banner 468x60

A Tribute to Sugeng Hendratno Diluncurkan di Canopy Center

  • Bagikan
Hermayani Putra, Koordinator kegiatan "A Tribute to Sugeng Hendratno" saat memberi keterangan pers di Canopy Center, Kamis (12/12/19). (Foto: insidepontianak.com).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sebuah acara bertajuk Atribute to Sugeng Hendratno diluncurkan di Canopy Center, Jalan Purnama II, Pontianak, Kamis (12/12/2019). Acara itu merupakan tiga hari rangkaian kegiatan yang berisi pameran foto, seminar fotografi dan lingkungan, dan launching buku fotografi karya fotografer senior Kalbar, Sugeng Hendratno.

Atribute to Sugeng Hendratno berawal pada penghujung Juli 2019, ketika sekumpulan fotografer, aktivis, jurnalis, art design dan anak-anak muda milenial, dalam suasana hati masih murung, berembug membuat sebuah pameran, seminar dan buku fotografi tentang alam, sosial dan budaya.

“Mereka baru saja mengantar jenazah seorang rekan, sahabat, dan guru, Sugeng Hendratno. Bagi para rekan yuniornya, dia biasa dipanggil Babeh,” kata Hermayani Putera, pemimpin kegiatan.

Selama lima bulan bertemu dan berhimpun, lahirlah sebuah pameran foto dan peluncuran buku berjudul Eksotik Borneo. A Tribute to Sugeng Hendratno bertujuan melanggengkan keragaman hayati, lingkungan, sosial dan budaya di wilayah Borneo atau Kalimantan, melalui foto-foto hasil bidikan Sugeng Hendratno.

“Mereka bekerja sesuai dengan keahlian dan ketrampilan masing-masing,” kata Herma.

Bagi para fotografer, mereka memilih dan memilah foto sesuai dengan tema dan kategori foto. Bagi para penulis dan jurnalis, mereka menulis dan menukilkan kisah yang berserak dari para rekan, menjadi sebuah cerita yang lebih enak dan asyik untuk dibaca. Bagi para aktivis, ada berbagai aktivitas fund rising dan beragam aktivitas lain dilakukan.

“Semua bekerja secara suka rela,” katanya lagi.

Tidak ada yang menetapkan angka. Ada kebahagiaan ketika bisa terlibat, ditengah kesibukan kerja dan aktivitas para anggota. Bagi mereka, Sugeng Hendratno, tapi juga sosok yang lekat dengan segala kebajikan. Tak heran bila, bekerja untuk melanggengkan karya-karya fotonya, adalah aktivitas yang tak perlu diucap hingga dua kali.

Sugeng Hendratno lahir di Pontianak 5 Juli 1964, meninggal pada 20 Juli 2019 di Pontianak. Selama lebih dari 24 tahun, dia berkeliling hutan, kampung dan pesisir Pulau Kalimantan. Memotret berbagai aktivitas manusia, flora dan fauna, dengan sudut pandang yang unik dan dalam. Tak sekedar memotret, namun menyelami dan memberikan makna tersendiri pada sesuatu yang dipotretnya.

Tak heran bila, karya-karya Sugeng Hendratno, memiliki suatu karakter tersendiri. Sebab, dia mampu membaca dan menyelami setiap detail dari apa yang sedang dan bakal dipotretnya. Dalam bidikan kameranya, sesuatu yang nampak kosong pada bentang alam, flora atau fauna, ia kekalkan menjadi sesuatu yang seolah bernyawa dan hidup. Seolah menampilkan sosok dan citra diri yang tak lekang oleh waktu.

Pameran A Tribute to Sugeng Hendratno bakal berlangsung dari 13-15 Desember 2019 di Canopy Center, jalan Purnama II, Pontianak. Acara bakal diisi dengan pameran foto, seminar fotografi, lelang foto dan launching buku Eksotik Borneo. Ada 144 foto karya Sugeng Hendratno bakal dipamerkan.

“Rangkaian kegiatan tiga hari tersebut, tidak dipungut biaya alias gratis,” ujar Herma.

Tanggal 13 Desember 2019, acara pembukaan pameran berlangsung pada pukul 15.00 WIb. Ada acara lauching buku dan lelang foto. Hari berikutnya, 14 Desember 2019, pukul 15.00 Wib diisi dengan workshop lingkungan dengan tema peran fotografi dalam pelestarian lingkungan oleh Albert Thjiu dari WWF Indonesia. Hari terakhir, 15 Desember 2019, pukul 15.00 Wib, seminar workshop fotografi dan bedah buku Eksotik Borneo oleh Dr Irwandi, Kepala Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta, seorang doktor pertama di Indonesia untuk fotografi.

Acara juga akan mengundang siswa sekolah, mahasiswa dan lembaga pendidikan lainnya di Kota Pontianak. Diharapkan, dengan cara itu bisa menumbuhkan semangat pemberdayaan, cinta pada alam dan lingkungan, seni serta budaya di Kalimantan Barat khususnya, dan Indonesia umumnya. (IP/01)

Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: