banner 468x60

Seberapa Manjur Ahok Menjadi Obat BUMN yang Sakit

  • Bagikan
Basuki Tjahaja Purnama disebut-sebut akan memimpin salah satu BUMN.

JAKARTA, insidepontianak.com – Masalah manajemen BUMN seolah tak pernah usai. Penyakit yang berulang dari pemerintahan yang satu berlanjut ke pemerintahan berikutnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah menggarisbawahi 3 penyakit yang kerap menggerogoti BUMN. Tiga penyakit yang menurutnya telah membudaya.

Penyakit pertama adalah kebiasaan buruk BUMN untuk merambah semua bisnis, padahal tidak sesuai inti bisnis (core business) badan usaha milik negara tersebut.

Over extended. Serakah mau diambil semua-semua dari hulu sampai hilir. Banyak pengalaman dari perusahaan seperti itu bisa kolaps,” kata Bambang Yudhoyono.

Penyakit kedua, BUMN sering dijadikan sapi perah. Segala persoalan diserahkan kepada BUMN untuk diselesaikan. Menurut Bambang Yudhoyono, hal itu yang membuat BUMN sering sulit bertahan dan mudah kolaps.

BUMN harus menyadari kontribusinya dengan menjalankan fungsi sosialnya, seperti corporate social responsibility, sesuai proporsional dan jangan sampai menggoncangkan bisnis BUMN tersebut.

Penyakit yang ketiga adalah BUMN dijadikan bancakan atau makanan rebutan. Penyakit ini, harus benar-benar dikikis. “Semua ingin mendapatkan keuntungan pribadi melalui atau dalam kegiatan BUMN.”

Susilo Bambang Yudhoyono mendorong diteruskannya langkah reformasi dan restrukturisasi BUMN sehingga bisa tumbuh dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

BUMN juga kerap merugi karena menerima penugasan dari pemerintah yang membebani namun tidak bisa dihindari.

BUMN Butuh Pemimpin Lurus

Nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ramai dibicaraka belakangan ini. Dia disebut bakal memimpin salah satu perusahaan BUMN. Pada 13 November 2019, Ahok bertemu dengan Menteri BUMN, Erik Thohir, membahas persoalan di perusahaan plat merah.

Presiden Joko Widodo juga membenarkan Ahok akan menjadi salah satu pimpinan di BUMN. Kepastian posisi Ahok baru akan diketahui awal Desember mendatang.

Ketua DPRD Jakarta, Prasetio Edi Marsudi menganggap jejak kinerja Ahok yang cukup baik menjadi salah satu pertimbangan menjadi petinggi BUMN.

“Artinya kalau memang dia mampu sebagai komisaris utama, dia proper juga. Kinerja selama lima tahun memimpin Jakarta keliatannya baik,” kata Prasetio, seperti dikutip Kompas.com.

Menurut Prasetio masa lalu Ahok sebagai mantan narapidana kasus penistaan agama tidak perlu dibesar-besarkan. Ahok sudah mempertanggungjawabkan tuduhan kepadanya melalui hukuman kurungan penjara.

Meski banyak mendapat dukungan, tidak sedikit yang menanggapi negatif rencana penunjukan Ahok sebagai pimpinan BUMN. Salah satu hal yang dipertanyakan soal statusnya sebagai mantan narapidana.

Sebagai mantan narapidana Ahok dianggap tidak boleh menempati posisi tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD memberi pembelaan. Menurut Mahfud, BUMN bukan badan hukum publik, melainkan badan hukum perdata.

“Badan hukum perdata itu tunduk pada undang-undang PT (perseroan terbatas), tunduk ke situ. Bukan undang-undang aparatur sipil negara,” kata Mahfud. “Jika Ahok ditunjuk sebagai pejabat publik, itu baru tidak boleh.”

Mantan calon wakil presiden, Sandiaga Uno menduga latar belakang pendidikan Ahok sebagai sarjana pertambangan yang memungkinkannya dipilih memimpin salah satu BUMN.

“Mungkin Pak Ahok memiliki kekuatan di bidang pertambangan karena beliau sarjana pertambangan. Yang dicari tentu kecocokannya kepada right man at the right place,” kata Sandi.

Keberhasilan Ahok menakhodai Provinsi Jakarta menjadi nilai plus memilihnya menjadi pemimpin BUMN. Hal itu yang senada dengan pendapat mantan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif.

Menurut Buya Maarif, Ahok sukses menjalankan tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. “Dia pekerja keras dan orangnya lurus. Selama ditahan, dia banyak belajar, terutama dalam menjaga lidah ya,” kata Buya, dikutip dari Kompas.com.

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu juga tak terlalu mempersoalkan komentar publik yang meragukan kemampuan Ahok. “Biarkan saja, nggak usah dengar. Pokoknya (Ahok) tunjukkan prestasi, kerja dengan baik. Saya rasa dia bisa memimpin. Jadi gubernur bisa, apalagi membawa BUMN.”

Komentar berbeda disampaikan Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli. Dia menilai wacana penunjukan Ahok hanya akan menambah masalah.

“Masalah Indonesia ini sudah banyak. Ini (Ahok) orang bermasalah yang hanya akan menimbulkan kontroversi yang nggak perlu,” kata Rizal Ramli ketus.

Rizal juga menyoroti rekam jejak Ahok yang menurutnya tidak mulus. Diantaranya kasus pembelian lahan RS Sumber Waras saat masih menjabat Gubernur Jakarta. Dia menyarankan petinggi BUMN ditunjuk dari sektor swasta yang lebih kompeten.

Jika benar Ahok dipilih memimpin salah satu BUMN, banyak harapan diletakan di pundak pria asal Bangka Belitung ini. Dari mulai bersih-bersih birokrasi, hingga memutus mata rantai BUMN yang sering disebut sebagai ‘sapi perahan’ segelintir orang.

Tapi jika penyakit BUMN sudah menjadi sistemik, menyeluruh, menjalar bahkan sudah membudaya, mampukah hal itu disembuhkan oleh Ahok seorang?

 

 

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: