banner 468x60

Bupati Jarot Ajak Akademisi Ikut Bantu Atasi Stunting

  • Bagikan
Bupati Sintang meminta penanganan stunting dibantu seluruh pihak. Termasuk akademisi dan mahasiswa. (Foto: Humpro Pemkab Sintang).

SINTANG, insidepontianak.com – Bupati Sintang Jarot Winarno membuka seminar kesehatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kapuas Raya (Stikara) di Pendopo Bupati Sintang, Senin (18/11/19).

Seminar itu dilaksanakan dalam rangka dies natalis Stikara Sintang ke-10 dan menghadirkan narasumber Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Lindra Azmar, ahli gizi Adi Sulistyanto, Lea Asnida dari Bappeda dan Fidia Sofianti dari Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sintang.

Bupati Sintang berharap seminar ini mampu memberikan masukan konstruktif dalam mengatasi stunting. “Kita tidak bisa lagi bekerja biasa-biasa saja. Kita perlu inovasi,” kata Jarot.

Menurut Bupati, ada 5 hal yang perlu dilakukan pemeritah di masa datang: pembangunan sumber daya manusia, pembangunan akses ke pedalaman, permudah alur birokrasi, regulasi mendukung investasi, serta pembangunan transformasi ekonomi baru.

“Luas lahan pengembangan sawit di Sintang hanya tersisa 20 ribu hektar saja. Kita harus bergerak ke pengembangan ekonomi kreatif, seperti jagung, teh, coklat, serai, dan yang lainnya.”

Jarot menjelaskan, stunting disebabkan salahnya pola asuh, pola makan, air bersih, dan sanitasi. Pemda Sintang tidak bisa bekerja sendiri mengatasi stunting.

“Kita memang perlu keroyokan mengatasi stunting. Kita sudah  bekerja tetapi kita perlu bantuan pihak lain seperti Stikara ini,” ujar Bupati Sintang.

Ketua Stikara Sintang, Uray B Asnol menyampaikan kegiatan ini dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Stikara Sintang. Seminar fokus pada masalah stunting di Sintang.

Kementerian Kesehatan menjalin kerjasama dengan 150 kabupaten/ kota untuk mengatasi stunting. Pada awal stunting merebak, jumlahnya di Sintang mencapai 44,1 persen.

Tahun 2018 jumlahnya turun menjadi 33 persen dan berdasarkan data terakhir menjadin 32 persen. Pada tahun 2024 ditargetkan angka stunting menjadi di bawah 20 persen.

“Kami akan menurunkan mahasiswa tiga program studi ke desa yang jumlah stuntingnya tinggi. Kami ingin berkontribusi menurunkan stunting,” tambah Uray B Asnol.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: