Penanganan AIDS Indonesia Lamban

Berdasarkan data IAC, sejak 2018 hingga 2019 penularan baru HIV/AIDS meningkat dari 48 ribu menjadi 49 ribu orang. (Foto: nova.grid.id)
banner 468x60

JAKARTA, insidepontianak.com – Peringatan Hari AIDS sedunia, 1 Desember,  menjadi momen tepat untuk mengetahui penanganan HIV-AIDS di Indonesia.

Organisasi berbasis komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC) menyebut Indonesia masuk dalam kategori darurat AIDS. Sebab kondisis di lapangan tidak jauh lebih baik, meski sudah lebih banyak kasus AIDS yang terungkap.

Muat Lebih

“Secara kasus jauh lebih banyak yang ditemukan, hanya situasinya tidak jauh lebih baik. Kita bisa bilang saat ini Indonesia darurat AIDS,” kata Direktur Eksekutif IAC, Aditya Wardhana kepada Suara.com.

Kategori darurat diberikan mengingat di Indonesia masih sering terjadi kekosongan obat antiretrovirasl (ARV). Padahal para penderita AIDS harus meminum obat ini setiap hari untuk menekan penyebaran virus pada tubuh.

“Jumlah kematian AIDS tinggi sekali. Angka lost to folow up yang juga tinggi. Cakupan pengobatan masih rendah, itulah kenapa kita bilang saat ini (situasi) bener-bener emergensi,” ungkap Aditya.

Khusus ARV untuk penderita anak yang sering kosong, Kementerian Kesehatan RI beralasan bahwa kendala impor atau sedikitya pabrik obat yang mau memproduksi dalam jumlah kecil. Jumlah penderita anak masih sangat jarang ditemukan.

Menurut Aditya pemerintah hanya mencari alasan dan menutupi ketidakseriusan dalam menangani AIDS. “ODHA anak itu jumlahnya sekitar 6 ribu. Itu alasan (pemerintah) dari 10 tahun lalu. Pemerintah kurang serius, kalau serius pasti sudah seperti negara maju yang mulai bisa mengendalikan epidemi.”

Diskriminasi Sosial

Stigma dan diskriminasi terhadap para penderita HIV/AIDS masih terjadi di masyarakat. Kendala diskriminasi dan sosial tidak kalah seriusnya dibandingkan ketidakseriusan pemerintah.

Banyak ODHA tidak sadar mereka tertular. Mereka tertular bukan karena pergaulan tapi melalui suami, sehingga ibu rumah tangga dan anaknya ikut terjangkit.

Nining Ivana dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) menyebut stigma negatif terhadap ODHA tidak hanya oleh masyarakat umum tapi juga tenaga medis.

Saat dirawat di rumah sakit, ODHA sering kali diperlakukan tidak mengenakkan. Tenaga medis seharusnya paham soal penularan virus HIV.

“Kemarin anggota IPPI barus selesai melahirkan, masuk ruang operasi dan rawat inap. Suster magang pegang kaki pasien dalam kondisi diselimuti. Terus suster yang jaga intens, menegur ‘jangan dipegang dia pasien B20’ itu artinya pasien HIV. Padahal sudah ditutup dengan selimut, nular dari mana?” ujar Nining.

Nining mengakui pelayanan kesehatan sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun masih saja ada tenaga kesehatan yang melakukan perilaku diskriminatif. Akhirnya membuat para ODHA tidak nyaman dan merasa terintimidasi secara psikologis, sehingga malas mendatangi rumah sakit.

Ada juga beberapa kejadian ODHA diusir oleh warga karena takut menularkan HIV/AIDS. Anak ODHA juga banyak yang ditolak sekolah karena orang tua murid lainnya khawatir anaknya tertular.

Masyarakat seharusnya mengetahui cara penularan HIV/AIDS melalui cairan sperma, vagina, air asi, dan darah. HIV/AIDS juga tidak akan menular jika pertukaran air liur, kontak fisik, kontak sosial, dan sebagainya.

Indonesia kalah dibandingkan India yang  jumlah penderita ODHA-nya 4 kali lipat lebih tinggi. Pemerintah India sudah mampu membuat obat ARV sendiri.

“Indonesia terlalu menggantungkan pada beberapa farmasi. Ini bukan hanya motif sosial tapi juga motif mencari keuntungan. Tender juga masih gagal,” ujar Direktur Eksekutif IAC, Aditya Wardhana.

Berdasarkan data IAC, sejak 2018 hingga 2019 penularan baru HIV/AIDS meningkat dari 48 ribu menjadi 49 ribu orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *