Potret Kalimantan dalam ‘Bingkai’ Sugeng Hendratno

Rangkaian kegiatan “A Tribute to Sugeng Hendratno”. Maestro fotografi lingkungan dan budaya Kalimantan. (Foto: insidepontianak.com).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Foto selalu punya jalan ceritanya sendiri. Bahasa gambar mengeja lebih banyak makna dibanding jutaan kata-kata.

Hal itu yang ingin ditampilkan oleh sekumpulan fotografer, aktivis, jurnalis, art design dan anak-anak muda milenial yang berkumpul mengenang maestro fotografi Kalimantan, Sugeng Hendratno.

Bacaan Lainnya

Selama 5 bulan mereka mengumpulkan materi karya foto bidikan Sugeng. Puncaknya, rangkai beberapa kegiatan: pameran foto dan peluncuran buku “Eksotik Borneo”, lelang foto, serta seminar lingkungan di Canopy Center Pontianak, Kamis (12/12/19), saat konferensi pers.

“Hasil karya foto Sugeng akan dilelang dan hasilnya akan kami serahkan ke pihak keluarga,” kata Hermayani Putera, Koordinator “A Tribute to Sugeng Hendratno”.

Semua yang terlibat menyumbang kemampuan dan keterampilan masing-masing. Para fotografer menyortir karya Sugeng yang memiliki kesan kuat dan makna tersendiri. Para jurnalis menulis kisah Sugeng untuk dibukukan atau disebar ke beberapa meja redaksi.

“Dengan pameran fotografi ini mampu memberikan informasi kepada masyarakat bahwa fotografi bisa menjadi alat pemberdayaan,” ujar Hermayani.

Sugeng Hendratno lahir di Pontianak, 5 Juli 1964 dan wafat 20 Juli 2019. Hermayani menceritakan kisah perjalanan Sugeng yang lebih dari 24 tahun mengembara di pulau Kalimantan, melihat kehidupan masyarakatnya melalui mata lensa.

“Dia menyisir pulau Kalimantan untuk memotret berbagai aktivitas manusia. Dia juga memberi makna dari apa yang ia foto selama menjelajah pulau Kalimantan.”

Borneo yang Eksotik

Ada 3 tonggak pancang yang dapat dilihat dari jepretan foto-foto karya Sugeng Hendratno: Manusia, budaya dan lingkungan. Tiga hal itu selalu berjalan saling mengekalkan dan mengikat.

Sugeng Hendratno memiliki kesadaran diri bahwa, selama bumi dihuni oleh manusia, selama itu pula obyek foto tentang manusia dengan segala kehidupannya, menarik untuk diabadikan.

Tak sekedar itu, dia memberi sentuhan dan nafas pada seluruh hasil fotonya. Berupa pesan pada manusia yang dipotretnya. Ada kegelisahan ketika watak dasar manusia yang cenderung eksploitatif itu diumbar. Bakal membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia lainnya atau generasi masa depan.

Sifat manusia yang serakah dan eksploitatif itu terekam dalam foto penggalian emas yang membelah isi bumi. Perkebunan monokultur atau sawit yang merusak dan menghancurkan hutan hujan tropis Kalimantan. Dia gambarkan dengan dingin aktivitas itu melalui lensa kameranya. Ada kerusakan yang menyeruak.

Kerusakan alam berimbas pada penghuni yang lain, satwa dan tumbuhan. Beragam satwa endemik Kalimantan, harus hengkang dan terusir dari habitatnya.

Orangutan, burung enggang, bekantan, buah-buahan, anggrek hitam, beragam jamur, dan plasma nutfah lainnya, dengan cepat hilang dari bumi Khatulistiwa.

Foto anggrek hitam Kalimantan (Coelogyne pandurata). Foto itu memancarkan aura pengabdian dan kesetiaan, pada hutan yang kian hilang dan sirna. Begitu pun dengan jamur. Foto-foto itu menampilkan sosok jamur yang tumbuh di dunia rentan dan terasing. Jamur menampilkan sosok futuristik, jujur dan kontemplatif. Penuh cahaya dan misteri.

Atau foto buah-buahan. Foto itu seolah hadir dan tulus memberi hidup. Begitulah gambaran buah-buahan yang selalu terlihat ranum, elok, dan segar. Seakan memberi jawab pada kebutuhan makluk hidup lain. Akulah dewa penolong pada setiap jeda permintaanmu.

Degradasi hutan membuat mamalia kian tersingkir. Burung tak lagi leluasa mengepakkan sayap, karena rimba semakin sempit dan menghilang. Air tak lagi lembut dan sahdu, karena pestisida semakin membuat riak.

Ancaman nyata itu tergambar dengan jelas. Pendekatan teknis yang baik dan sudut pandang yang unik serta menarik dalam foto-foto Sugeng Hendratno.

Sebagai pelukis, dunia seni dan budaya tak terpisahkan dari Sugeng Hendratno. Ada beragam aktraksi budaya yang dia potret dengan pendekatan personal. Kemeriahan dan keragaman kostum bersanding dengan mantra dan religi. Menghadirkan imaji yang takkan pernah kosong oleh isi.

Rumah Betang Ensaid Panjang

Rumah Betang Ensaid Panjang di Kabupaten Sintang, merupakan satu tempat istimewa bagi Sugeng Hendratno. Dia diterima dengan tangan terbuka oleh penghuni komunitas Dayak desa tersebut. Bahkan, ketika Sugeng datang ke Ensaid Panjang, satu kamar khusus disediakan untuknya.

Tak heran jika Sugeng Hendratno mendapat ruang ekslusif memotret berbagai aktivitas warga dari sudut pandang yang sangat personal. Keseharian warga, berocok tanam, acara adat, hingga siklus kehidupan manusia: lahir dan meninggal. Semua diabadikannya menggunakan pendekatan “orang dalam”. Dia lebur dalam komunitas. Memahami sekaligus berempati pada apa yang dipotretnya.

Apa yang dipotretnya menggambarkan bahasa dan dialog warga rumah betang Ensaid Panjang.

Foto-foto interaksi seorang ayah dan anak di rumah betang menggambarkan kegembiraan dan hubungan batin yang hangat. Begitu juga foto seorang ibu yang menggendong anaknya mandi di sungai. Kedekatan itu dihadirkan dengan bahasa fotografi yang tak hanya enak dilihat dan dinikmati, tapi juga ada bahasa kasih sayang.

Begitu pun ketika berlangsung acara gawai. Tak hanya kegembiraan yang terlihat, juga beragam simbol dan ritual yang dilaksanakan. Bahkan dalam foto merias diri, Sugeng menunjukan kedekatan dan interaksi tak berbatas, antara obyek dan sang fotografer.

Tidak heran, saat mendengar kabar Sugeng Hendratno sakit, segenap penghuni rumah betang memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Bagi mereka Sugeng sudah menjelma menjadi kerabat dekat. (Khairussalam & Muhlis).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *