Cinta Sugeng ‘Babe’ Hendratno untuk Alam Kalimantan

Kota Pontianak
SEMINAR - Pameran foto dan seminar “Peran Fotografi dalam Konservasi” mengenang Sugeng Hendratno di Kota Pontianak, Sabtu (14/12/2019). (Foto: insidepontianak.com).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Banyak cerita menarik muncul saat seminar “Peran Fotografi dalam Konservasi” mengenang Sugeng Hendratno, biasa dipanggil babe. Termasuk cerita dari keluarga dan orang-orang dekat.

Tidak seperti ayahnya, Ageng, putra Sugeng Hendratno mengaku jarang berinteraksi dengan foto. Jikapun ikut hunting foto, Ageng biasanya hanya bertugas menjadi porter yang menenteng lensa-lensa dan kamera.

Bacaan Lainnya

Dalam ingatan Ageng, babe banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk berburu gambar. “Kalaupun pulang, tak bisa dipisahkan dari foto. Semak di samping rumah jadi objek motret-motret,” ujar Ageng mengenang ayahnya.

Bahkan ketika sedang sakit dan tidak bisa pergi ke mana-mana, “Babe” -begitu Sugeng sering dipanggil oleh para murid-murid kelas fotografinya- mencari lensa tele agar tetap bisa mengambil gambar tanpa beranjak dari ranjang.

Hasrat Sugeng Hendratno pada fotografi sangat kuat. Dia konsisten menekuni profesi itu bahkan lebih besar dibandingkan kesempatannya untuk tinggal bersama keluarga.

“Saat saya selesai sekolah, malah diajak ke perbatasan di Malaysia. Bawa kamera dengan banyak lensa dan tidak bawa baju,” kata Ageng menceritakan totalitas sang ayah.

Selama 2 hari 3 malam mereka masuk hutan dekat perbatasan memotret anggrek. Ageng bahkan sempat ditinggal sendirian di camp dari pukul 5 pagi hingga 1 siang. “Beliau rela bangun pagi dan ninggalin anaknya sendirian di Camp tengah hutan, demi mendapatkan foto-foto bagus,” cerita Ageng yang disambut dengan tawa para peserta seminar.

Ranti istri Sugeng berbagi kenangan yang sama bagaimana suaminya jarang di rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu berburu foto. “Beliau lebih banyak jauh dari keluarga, karena itu kualitas waktu harus kami manfaatkan dengan baik saat bersama.”

Bagi Ranti, Sugeng suami yang hangat, ramah dan penuh perhatian. Pergaulannya sangat luas dari orang biasa sampai para pejabat dan orang berpengaruh. “Kadang kalau jalan itu ada yang sapa, beliau selalu balas sapa. Begitu duduk, dia bingung siapa orang itu. Beliau orang yang hangat dengan siapa saja,” kata Ranti.

Victor Videlis Sentosa, fotografer muda yang dikenal dekat dengan Sugeng Hendratno bercerita, bahwa apa yang dilakukan kawan-kawan saat ini persis seperti keinginan mendiang. “Pameran foto merupakan keinginan Babe,” tutur Victor.

Sugeng Hendratno lahir di Pontianak, 5 Juli 1964 dan wafat 20 Juli 2019. Puluhan tahun dia berkeliling Kalimantan sehingga apa saja pernah dipotretnya.

Bagi Sugeng ‘babe’ Hendratno, Kalimantan punya potensi sehingga harus dilestarikan agar tidak punah.(IP/01)

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *