banner 468x60

Anak Muda Indonesia Tuntut Pemerintah Tegas Atasi Krisis Iklim

  • Bagikan
Lingkungan
BANJIR - Banjir menjadi salah satu akibat dari adanya perubahan iklim yang kian panas dan menyebabkan bencana lingkungan. (Foto BNPB)

JAKARTA, insidepontianak.com – Ribuan orang dari berbagai usia yang terdiri dari anak-anak, orang muda, dan orang tua dari berbagai komunitas bersuara dan beraksi kembali turun ke jalan. Di Indonesia, mereka mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk menunjukkan keseriusan dan segera menyatakan Deklarasi Darurat Iklim.

Dengan deklarasi tersebut, artinya pemerintah wajib memobilisasi sumber daya dan usaha untuk mengatasi krisis iklim. Aksi ini adalah bagian dari Global Climate Strike menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB ke 25 (COP25) di Madrid, Spanyol.

“Pemerintah Indonesia belum menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi krisis iklim. Hal ini ditunjukkan dengan wacana penghapusan analisis dampak lingkungan (AMDAL) atas alasan investasi. Isu lainnya datang dari pendanaan energi fosil batu bara yang terus dilancarkan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Dimas Muhammad dari Extinction Rebellion Indonesia.

Pembakaran hutan dan lahan masih terus terjadi, tanpa adanya usaha keras dalam pencegahan dan penanggulangan. Pemerintah Indonesia seharusnya bisa menjadi pionir dalam pergerakan melawan krisis iklim dengan menjadi negara pertama di Asia Tenggara untuk mendeklarasikan darurat iklim.

Tahun 2020 digadang-gadang sebagai tahun Climate Action, yang akan menandai aksi nyata dalam melakukan restorasi iklim. Laporan PBB menyebutkan bahkan kalau semua negara memenuhi komitmen Perjanjian Paris (Paris Agreement), suhu bumi akan tetap naik hingga sebesar 3,2 °C. Namun jika emisi global diturunkan sebesar 7,6 % setiap tahunnya sampai tahun 2030, maka target pembatasan kenaikan suhu 1,5 °C dapat tercapai.

Elizabeth Madeline, mahasiswi penggiat aksi Jeda Untuk Iklim menyampaikan, krisis iklim bukan isu yang masih jauh di masa depan. Sebab hal ini sudah terjadi. Sebagai generasi muda, pasti akan terkena imbasnya.

“Nasib kami harus diperjuangkan karena sulit untuk tidak menghiraukan dampak dari krisis iklim. Kami menuntut aksi nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah krisis iklim dengan urgensi yang selayaknya,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh peserta aksi lainnya. “Saya memilih berjuang untuk perubahan yang lebih baik. Sebagai orang tua saya tidak mau menjadi penonton dan membiarkan generasi anak saya punah dan menjadi korban kata Yemmi Liu, orang tua yang tergabung dalam Perkumpulan Homeschooler Indonesia.

Bencana-bencana ekologi berdatangan, entah itu gempa bumi, kelaparan, banjir, dan suhu panas. Orang tak bisa diam menunggu. Hanya menjadi penonton, atau memilih jadi pelaku? Sebagai orang tua, ia mengajak para orang tua lainnya, untuk ikut peduli dan memperjuangkan hak anak-anak, dengan menyuarakan aspirasi kepada pemerintah untuk mendeklarasikan krisis iklim.

Selama pelaksanaan aksi, pemanfaatan energi terbarukan sebagai salah satu solusi dari transisi energi juga menjadi perhatian utama. Semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa kita semua harus segera memanfaatkan sumber energi yang ramah lingkungan.

“Sekarang masyarakat menunggu Pemerintah untuk juga sadar dan memiliki keinginan untuk beralih,” ujar I Gusti Krishna Aditama dari Solidaritas Energi Terbarukan Indonesia.

Dalam aksi Jeda Untuk Iklim kali ini, peserta aksi akan berjalan mulai dari halaman Balai Kota DKI Jakarta menuju Taman Aspirasi sebagai titik akhir. Sepanjang aksi mereka terus menyuarakan tuntutan agar Pemerintah mendengarkan para ilmuwan dan menyatakan status darurat iklim di Indonesia. Tuntutan tersebut akan disampaikan ke Presiden Jokowi. Perwakilan peserta aksi akan memberikan tuntutan tersebut secara langsung kepada perwakilan pemerintah di Kantor Sekretariat Negara.

Aksi Jeda Untuk Iklim ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga di beberapa kota lainnya, yaitu Malang, Makassar, Semarang, dan Yogyakarta. Secara global, aksi Jeda Untuk Iklim ini dilakukan serentak di berbagai kota di seluruh dunia dan diikuti oleh jutaan orang. Pada aksi sebelumnya tanggal 20 September 2019, ada 8 juta orang yang mengikuti Jeda Untuk Iklim Global. (IP/01)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: