PPATK Sebut Penyelundupan Benih Lobster Rp900 Miliar

PPATK mengungkapkan aliran dana penyelundupan benih lobster ke luar negeri mencapai Rp300 miliar-Rp900 miliar per tahun. (Foto: CNNIndonesia).
banner 468x60

JAKARTA, insidepontianak.com – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan aliran dana penyelundupan benih ke luar negeri mencapai Rp300 miliar-Rp900 miliar per tahun. Dana tersebut digunakan mendanai pengepul dalam negeri dan membeli benih tangkapan nelayan lokal.

Kepala PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin menyatakan dana tersebut berasal dari bandar yang ada di luar negeri lalu dialirkan ke berbagai pengepul di Indonesia. Tak hanya penyelundupan benih lobster juga terindikasi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Muat Lebih

“Jadi banyak pihak yang terlibat, termasuk pihak eksportir dan importir yang menggunakan penyamaran untuk menerima pembayaran itu,” kata Kiagus, Jumat (13/12/19).

Dia menuturkan, penyelundupan benih lobster melibatkan sindikat internasional. Modusnya, mereka menggunakan rekening pihak ketiga seperti toko mainan, perusahaan garmen, dan eksportir ikan untuk menampung dana tersebut.

“Penyelundupan benih lobster menimbulkan kerugian negara yang signifikan dan mengurangi penerimaan negara,” ujar Kiagus seperti ditulis CNNIndonesia.

Selain dampak materiil, penyelundupan benih lobster mengeksploitasi sumber daya kelautan dan perikanan. Dalam jangka panjang, kejahatan ini berimbas pada penurunan jumlah ekspor lobster Indonesia dan mengancam kelestarian sumber daya lobster.

Untuk diketahui, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo memberi sinyal akan membuka kembali kebijakan ekspor benih lobster. Ekspor benih lobster, pernah dilarang menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti.

Edhy mempertimbangkan melegalkan ekspor benih lobster dengan kuota terbatas. Alasannya ekspor benih lobster masih terjadi secara gelap. KKP tengah mempertimbangkan membuka kembali akses ekspor benih lobster yang sebelumnya ditutup.

Ekspor Benih Lobster, Susi Pudjiastuti: Astagfirullah

Menanggapi sinyal Kementerian KKP akan membuka kembali ekspor benih lobster, Susi menegaskan kebijakan ekspor lobster merupakan langkah keliru. Negara yang berhasil tidak akan dengan mudah menjual bibit lobster kepada negara lain.

Selain itu, menurut Susi, benih lobster seharusnya dibiarkan berkembang biak secara alami di Indonesia. Kebijakan untuk mengekspor benih ke Vietnam hanya akan mengganggu komoditas laut.

“Belajar baru omong! Lobster belum bisa di-breeding in house. Semua bibit alam. Vietnam/ budidaya hanya membesarkan. Hanya dari Indonesia mereka bisa dapat, lewat Singapura atau yang langsung. Negara lain yang punya bibit tidak mau jual bibitnya. Kecuali kita, karena bodoh,” kata Susi, Jumat (13/12/19) melalui akun media sosialnya.

Susi mengatakan lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah hanya karena ketamakan menjual bibit. Bahkan, kata dia, ada yang menjual bibit dengan harga tidak sampai satu per seratus dari harga pasaran di luar negeri.
“Astagfirullah, karunia Tuhan tidak boleh kita kufur akan nikmat dari-Nya,” kata Susi.

Menurut dia, satu ekor bibit lobster mutiara dijual seharga Rp 100 ribu sampai maksimal Rp 200 ribu. Kalau sudah besar satu ekor harganya bisa mencapai Rp 5 juta per kilogram. Dengan begitu ada nilai keuntungan berkali lipat.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menyatakan ada kemungkinan pemerintah bakal membuka kembali keran ekspor benih lobster dengan kuota. Kebijakan itu diambil untuk meningkatkan nilai tambah budidaya lobster di level petambak.

“Kenapa nggak ambil langkah izinkan budidaya, kita berikan (izin) ekspor (benih lobster) dengan kuota,” kata Edhy dalam rapat kerja nasional KKP di Jakarta beberapa hari lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *