banner 468x60

Sujiwo: Jangan Malu Jadi Warga Transmigran

  • Bagikan
Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo menghadiri Peringatan Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) ke-69 di Desa Rasau Jaya Satu. (Foto: Humpro Pemkab Kubu Raya).

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo menghadiri Peringatan Hari Bhakti Transmigrasi (HBT) ke-69 di Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya, Sabtu (7/12).

Peringatan digelar Keluarga Besar Makarti Muktitama Transmigrasi Kalimantan Barat, dirangkai dengan acara temu kangen warga transmigrasi yang telah mendiami Kalimantan Barat sejak tahun 1972.

Ketua Makarti Muktitama Transmigrasi (MTT) Kalimantan Barat, Joko Sidik Pramono mengatakan peringatan HBT sengaja digelar agar warga transmigran tidak melupakan perjuangan para perintis transmigrasi.

Joko menjelaskan beratnya perjuangan para perintis membuka lahan transmigrasi. Membutuhkan waktu hingga 1 dekade untuk menyebarkan warga transmigran secara merata di beberapa wilayah di Kecamatan Rasau Jaya.

“Penempatan warga transmigran di Rasau Jaya dianggap berhasil. Sehingga sejumlah daerah di Kalimantan Barat pun ikut mengusulkan program transmigrasi. Berdasarkan data, hingga kini terdapat ratusan ribu kepala keluarga yang berstatus warga transmigrasi,” kata mantan Dirjen Transmigrasi dan Sekjen Kementerian Desa ini.

Atas keberhasilan program transmigrasi, Joko Sidik mendorong program tersebut dilanjutkan. Dia meminta para kepala daerah untuk mengusulkan program transmigrasi ke pemerintah pusat.

“Ke depan harus tetap ada. Karena berhasil, akhirnya mereka menyebar ke seluruh Kalbar. Seluruh Indonesia sudah 1,25 juta kepala keluarga yang ditransmigrasikan. Di Kubu Raya lebih dari 10 ribu kepala keluarga. Saya harap pemda bisa mengusulkan transmigrasi kepada pemerintah pusat,” ujar Joko.

Keberhasilan penempatan transmigrasi di Kalimantan Barat diakui Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo. Keberhasilan itu ditunjukkan dengan banyaknya warga transmigran yang mengisi hampir semua sektor masyarakat, seperti politik, pendidikan, pemerintahan, ekonomi, hingga kebudayaan.

“Dari kepala sekolah sampai guru-gurunya itu semua warga transmigrasi. Kemudian yang jadi politisi juga banyak, seperti saya sendiri. Yang jadi polisi, bahkan yang lulus Akademi Militer dan Akademi Polisi pun sudah ada,” kata Sujiwo.
Sujiwo meminta warga tidak malu dengan statusnya sebagai warga transmigran. Warga transmigran punya hak dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi bagi daerah.

“Jangan malu untuk mengakui sebagai warga transmigrasi. Karena warga transmigrasi bukan hina. Justru mempercepat pembangunan. Kita punya peran serta terhadap kemajuan suatu daerah,” tuturnya.

Warga transmigran harus mampu menunjukkan jati diri dan kemampuan. “Bahwasanya kita juga memiliki kualitas, kita bisa masuk ke semua ranah, apakah ke politik, pendidikan, pengajar, polisi, dan sebagainya.”

Wakil Bupati Kapuas Hulu, Antonius L Ain Pamero yang ikut menghadiri kegiatan, turut memotivasi warga transmigran. Dia meminta warga tidak malu dengan status transmigran. “Warga transmigran bisa ke semuanya. Kemana pun termasuk ke politik. Buktinya saya juga bisa,” kata Antonius.

Turut hadir pada peringatan HBT ke-69 Wakil Bupati Pekalongan, Arini Harimurti dan Bupati Pekalongan periode 2001-2006 dan 2011-2016 Antono. (rio)

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: