banner 468x60

Mencoba Sumpit di Kampung Adat Dayak Tapinbini

  • Bagikan
Sumpit selain sebagai senjata tradisional suku Dayak juga menjadi sarana olahraga dan pertunjukan wisata. (Foto: boombastis.com).

SAMARINDA, insidepontianak.com – Kampung adat kini menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Selain berwisata juga dapat memperlajari dan mengenal budaya masyarakat sekitar.

Kampung adat Dayak misalnya, tidak hanya menjaga dan melestarikan budaya Dayak, tetapi juga memberikan pengetahuan pada masyarakat soal kearifan budaya yang unik.

Pembentukan desa wisata juga menjadikan mata pencaharian baru kepada masyarakat untuk bisa tetap memelihara lingkungannya. Berikut beberapa kampung adat Dayak yang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi selama liburan sesuai pilihan situs promosi wisata pesona.travel.

Desa Wisata Pampang

Desa Pampang adalah desa budaya di Sungai Siring, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Dihuni oleh Suku Dayak Apokayan dan Kenyah yang sebelumnya berdomisili di Kutai Barat dan Malinau.

Di desa ini setiap tahun digelar acara Pelas Tahun, memperingati ulang tahun Desa Pampang. Terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota Samarinda, lokasi wisata ini sangat mudah dijangkau.

Salah satu daya tarik Desa Pampang adalah rumah adat Lamin Adat Pemung Tawai. Rumah adat yang terbuat dari kayu ulin dengan hiasan dan ukiran di hampir semua dindingnya.

Didominasi warna hitam, putih, dan kuning, tiang penyangga rumah 2 meter juga dihiasi ukiran indah. Pada atap yang terbuat dari kayu sirap, terdapat ukiran kokoh di tengah atap dan sudut-sudutnya.

Kampung Purbakala Merabu

Kampung Merabu berada di wilayah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kampung ini bisa ditempuh selama 12 jam dari Kota Samarinda.

Jika memilih transportasi udara, lokasi Kampung Merabu dapat ditempuh 4 jam dari bandara terdekat. Kampung seluas 22 ribu hektare ini sebagian besar masuk areal hutan lindung. Sebagian hutan ditetapkan sebagai kawasan hutan desa.

Kampung ini menyimpan berbagai situs purbakala masyarakat Dayak Basaf yang tersembunyi di Gua Beloyot. Di situs prasejarah ini terdapat cetakan tapak tangan yang diyakini berusia lebih 4 ribu tahun.

Pada dinding dan langit-lagit gua juga terdapat lukisan hewan dan perisai khas Dayak. Posisi cetakan tapak tangan menunjukkan derajat masyarakat Dayak masa itu. Semakin tinggi posisi cetakan tapak tangan, semakin tinggi kasta seseorang.

Di Kampung Merabu juga terdapat Danau Nyadeng yang berair jenih. Untuk mencapai Danau Nyadeng harus ditempuh menumpang perahu ketinting selama setengah jam dari Kampung Merabu, dilanjutkan sekitar 1 jam berjalan kaki. Di Danau Nyadeng dapat ditemui berbagai satwa langka yang dilindungi.

Desa Wisata Pulau Sapi

Desa Wisata Pulau Sapi di Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, memiliki ciri khas rumah dengan ukiran Dayak Lundayeh. Rumah-rumah masyarakat di desa ini dicat warna warni.

Terdapat 2 patung dan replika buaya di Balai Adat Desa Pulau Sapi. Masyarakat di desa ini setiap tahun menggelar Festival Aco Lundayeh, dengan pagelaran seni dan budaya. Saat Festival Aco Lundayeh warga suku Dayak Lundayeh yang tersebar di Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam berkumpul di tempat ini.

Di Kabupaten Maliau ditetapkan 5 desa wisata yaitu Desa Long Alango, Desa Serindit Malinau Seberang, Desa Apau Pin, Desa Setulang, serta Desa Pulau Sapi.

Desa Pulau Sapi ada di Kecamatan Mentarang. Nama desa ini konon berasal dari cerita seekor sapi yang hanyut dari Kerayan dan terdampar di pulau Sungai Mentarang dalam kondisi masih hidup.

Rumah Lamin Mancong

Lamin adalah rumah panjang khas suku Dayak yang terbuat dari kayu. Lamin Mancong adalah rumah kayu khas suku Dayak Benuaq. Kayu yang digunakan adalah kayu ulin.

Lamin Dayak adalah rumah tidak bertingkat. Rumah ini biasanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara adat dan tujuan wisata.

Lokasi Lamin Mancong dekat dengan objek wisata Tanjung Isuy dan Danau Jempang, Kutai Barat. Berdiri di atas lahan seluas 1.005 meter persegi, rumah Lingkungan sekitar Lamin Mancong terasa asri karena dikelilingi pohon-pohon rindang dan terdapat aliran sungai tak jauh dari situ. Berbagai jenis patung berdiri tegak di halaman Lamin Mancong yang luas.

Konon jumlah patung di halaman menunjukan jumlah kerbau yang disembelih untuk dikorbankan kepada arwah leluhur yang dianggap berjasa. Ritual penyembelihan kerbau dilakukan dalam ritual adat Kuangkai.

Desa Wisata Loksado

Loksado adalah Desa masyarakat Dayak yang di Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Loksado merupakan rumah bagi kelompok etnis Dayak Meratus di Kalimantan. Mereka menempati rumah-rumah tradisional yang disebut Balai.

Sedikitnya terdapat 43 Balai yang tesebar di 9 desa di Loksado. Balai paling paling menonjol adalah Balai Hambawang Masam, Balai Adat Malaris, Balai Kacang Parang, dan Balai Haratai.

Balai merupakan rumah panjang terbuat dari kayu dengan puluhan kamar berukuran 3×4 meter dan ditempati oleh puluhan keluarga.

Balai digunakan untuk ritual keagamaan Dayak Meratus, mengikuti ajaran agama kuno “Kaharingan” yang berarti “hidup”. Iman ini mencakup konsep Dewa Agung dan menekankan harmoni antara manusia, manusia dan alam, serta harmoni manusia dan Tuhan.

Desa Wisata Lopus dan Tapinbini

Masyarakat Dayak di Desa Lopus, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Desa wisata di pelosok Kalimantan Tengah ini menyuguhkan pertunjukan tradisi dan cara hidup suku Dayak dengan lingkungan yang masih alami.

Salah satu pertunjukan adat yang biasa diadakan di desa adat ini adalah Garung Pantan. Warga kampung menyambut tamu dengan tuak manis yang disajikan dalam potongan bambu.

Di Tapinbini, tuak manis disajikan dalam tanduk kerbau. Para pengunjung diajari cara mengupas kulit kayu serta mengolahnya menjadi pakaian, ikat kepala, dan topi tradisional yang disebut lawung.

Di Tapinbini, pengujung bisa menyaksikan bagaimana masyarakat Dayak memproduksi beras dengan cara ditumbuk. Juga dapat menyaksikan permainan tradisional serta mencoba sumpit, senjata tradisional khas Dayak.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: