Sugeng Hendratno Fotografer Konservasi

Kota Pontianak
SEMINAR - Seminar “Peran Fotografi dalam Konservasi” mengenang Sugeng Hendratno di Canopy Center, Sabtu (14/12/2019). (Foto: insidepontianak.com)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Program Manajer Kawasan Lindung, WWF Indonesia, Kalimantan Barat, Albertus Tjiu berbagi cerita soal Sugeng Hendratno. Melihat Sugeng sebagai fotografer konservasi.

Menurut Albert dalam seminar “Peran Fotografi dalam Konservasi” Sugeng Hendratno orang baik dengan pikiran baik. Hal itu yang membuat Sugeng layak dikenang sebagai fotografer konservasi.

Bacaan Lainnya

“Orang baik dengan pikiran baik itu akan dikenang. Saya lihat itu dalam diri Sugeng Hendratno,” kata Albert saat menjadi pembicara seminar, Sabtu (14/12/19).

Menurut Albert, dalam konteks fotografi Sugeng pernah bekerja sebagai seniman lukis. Sugeng belajar melukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) hingga kemudian memutuskan drop out. “Apa yang ada di dirinya lebih dari sekedar di ASRI,” kata Albert.

Dari seni lukis, Sugeng beralih ke media foto yang dianggapnya bisa lebih cepat menerjemahkan ide visual. Kemudian jatuh cinta pada objek budaya dan alam Kalimantan, hingga memberi perhatian pada konservasi Badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur menjelang akhir hidupnya.

“Hingga meninggal Sugeng Hendratno mendedikasikan hidup untuk badak Sumatera yang ada di Kutai Barat, Kaltim,” kata Albert.

Kiprah Sugeng pada dunia fotografi lingkungan antara lain, menjadi trainer Panda Click! Program WWF itu melahirkan 256 siswa fotografi yang di desa-desa di Kalimantan. Kelas ini menghasilkan 408.896 frame foto yang semuanya bercerita soal masyarakat desa dan lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

Albert mengenang, Sugeng punya trik khusus mendekati objek foto sehingga karya yang dihasilkan begitu hidup dan bercerita. “Sugeng Hendratno selalu mengadakan riset, ngobrol dengan orang yang bakal dipotret. Dia memperlihatkan foto-foto, sehingga orang mau terbuka dan bicara,” cerita Albert.

Kelihaian Sugeng “merayu” para calon objek fotonya bahkan pernah menyebabkan 10 pemburu liar secara sukarela melepas kembali trenggiling yang ditangkap. “Sugeng memberikan peran dengan cara yang dia lakukan. Sehingga orang mau ikut serta dalam peran melindungi species langka,” ujar Albert.

Ketua Adat Ensaid Panjang, Bintang bercerita, Sugeng mudah akrab dengan orang-orang yang baru ditemui. “Sugeng bawa manik-manik, kacamata, dan lainnya saat datang ke Ensaid Panjang. Saat mau dibayar, Sugeng tidak mau,” kenang Bintang.

Kedekatan itu yang membuat Sugeng Hendratno punya tempat istimewa di hati masyarakat adat penghuni rumah betang Ensaid Panjang. Bilik Semoi yang biasa ditempati tamu selalui tersedia baginya pada setiap kunjungan. (IP/01)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *