Presiden: Buka Ruang untuk Industri Substitusi Impor

Presiden meminta agar ruang investasi bagi industri substitusi barang impor dibuka selebar-lebarnya. Industri seperti petrokimia yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri, termasuk salah satu di antaranya. (Foto: Kantor Sekretariat Presiden).
banner 468x60

JAKARTA, insidepontianak.com – Kebijakan perindustrian dan perdagangan Indonesia dalam beberapa waktu ke depan akan berfokus pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi. Sekaligus menekan defisit transaksi berjalan serta memperbesar surplus neraca perdagangan.

Dalam rapat terbatas percepatan implementasi program industri dan perdagangan, Presiden menyebut sejumlah langkah awal yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Muat Lebih

Presiden mengungkap data Badan Pusat Statistik yang menyebut impor sejumlah bahan baku pendukung industri yang berkontribusi besar pada defisit.

Impor bahan baku pendukung industri diketahui mencapai 74,06 persen dari total impor di bulan Januari hingga Oktober 2019. Sementara impor barang modal berada pada angka 16,65 persen diikuti dengan impor barang konsumsi mencapai 9,29 persen.

“Kalau kita lihat lebih dalam lagi jenis barang bahan baku yang masih besar angka impornya antara lain adalah besi baja yang mencapai USD8,6 miliar dan industri kimia organik atau petrokimia yang USD4,9 miliar, serta industri kimia dasar,” kata Presiden, Rabu (11/12/19).

Presiden meminta agar ruang investasi bagi industri substitusi barang impor dibuka selebar-lebarnya. Industri seperti petrokimia yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri, termasuk salah satu di antaranya.

“Harus ada langkah-langkah quick win yang betul-betul konkret untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan seperti industri besi baja dan industri petrokimia. Juga tak kalah pentingnya, percepatan mandatori biodiesel B30 dalam rangka menurunkan impor BBM kita,” ujarnya.

Presiden menekankan, tumbuhnya industri-industri pengolahan bahan baku pendukung tidak hanya bertujuan menghasilkan barang-barang substitusi impor. Berkembangnya industri-industri tersebut juga berarti penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak.

Adapun yang berkaitan dengan upaya peningkatan ekspor, Presiden juga menargetkan penyelesaian negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA), utamanya dengan negara-negara potensial.

Presiden menyebut bahwa tim negosiasi untuk penyelesaian perjanjian tersebut harus benar-benar kuat dan terus-menerus melakukan negosiasi sehingga peluang ekspor produk-produk dari negara kita terbuka lebar.

“Ini Menteri Perdagangan dan Menteri Luar Negeri kalau perlu tiap hari kejar terus untuk negara-negara potensial untuk mengekspor produk-produk kita yang kita belum memiliki perjanjian kemitraan,” kata Presiden.

Langkah awal tersebut tetap harus diiringi dengan perbaikan regulasi yang menghambat berbagai kinerja ekspor. Selain itu, kualitas produk-produk ekspor Indonesia juga dimintanya untuk dapat ditingkatkan baik dari sisi kemasan maupun promosinya.

“Untuk dalam negeri kita harus selesaikan beberapa pekerjaan rumah seperti memangkas berbagai regulasi yang menghambat berbagai kinerja ekspor, pembenahan akses pembiayaan ekspor, dan kemudian peningkatan kualitas produk ekspor baik dari sisi packaging, branding, dan lain-lainnya. Juga penyiapan kawasan industri yang berorientasi ekspor yang betul-betul terintegrasi.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *