banner 468x60

Wisata Sungai Kapuas ‘Bercerita’

  • Bagikan
Perjalanan wisata menggunakan kapal bandong lebih menarik jika dilengkapi informasi sejarah permukiman di bantaran Sungai Kapuas. (Foto: insidepontianak/ Ahmad Sofian dZ).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Siang atau sore saat cuaca cerah. Kita mungkin pernah naik kapal “wisata bandong” dari Taman Alun Kapuas menyusuri tepian sungai.

Dengan tarif Rp15 ribu untuk dewasa dan untuk Rp10 ribu anak-anak, kita dapat menikmati pelayaran 30-45 menit menyusuri Sungai Kapuas. Dari Taman Alun menyeberangi sungai sedikit mengarah ke Kampong Beting, kemudian Masjid Jami’, Istana Kadriyah, Kampong Tambelan-Sampit, melewati bawah Jembatan Kapuas I, hingga ke kampung Banjar Serasan, Kampung Kuantan, Kampung Kamboja untuk kemudian kembali ke Taman Alun kapuas .

Saat berlayar, selain melihat beragam kegiatan masyarakat di tepian sungai kita juga akan melewati kampung-kampung bersejarah, bangunan tua, tempat ibadah, bekas pabrik getah dan lainnya. Identitas sekaligus ciri khas masyarakat di tepi Sungai Kapuas. Pada moment tertentu bahkan kita dapat menyaksikan meriam-meriam karbit berjajar di pinggir sungai.

Keindahan landsacpe alam, peninggalan bersejarah, hingga aktifitas warga seolah menjadi daya tarik tersendiri. Yang membuat satu moment dan keindahan ketika datang dan berkunjung ke Kota Pontianak.

Tapi sayang, selama pelayaran tidak ada penjelasan sejarah dari lokasi-lokasi yang dilalui. Tentu akan lebih baik, bermanfaat, dan sangat berkesan jika perjalanan naik kapal “wisata banding” disuguhkan informasi. Baik informasi sejarah maupun informasi kekinian.

Informasi mungkin dapat diberikan saat pengunjung masuk kapal bandong. Pengunjung diberi informasi tentang keberadaan Taman Alun Kapuas yang dahulu disebut Taman Larrive (Larrive Park).

Ketika kapal bergerak ke Kampung Beting ada informasi tentang kampung yang berada di delta Tanjung Besiku itu. Saat melewati Mesjid Jami’ Sultan Syarief Abdurrahman Alkadrie, seharusnya ada informasi yang menjelaskan awal mula keberadaan mesjid.

Begitu juga saat melintasi Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, penumpang dapat diberi informasi soal sisilah Sultan Pontianak pertama hingga sekarang. Saat kapal wisata melintasi kampung Tambelan-Sampit, pemandu bisa bercerita soal sejarah nama kampung tua tersebut.

Melintasi kolong Jembatan Kapuas 1, pengunjung bisa diberi penjelasan kapan jembatan dibangun dan kapan kali pertama digunakan. Begitu pula saat melintasi Kampung Banjar-Serasan, Kampung Saigon, berbelok-menyeberang ke Kampung Bangka, melewati Kampung Bansir, Kampung Kuantan, Kampung Kamboja, Kampung Melayu. Alangkah syahdunya suasana jika ada informasi singkat-padat berkenaan penamaaan kampung-kampung tersebut.

Ada penjelasan kenapa di sebut Shenghie, saat melewati pelabuhan rakyat tertua di Pontianak. Serta penjelasan sejarah awal mula kawasan Pasar Parit Besar hingga saat ini lebih dikenal dengan nama Pasar Tengah.

Menyajikan keindahan tepian Sungai Kapuas dengan disertai informasi-informasi tentunya akan lebih bermanfaat. Bagi semua pengunjung baik yang berasal dari Kota Pontianak juga yang berasal dari luar kota.

Informasi yang diberikan harus akurat, melalui kajian sejarah mendalam dengan membuka peluang saran dan kritik dari berbagai pihak. Juga tentunya harus disampaikan dengan cara yang komunikatif dan sederhana tanpa kehilangan makna.

Pemberian informasi bisa disampaikan langsung melalui pemandu wisata yang menyertai setiap pelayaran kapal wisata. Atau dengan cara menyiapkan rekaman berisi informasi yang diputar saat kapal melintasi objek wisata yang dimaksud.

Sehingga nantinya, setiap penumpang kapal wisata bandong akan mendapat kesan lebih mendalam dan pulang membawa informasi sejarah peradaban tepian Sungai Kapuas.

Peran para pemangku kepentingan menjadi sangat penting. Baik Pemerintah Kota Pontianak, melalui Bappeda, Dinas Pariwisata, serta Dinas Komunikasi dan Informatika.

Lembaga penelitian, pegiat sejarah, pelaku wisata, UMKM, komunitas, juga para relawan dapat terlibat dalam pengembangan wisata sejarah Sungai Kapuas. Sehingga Kota Pontianak menjadi kota yang literat akan narasi keindahan dan narasi sejarah. Semoga.

Ahmad Sofian dZ, pegiat sejarah dan penulis buku “Pontianak Heritage”.

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: