banner 468x60

Kepala BMKG Merepresentasikan Juru Keluarga Tangguh Bencana

  • Bagikan
BNPB menganugerahi gelar Juru Keluarga Tangguh Bencana (Juragan) kepada Kepala BMKG, Bupati Aceh Besar, dan Wali Nanggro Aceh. (Foto: BNPB).

ACEH BESAR, insidepontianak.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganugerahi gelar Juru Keluarga Tangguh Bencana (Juragan) kepada Kepala BMKG, Bupati Aceh Besar, dan Wali Nanggro Aceh.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali, serta Wali Nanggroe Aceh yang diwakili Teuku Kamaruzzaman dinilai merepresentasikan pihak yang berperan dalam membangun keuarga tangguh bencana.

Kepala BNPB, Doni Monardo menyematkan rompi Juragan kepada ketiga tokoh tersebut pada malam menjelang peluncuran program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) di Pasie Jantang, Aceh Besar, Sabtu (7/12/19) malam.

Doni menjelaskan, membumikan program Keluarga Tangguh Bencana membutuhkan peran semua pihak. Pemerintah, pakar-akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa memiliki peran untuk mempercepat terwujudnya keluarga tangguh bencana.

“Urusan bencana tidak bisa dibebankan pada satu unsur saja. Bencana adalah urusan bersama,” kata Doni yang menginap bersama para peserta program Katana di Pasie Jantang.

Menurut Doni, selama 5 tahun ke depan BNPB berharap program ini bisa menyentuh seluruh keluarga di Indonesia. “Program penanggulangan bencana juga akan menjadi kurikulum baru di sekolah. Sehingga nantinya penanggulangan bencana bisa paralel dari keluarga dan dunia pendidikan,” katanya.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia harus terus berproses meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami. “Dulu kita hanya mempunyai 2 sensor di wilayah Aceh dan setelah belajar dari peristiwa tsunami Aceh, kita menambah menjadi 13 sensor,” ujar Dwikorita yang pernah menjabat Rektor Universitas Gadjah Mada.

Menurut Dwikorita, dulu BMKG hanya memiliki 2 sensor untuk mendeteksi gempa di 6 juta kilometer wilayah Indonesia. Para petugas masih menggunakan alat sederhana seperti penggaris dan jangkar untuk membuat perhitungan titik episenter gempa. “Betapa ‘primitifnya’ kita melindungi masyarakat,” kata Dwikorita.

Empat tahun setelah tsunami Aceh tahun 2004, BMKG berbenah untuk meningkatkan dan membangun sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Saat ini ada 170 sensor gempa yang dipasang di seluruh wilayah Indonesia.

Sehubungan dengan program Katana, Dwikorita mengingatkan pentingnya membangun kesiapsiagaan bencana. Menurut dia, gempa tidak hanya dipicu oleh pergerakan lempeng tetapi juga pergerakan sesar di darat.

“Katana penting bagaimana kita menyiapkan sebelum kejadian gempa, apa yang harus disiapkan. Cek bangunan rumah kita apakah cukup kuat.”

Dalam beberapa kajian paleotsunami, kecepatan proses evakuasi menjadi kunci penyelamatan. Jika terasa goncangan gempa selama 10 detik, ini bisa menjadi peringatan untuk segera mengevakuasi keluarga.

Dwikorita mencontohkan tsunami Palu dengan karakter di luar kebiasaan. Saat itu, jeda antara terjadinya gempa kemudian disusul tsunami hanya 2 menit.

Dalam peluncuran program Katana, BNPB menghadirkan 2 keluarga penyintas bencana tsunami Aceh tahun 2004 sebagai contoh kasus. Satu keluarga tidak memiliki pengetahuan soal tsunami, sedangkan keluarga lain memiliki pengetahuan dan mampu merespon jika terjadi gempa dan tsunami.

Katana merupakan bagian dari Desa Tangguh Bencana (Destana) dengan sasaran  prioritas masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Program yang akan diimplementasikan pada tahun 2020 diharapkan mampu untuk meningkatkan keselamatan dan ketangguhan keluarga dalam menghadapi potensi bahaya.

Kunci Katana adalah keterlibatan multi pihak atau kemitraan lintas sektor. Katana bukan milik BNPB, tetapi program bersama baik di pemerintahan maupun pemangku kepentingan lain.

Komponen untuk membangun keluarga yang tangguh menyasar pada tahapan kesadaran risiko bencana, pengetahuan, serta keberdayaan. Keberdayaan memiliki makna setiap individu maupun kita sebagai anggota keluarga mampu menyelamatkan diri sendiri, keluarga, dan warga sekitar.

 

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: