Buku Sugeng Hendratno ‘Eksotik Borneo’ Kesaksian Seorang Fotografer

Diskusi dan pameran foto “A Tribute to Sugeng Hendratno” di Canopy Center, Kota Pontianak. (Foto: insidepontianak.com).
banner 468x60

PONTIANAK, insidepontianak.com – Karya Sugeng Hendratno layak dijadikan teladan produk fotografi bagi para generasi muda. Sugeng menghabiskan waktu 24 tahun berkeliling Kalimantan, berburu foto beragam adat tradisi masyarakat dan kekayaan alam.

Hal itu diungkapkan Ketua Jurusan Fotografi, Fakultas Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Irwandi, yang diundang menjadi pembicara pameran foto “A Tribute to Sugeng Hendratno”.

Bacaan Lainnya

Bagi Irwandi, karya-karya Sugeng memiliki ketrampilan visual yang mumpuni. “Sudah melampaui dari sekedar foto bagus. Isinya sangat terlihat. Foto sebagai bahasa literasi,” kata Irwandi, Minggu (15/12/19).

Menurut Irwandi diperlukan kompetensi untuk menulis dan membaca fotografi secara visual. Sugeng berhasil memunculkan pesan yang sengaja ditampilkan pada pameran fotonya.

“Sugeng layak menjadi teladan bagi generasi muda jika bicara masalah fotografi,” ujar Irwandi.

Senada dengan Irwandi, Antropolog Universitas Tanjungpura, Prof Syamsuni Arman menilai karya-karya Sugeng adalah fotografi yang bercerita. Dia mengambil contoh foto Danau Pangelang di Kampung Puring.

Danau kecil sepanjang 5 kilometer dan lebar 500 meter itu adalah danau lindung habitat ikan arwana merah. Di dekatnya ada perkampungan orang Iban.

Sugeng mengambil gambar tiang pancang yang menunjukan bahwa di danau itu hidup ikan arwana merah yang dilindungi. “Fotografi adalah kisah. Dari tiang pancang itu muncul cerita bahwa ada danau lindung di sana,” ujar Prof Syamsuni.

Pada rangkaian pameran foto “A Tribute to Sugeng Hendratno” hari ini, diputar juga film tentang rumah betang Ensaid Panjang, karya videografer Denny Sofyan.

Film ini pemenang film dokumenter Balai Kajian Sejarah se-Indonesia. Deni menyerahkan sebagain uang hadiah lomba film dokumenter itu untuk warga Ensaid Panjang.

Sugeng salah satu orang yang mempengaruhi perjalanan fotografi Denny Sofyan. Sugeng selalu mendorong Denny untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi film dan foto.

“Dia selalu mengajarkan saya untuk fokus ketika menggarap objek foto. Sugeng bilang, video dibatasi durasi. Sementara foto tidak dibatasi oleh durasi.”

Hermayani Putera, ketua panitia acara “A Tribute to Sugeng Hendratno” menilai Sugeng memiliki rasa kemanusiaan yang komplit. “Kita sudah meletakan sebuah batu bagi kawan-kawan yang memutuskan diri untuk seni. Mari kita berkarya,” kata Hermayani.

“Saya kira kita semua punya tafsir (atas karya Sugeng Hendratno). Buku ini menjadi rekaman dan kesaksian dari seorang fotografer.”

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *