banner 468x60

Presiden Ajak Industri Tambang Lakukan Hilirisasi Produk

  • Bagikan
Presiden menerima penghargaan dari Asosiasi Pertambangan Indonesia. (Foto: Kantor Sekretariat Presiden).

JAKARTA, insidepontianak.com – Presiden Joko Widodo mengajak para pelaku industri tambang melakukan hilirisasi produk pertambangan. Saatnya Indonesia menuju era energy ramah lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Indonesian Mining Association Award di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (20/11/19).

Menurut Presiden, berdasarkan perbincangannya dengan sejumlah pimpinan organisasi internasional, dunia saat ini menuju era energi ramah lingkungan.  “Dunia sudah menuju kepada energi yang ramah lingkungan. Semuanya harus mulai siap-siap dan hati-hati,” kata Joko Widodo.

Dengan hilirisasi industri tambang diharapkan membantu pemerintah mengatasi defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan. Meski ekspor dari industri pertambangan, sekarang sudah memberi kontribusi kepada neraca perdagangan Indonesia.

“Saya mengajak untuk memulai memproses barang-barang tambang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sehingga negara memiliki nilai tambah dan memiliki multiplier effect yang besar. Termasuk dalam penciptaan lapangan kerja yang itu dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Jika semua pelaku industri tambang menuju pada hilirisasi dan mengekspor barang setengah jadi maupun bahan jadi, Presiden meyakini masalah defisit bisa diselesaikan dalam kurun waktu 3 tahun.

“Itu hanya satu, kita baru berbicara satu komoditas nikel. Belum berbicara timah, batu bara, copper. Banyak sekali yang bisa kita lakukan dari sana karena dari situlah akan muncul nilai tambah.”

Sampai tahun 2017,  UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, telah mengamanatkan hilirisasi industri. Meskipun kini ada relaksasi menjadi tahun 2022, Presiden kembali mengajak pelaku industri tambang untuk bersiap diri.

“Kalau memang perlu bergabung, bergabunglah. Kalau ada masalah yang berkaitan dengan pendanaan untuk menyelesaikan ya marilah kita bicara,” ujarnya.

Bukan hanya nikel, hilirisasi produk tambang lain juga berpotensi menghasilkan produk turunan yang menghasilkan nilai tambah. Tembaga misalnya yang turunannya bisa sampai 15 kali lipat nilainya atau asam sulfat sebagai turunan nikel yang dapat dipakai sebagai campuran membuat baterai lithium.

“Desain strategi besar bisnis negara dalam jangka ke depan kita ingin membangun mobil listrik. Ini betul-betul bisa kita capai karena kuncinya ada di baterai,” kata Presiden.

Menurut Joko Widodo, Indonesia memiliki 70 persen bahan-bahan untuk membuat baterai lithium. Sehingga menurutnya, akan sangat keliru jika barang-barang tersebut diekspor dalam bentuk mentah.

Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pertambangan Indonesia, asosiasi perusahaan tambang tertua di Indonesia yang terbentuk sejak tahun 1975.

Asosiasi ini beranggotakan perusahaan pemegang kontrak karya (KK), pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B), dan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) yang telah berkontribusi sebesar 60 persen dari produk domestik bruto sektor pertambangan.

Pada acara itu Presiden menerima penghargaan tertinggi bidang pertambangan yang diserahkan Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia, Ido Hutabarat. Penghargaan tersebut diberikan atas kepedulian dan keberpihakan Presiden terhadap industri tambang.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut antara lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, dan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: