banner 468x60

Kemenhub Dorong Optimalisasi Penerbangan Perintis di Boven Digul

  • Bagikan
Kementerian Perhubungan mendorong angkutan udara perintis dan angkutan kargo perintis, untuk menghubungkan kawasan tertinggal, terdepan dan terluar. (Foto: Kementerian Perhubungan).

JAKARTA, insidepontianak.com ­- Penerbangan perintis yang diselenggarakan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Angkutan udara  perintis dan angkutan kargo perintis, menghubungkan beberapa daerah dengan beberapa distrik-distrik di kawasan, tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia.

Salah satu dampak positif angkutan kargo perintis sangat dirasakan masyarakat di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Melalui Bandar Udara Tanah Merah, barang kebutuhan dapat disalurkan ke sejumlah distrik.

“Kegiatan angkutan udara perintis dan kargo perintis ini sejalan dengan program Presiden Joko Widodo yaitu untuk menurunkan disparitas harga-harga bahan pokok  dan barang penting yang dibutuhkan di seluruh pelosok Indonesia,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti di Jakarta.

Lebih lanjut Polana menjelaskan, program penerbangan perintis kargo adalah wujud kehadiran Negara untuk menjawab persoalan di daerah yang sulit dijangkau oleh moda transportasi darat.

“Untuk itu mari kita saling berkoordinasi demi satu tujuan yang mulia ini sesuai kewenangan tugas masing-masing. Sehingga kegiatan angkutan udara perintis kargo ini dapat tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kita di Papua,” ujar Polana.

Bandar Udara Tanah Merah saat ini memegang peran penting di wilayah kawasan Boven Digoel. Bandara ini menjadi penghubung penerbangan kargo perintis ke kabupaten lain seperti Pegunungan Bintang, Kabupaten Mappi dan juga 15 distrik lainnya di Kabupaten Boven Digoel.

Subsidi angkutan udara perintis dan kargo perintis saat ini melayani rute dari Bandar Udara Tanah Merah ke beberapa distrik seperti Bomakia, Oksibil, Kiwirok, Koroway Batu, Maggelum, Wanggemalo, dan Yaniruma.

Bekerja sama dengan beberapa maskapai, penerbangan angkutan udara perintis dan kargo perintis dilayani dengan pesawat jenis Caravan dan Pilatus. Hal ini disesuaikan dengan medan pegunungan Papua yang hanya bisa dijangkau pesawat kecil.

“Program kargo perintis sudah berjalan sejak tahun 2017 sesuai perintah Presiden. Dampaknya sangat besar untuk menurunkan harga-harga barang bagi warga terpencil yang tinggal di gunung-gunung. Sejak ada program ini, harga-harga barang bisa ditekan sampai 40 persen, bahkan 50 persen untuk jenis-jenis barang tertentu,” jelas Polana.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas III Tanah Merah, Asep Soekarjo mengatakan, bandara ini melayani 60 kali penerbangan pesawat setiap hari. Mayoritas merupakan penerbangan kargo perintis ke pedalaman.

Untuk rute ke Kabupaten Pegunungan Bintang, setiap hari Bandara Tanah Merah melayani pengiriman barang kebutuhan pokok sebanyak 60 ton. “Dengan jumlah sebesar itu warga di sekitar masih mengharapkan dapat ditingkatkan lagi. Mengingat area pegunungan Bintang hanya dapat diakses melalui udara,” kata Asep.

Untuk angkutan perintis penumpang, melalui subsidi dari pemerintah warga sangat terbantu dengan harga tiket yang terjangkau. Penerbangan perintis kargo, pemerintah memberikan subsidi sehingga biaya angkutan barang pokok, dan bahan bangunan jenis tertentu dapat ditekan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan memberikan perhatian dengan melakukan pembangunan bandara-bandara di pedalaman Papua. Panjang landas pacu bandara ditambah disertai pembangunan infrastruktur lainnya.

Untuk lebih mengoptimalkan penerbangan kargo perintis, Bandara Tanah Merah memerlukan fasilitas gudang kargo berukuran lebih besar dari yang ada sekarang. Sehingga jumlah masyarakat Papua di pedalaman yang terlayani dapat lebih banyak lagi.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: