Kawanan Harimau Mangsa Ternak Warga di Desa Leubok Pusaka

Kebakaran yang terjadi bersamaan dengan pembalakan liar dan alih fungsi hutan sekunder menjadi perkebunan sawit, mengancam kelangsungan hidup satwa liar terancam punah seperti gajah sumatera dan harimau sumatera. (Foto: mongabay.co.id)
banner 468x60

ACEH UTARA, insidepontianak.com – Kawanan harimau Sumatera masuk ke perkebunan milik warga di Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (29/11/19). Lima sapi milik warga tewas diserang kawanan harimau.

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Utara dan Lhokseumawe, Kamarudzaman menyebutkan, sapi yang diserang milik Paimin dan Mahmud, warga Desa Leubok Pusaka.

Muat Lebih

“Kami sudah cek lokasi kejadian. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari hutan lindung,” kata Kamarudzaman, dalam keterangan tertulis kepada kompas.com, Sabtu (30/11/19).

Menurut Kamarudzaman, warga melaporkan mulai melihat kawanan harimau di kawasan penduduk pada September lalu. Belakangan, harimau juga memangsa hewan ternak milik warga.

“Untuk sementara kami imbau warga melakukan patroli malam hari. Warga meminta harimau tersebut diusir ke kawasan hutan. Kami akan mendatangkan pawang untuk mengusirnya,” ujar Kamrudzaman.

Dia menyebutkan, harimau sumatera adalah satwa yang dilindungi. Jumlah harimau sumatera semakin sedikit seiring maraknya perburuan terhadap satwa tersebut. “Senin kita usahakan sudah sampai pawang dan melakukan pengusiran.”

Konflik Hewan dan Manusia

Konflik hewan dan manusia memanas di sekitar kawasan hutan. Alih fungsi lahan hutan untuk perkebunan dan permukiman mempersempit ruang gerak hewan.

Kebakaran hutan yang terjadi di musim kemarau pada September dan Oktober, menyebabkan kerusakan di kawasan lindung. Dampak kebakaran di Sumatera Selatan, merusak sekitar 8 persen wilayah Taman Nasional Sembilang.

Kebakaran yang terjadi bersamaan dengan pembalakan liar dan alih fungsi hutan sekunder menjadi perkebunan sawit, mengancam kelangsungan hidup satwa liar terancam punah seperti gajah sumatera dan harimau sumatera. Kondisi populasi harimau di Sembilang selama kebakaran belum diketahui pasti. The Zoological Society of London yang memiliki tim memantau populasi harimau sumatera di wilayah tersebut belum bisa menyebut jumlah pasti.

“Kami bekerja langsung di lapangan dan terkena dampak kebakaran hutan seperti yang lainnya, (staf kami) belum bisa melakukan analisis atau pemantauan spesifik terhadap kebakaran hutan di Berbak Sembilang,” kata Emma Ackerley, staf pers ZSL, kepada Mongabay.

Data dan citra satelit menunjukkan kebakaran mungkin berdampak besar pada harimau di taman nasional. Menurut data University of Maryland, NASA, dan LSM WWF dan RESOLVE, serta citra satelit Planet Labs, sekitar 20 ribu hektare atau sekitar 30 persen habitat harimau di Sembilang terbakar antara Agustus dan September.

Otoritas Taman Nasional Berbak Sembilang tidak menanggapi beberapa permintaan untuk memberi komentar atas situasi tersebut.

Yoga Travolindra, peneliti dari Forum Konservasi Gajah mengatakan kecil kemungkinan api membunuh gajah. Umumnya kebakaran terjadi di daerah bakau yang bukan habitat utama gajah.

Sementara tidak ada bukti kematian harimau di habitat bakau dalam pengamatan di lapangan baru-baru ini.

“Masalah utama gajah sumatera saat ini adalah habitat dan ekosistemnya terganggu konversi lahan, dari hutan sekunder dan semak belukar menjadi perkebunan sawit, yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang beroperasi di sekitar taman nasional,” kata Travolindra.

Berkurangnya cakupan area berburu harimau sumatera akibat perburuan, alih fungsi hutan, dan karhutla, mendesak hewan liar ini masuk permukiman penduduk.

Konflik hewan dan manusia dipastikan merugikan keduabelah pihak. Hal yang tak dapat dihindari, konflik ini bakal mengancam kelangsungan hidup harimau sumatera yang terancam punah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *