh manusia.

Boyer menyebut kratom sama ampuhnya seperti morfin dalam hal menghilangkan rasa nyeri.

Tingginya permintaan membuat banyak petani karet dan kelapa sawit di Kalimantan, seperti di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat banyak beralih garapan menanam pohon kratom.

Keuntungan berbisnis kratom tidak bisa dianggap kecil. Berdasarkan data tahun 2016, sedikitnya 400 ton kratom dikirim ke luar negeri dari Kalimantan setiap bulan. Nilai penjualan daun tersebut mencapai US$130 juta per tahun atau sekitar US$30 per kilogram.

Sebagian besar pelanggan membeli kratom secara online melalui situs jual beli, Facebook atau Instagram. Mayortitas ekstrak daun kratom dari Kalimantan Barat dikirim ke Amerika Serikat.

Meski ilmuwan mengatakan kratom memiliki efek positif, hingga saat ini penelitian soal keamanan dan efek sampingnya bagi kesehatan masih sangat minim.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), menyebut kandungan opioid dalam kratom dapat memicu kecanduan hingga kematian. FDA mendesak pembatasan penjualan kratom di 43 negara bagian AS yang melegalkan konsumsi daun tersebut.

Pada Agustus 2016, badan antinarkotik Amerika (DEA) memasukan kratom dalam daftar tanaman yang perlu mendapat pengawasan. Kratom dianggap berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan. DEA berniat mengklasifikasikan tanaman ini ke dalam jenis narkotika golongan I seperti ganja, ekstasi, heroin, dan kokain.

Berdasarkan kajian DEA, penggunaan kratom dalam jangka panjang bisa menyebabkan perubahan emosi yang labil, agresif, pegal-pegal otot dan tulang, serta kesulitan menggerakkan anggota badan.

DEA untuk sementara menerapkan larangan pemanfaatan kratom bagi publik. Kratom dianggap rentan disalahgunakan oleh publik sebagai candu rekreasi.

Keputusan itu menuai protes dari berbagai kalangan termasuk para peneliti. Mengategorikan kratom sebagai narkotik golongan I dianggap membatasi ruang gerak peneliti dalam mengkaji lebih jauh manfaat dari substansi tanaman tersebut.

Akibat tekanan besar dari publik, pada Oktober 2016 DEA mencabut aturan soal larangan pemanfaatan kratom untuk publik.

Erowid.org kemudian mempublikasikan testimoni para pengguna kratom untuk menyelidiki efek positif-negatif penggunaan “daun ajaib” ini. Testimoni pengguna kratom ini menjadi salah satu rujukan penelitian yang dipublikasikan Marc Swogger di jurnal medis “Psychoactive Drugs”.

Dalam jurnal penelitian itu, Swogger mencatat dan mengklasifikasikan laporan pengalaman pengguna ke dalam kategori positif dan negatif. Klasifikasi itu kemudian di sub-kategorikan ke dalam sensasi pengalaman seperti euforia, relaks, mual, gatal-gatal, dan sebagainya.

Hasil dari pengklasifikasian Swogger menunjukkan bahwa mayoritas pengguna kratom (30,4 persen) merasakan pengalaman relaks dan nyaman, serta euforia ketika mengonsumsinya dalam dosisi tinggi.

Sementara komentar negatif paling banyak atas kratom adalah sekitar 16 persen pengguna mengaku merasakan mual-mual. Di luar itu ada pula yang mengaku kerap menggigil dan berkeringat setiap kali mengonsumsi kratom.

Catatan penting dari penelitian tersebut adalah rasio perbandingan efek pengalaman positif dan negatif dari kratom terbilang lebih kecil ketimbang ganja, heroin, kokain, atau alkohol.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: